Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in
Yayasan Orbit adalah Organisasi Non Pemerintah yang berdiri pada Juli tahun 2005.
Pembentukan organisasi berdasar atas kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Yayasan Orbit digawangi oleh para aktivis NAPZA dan HIV – AIDS yang berasal dari komunitas Korban Napza di Surabaya – Jawa timur dengan orientasi pada program pemberdayaan masyarakat.

Orbit Update News

Efek Mengerikan Pil PCC: Bikin Nge-fly, Halusinasi hingga Tewas

Niken Purnamasari - detikNewsEfek Mengerikan Pil PCC: Bikin Nge-fly, Halusinasi hingga Tewas
 Foto: Siti Harlina/detikcdom


Jakarta - Penggunaan obat PCC (paracetamol, caffeine, dan carisoprodol) membuat heboh warga Kendari. Beberapa penggunanya ada yang berhalusinasi, lari ke laut hingga tenggelam. Obat itu juga telah merenggut nyawa sejumlah orang. Seberapa mengerikannya obat PCC?

Seperti kejadian yang dialami seorang siswa SD berinisial R asal Kendari yang tewas akibat overdosis PCC. Bocah itu juga mencampur PCC dengan Somadril dan Tramadol.
Efek mengerikan dari PCC juga dialami Riski (20), warga Kendari, Sulawesi Tenggara. Ayah Riski, Rauf, mengatakan anaknya diketahui mengonsumsi obat bersama adiknya. Awalnya Riski berhalusinasi hingga melompat ke got depan rumah.

"Anak saya meminum obat mumbul yang dicampur dengan pil PCC, awalnya melompat ke got depan rumah. Adiknya berhasil diselamatkan, namun kakaknya bernama Riski berlari ke arah laut dan menceburkan dirinya," terang Rauf.
Korban kakak-adik ini merasa kepanasan, efek dari obat yang dikonsumsinya. Sang kakak berlari ke arah laut dan menceburkan diri. Sayangnya, ia tenggelam dan ditemukan sudah tidak bernyawa.

Dari keterangan Menteri Kesehatan Nila Moeloek, obat PCC dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan. Data Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara mengatakan saat ini sudah terdapat 60 korban penyalahgunaan obat PCC yang dirawat di tiga RS. Korban dirawat di RSJ Kendari (46 orang), RS Kota Kendari (9 orang), dan RS Provinsi Bahteramas (5 orang).

"Pasien yang dirawat berusia antara 15-22 tahun mengalami gangguan kepribadian dan gangguan disorientasi, sebagian datang dalam kondisi delirium setelah menggunakan obat berbentuk tablet berwarna putih bertulisan 'PCC' dengan kandungan obat belum diketahui," ujar Menkes dalam siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (14/9/2017).

dr Hari Nugroho dari Institute Of Mental Health Addiction and Neurosience (IMAN) mengatakan obat PCC sebenarnya merupakan obat yang bersifat relaksan atau yang berfungsi untuk melemahkan otot-otot kejang. Jika dikonsumsi berbutir-butir, efek yang ditimbulkan adalah perasaan 'fly'.

"Kalau dicoba oleh anak-anak, risiko terjadinya keracunan akan lebih besar," ujar Hari.

PCC sendiri termasuk obat keras. Obat tersebut tidak bisa dikonsumsi sembarangan dan harus dengan izin dokter. Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari mengatakan PCC digunakan sebagai penghilang rasa sakit dan obat sakit jantung.
Selain itu, Arman menegaskan PCC berbeda dengan Flakka, meski efeknya disebut-sebut hampir mirip, yakni membuat pemakainya berhalusinasi.

"Menurut literatur yang kami peroleh memang kandungan obat ini sementara ini bukan merupakan narkotik dan juga bukan yang sekarang ini tersebar di tengah masyarakat adalah jenis Flakka, bukan," ujarnya.
(nkn/elz)

https://news.detik.com/berita/d-3644113/efek-mengerikan-pil-pcc-bikin-nge-fly-halusinasi-hingga-tewas 

KORBAN

IA tak punya orang tua, tapi wawasannya luas, sanggup melihat yang orang luput atau tak sanggup melihatnya. Konco-konconya salut, misalnya, ke mereka yang ngaku senasib dengan kaum muslim di Rohingya, Myanmar. Ia tak serta-merta.

’’ Tunggu dulu!” sergahnya hampir senja di bawah pohon ketapang. ’’Kok saya masih melihat mereka tertawa, makan-makan di mal, cekikikan di tempat wisata... Padahal sebelumnya orang-orang itu ngaku senasib ma orang-orang yang ditembaki di Rohingya. Jadi, apa definisi senasib?”

’’Maksudmu senasib dengan korban di sana?”

’’Hmmm... Bukan ’korban’. Nanti dikira mereka seperti sapi atau kambing di sini yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. ’Korban’ kan akar katanya ’qurb’. Maknanya sekitar mendekatkan diri. Saha- bat dekat kan disebut ’karib’, ya dari ’qurb’ itu... ”

Lagi-lagi karib-karibnya pada melongo. Ternyata ’’korban” bukan kayak ’’ victim” dalam bahasa Inggris. ’’Pantesan sering dibilang, cinta perlu pengorbanan,” bisik Sastro ke Jendro alias Jendrowati, kekasihnya. Jendro balas membisik di pohon randu, ’’Setuju. Cinta perlu pengorbanan. Perlu pendekatan.”

’’Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itu cintamu mulai pudar!!!” jerit seseorang dalam suatu pemanggungan #TaliJiwo, semacam puisi. ’’Setetes pun aku tak merasa berkorban ketika menembus hujan dan badai menuju rumahnya, karena aku mencintainya penuh seluruh.” Ooooooh ... Di bawah rembulan pantai selatan itu Jendro melongo. Sastro menenangkan, ’’Mungkin seniman ini cuma memanfaatkan saja pengertian ’korban’ yang masih beredar luas dan salah kaprah di masyarakat.”

Esoknya Sastro-Jendro kembali bertemu Si Wawasan Luas. Soal ’korban’ tak mereka singgung lagi. Obrolan di warung kopi itu langsung ke soal definisi ’’senasib”.
 
 ’’Kalau yang ditembaki di Rohingya istri, mungkin kita tidak tertawa-tawa. Itu namanya senasib- sepenanggungan. Senasib saja, beda makna. Kita bisa bilang senasib dengan yang ditembaki di Rohingya, habis itu ketawa-tawa di nikahannya Raisa,” Satro dan Jendro timpaltimpalan.


BUDIONO/JAWA POS
 
Si Wawasan Luas menarik kepalanya ke belakang, bibirnya mencibir. ’’Belum tentu ketawa mereka berarti lena dan bahagia,” gumamnya. ’’Siapa tahu didalam tawa mereka di mal, di tempat wisata, dan lain-lain itu terkandung tangis juga. Semar kalau tertawa kan juga begitu. Di dalam tawanya sekaligus terkandung air matanya yang paling bening.” Saking jembarnya pandangan Si Wawasan Luas ini semua secara aklamatif memilihnya sebagai sutradara untuk pementasan drama pendek. Judulnya Antara Ronaldo dan Aung San Suu Kyi.

Dalam naskah yang ditulis Sastro Jendro ditekankan bahwa atas kasus di negerinya yaitu Rohingya, Aung San Suu Kyi dianggap sudah tak main perdamaian lagi. Nobel Perdamaian yang disandangnya harus ia kembalikan. Apakah Ronaldo juga harus mengembalikan piala-pialanya termasuk FIFA Ballon d’Or bila sudah tak main bola lagi?

Si Wawasan Luas oke. Syaratnya, selama latihan pemain tak boleh absen. Pada latihan ke17 pemeran kekasih Ronaldo absen sekali. Bolosnya karena kesiangan. Semalam insomnia gegara suntuk memikirkan duluan mana, telor apa ayam. DPR yang tak punya orang tua mungkin membubarkan KPK yang juga tak punya orang tua, atau KPK mungkin nangkepin orang-orang DPR yang mungkin akan membubarkannya. Sutradara memecatnya!

Sastro-Jendro mbatin, ’’Wawasanmu tak luas lagi. Kamu sanggup melihat yang tak kami lihat? Tidak! Orang tua pemain ini sudah beli tiket pesawat PP Aceh-Jogja untuk pergelaran 28 Oktober mendatang. Itu ngutang. Mestinya tanya dulu kami apakah pemain ini punya orang tua?” (*)


Jawa Pos

Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.net


KERJA BERSAMA UNTUK PERUBAHAN PEREMPUAN DAN ANAK INDONESIA


Surabaya (M.Sindoraya) – Rangkaian kegiatan Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Tahun 2017 dengan tema “Sinergi untuk Perubahan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) hari ini kembali dilakukan. Kemarin, usai mengikuti kegiatan sesi inspirasi, yaitu penyampaian pengalaman dan kisah keberhasilan dalam upaya mendukung pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Indonesia, para peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, yakni lembaga masyarakat, organisasi keagamaan, akademisi, lembaga profesi, dunia usaha dan media dari seluruh provinsi di Indonesia hari ini diajak untuk mengikuti kegiatan kunjungan lapangan dan sesi pasar ide.

“Seluruh rangkaian kegiatan PUSPA 2017, mulai dari sesi inspirasi, kunjungan lapangan, pasar ide, hingga konferensi merupakan upaya Kemen PPPA untuk menyediakan arena pertukaran pengetahuan dan pengalaman; menyediakan arena dialog antara pemerintah dan masyarakat; serta memperkuat sinergi, kolaborasi, dan kemitraan antar elemen masyarakat untuk memperkuat gerakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak menuju perempuan dan anak Indonesia yang sejahtera. Kami sadar kompleksitas permasalahan perempuan dan anak di Indonesia tidak mungkin diatasi oleh pemerintah saja. Diperlukan sinergi, koordinasi, dan kerja bersama untuk menciptakan perubahan yang lebih nyata dan cepat dengan beberapa prinsip, yaitu mau berbagi, semua penting, tidak saling menyalahkan, transparan, dan ikhlas,” tutur Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kemen PPPA, Erni Agustina di Kota Surabaya, Selasa (29/8).

Sejumlah titik yang hari ini menjadi lokasi kunjungan lapangan kegiatan PUSPA 2017, yakni (1) Yayasan Hotline Surabaya; (2) SLB Agca Center; (3) Kampung Lawas Maspati; (4) Wardhana; (5) Kampung Literasi; (6) Sanggar Anak Isco; (7) Kampung Kue; (8) Dolly Saiki; (9) Sanggar Alang-Alang, dan (10) Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS). Pada kunjungan lapangan ini, peserta melihat langsung praktek-praktek cerdas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di sekitar Kota Surabaya. Proses ini diharapkan menjadi ajang saling belajar dan memperkaya wawasan, baik bagi tuan rumah maupun peserta.

Sementara itu dalam sesi pasar ide dihasilkan 179 Inisiasi; 6 inspirator terpilih dari berbagai Provinsi yaitu Jawa Timur, Aceh, Kalimantan Timur, Maluku dan Banten; 50 gagasan; 439 transaksi.

Temu Nasional PUSPA 2017 yang berlangsung pada 27 – 29 Agustus 2017 di Surabaya, Jawa Timur ini menghasilkan beberapa rekomendasi, yakni :
  1. Melakukan replikasi dan implementasi dari berbagai kisah/cerita keberhasilan lembaga masyarakat di daerah dalam rangka membangun Sinergi.
  2. Membangun Mekanisme Komunikasi antara Lembaga Masyarakat dengan Dinas PPPA di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.
  3. Mendorong lahirnya berbagai regulasi di daerah dalam melindungi hak perempuan dan anak Indonesia yang mengacu pada Pancasila, UUD 45 dan peraturan perundangan yang berlaku.
  4. Perlu peningkatan kerjasama yang optimal dan harmonis antar kementerian dalam peningkatan partisipasi publik untuk kesejahteraan perempuan dan anak.
  5. Perlu adanya Databsae lembaga masyarakat dalam membangun komunikasi, informasi dan kemitraan.
  6. Perlu aktualisasi potensi perempuan secara profesional tanpa membedakan ras, agama, suku, budaya dan golongan untuk tercapainya perempuan mandiri, berkualitas dan bermartabat serta sejahtera.
  7. Berkomitmen membangun sinergitas dengan memegang prinsip-prinsip sinergi, yaitu: mau berbagi, semua penting, tidak saling menyalahkan, transparan dan ikhlas.
http://www.mediasindoraya.com/2017/08/30/kerja-bersama-untuk-perubahan-perempuan-dan-anak-indonesia/

Kunjungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di RSOS


Kunjungan dari pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) ke Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS- Selasa,29/8). Kunjungan dilakukan dengan sesi tanya jawab dengan konselor adiksi seputar napza yang menjaring kaum anak dibawah umur. Kegiatan dilanjutkan dengan berkeliling rumah untuk meninjau sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sehat Orbit Surabaya, serta melihat kegiatan yang dijalani oleh klien. 

Kunjungan dilanjutkan dengan mengadakan sesi oleh Kemen PPPA bersama klien dengan agenda sharing mengenai pengalaman dan berbagi kisah-kisah inspiratif. 

Kemen PPPA juga mengapresiasi perkembangan klien melalui kreasi yang dihasilkan melalui barang bekas seperti dari koran bekas, bungkus rokok, dan sebagainya. Meskipun masih tergolong sederhana namun hal tersebut perlu mendapat apresiasi serta dukungan dari semua pihak. 

Kemen PPPA juga memotivasi klien untuk terus mengembangkan kreatifitas yang dimiliki, kalau bisa menjadi salah satu sumber perekonomian nantinya melalui kerajinan-kerajinan yang dihasilkannya.

Sumber: Yayasan Orbit Surabaya

Kisah Anak Perempuan ex Pecandu Narkoba: Uang SPP pun Buat Beli Sabu


LEPAS DARI LEMBAH HITAM: Putri tengah membaca. Dia seorang perempuan muda yang inspiratif. Sempat menjadi pecandu dan kurir narkoba, dia kini menjadi aktivis antinarkoba yang gigih.

(Arya Dhitya/Jawa Pos/JawaPos.com)

 

 

Fenomena anak atau perempuan pecandu mirip fenomena gunung es. Mereka tergolong silent population. Sebab, kalau mengaku, mereka mendapat stigma dobel dari masyarakat. Wis wedok, nyabu.

 FAJRIN MARHAENDRA BAKTI, Surabaya


KONDISI Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS) terasa lengang Jumat sore (25/8). Praktis, tidak ada kegiatan yang berarti. Beberapa pemuda terlihat bercengkerama dengan keluarganya. Para pemuda itu adalah pecandu narkoba yang sedang mengikuti rehabilitasi medis atau sosial di RSOS.
Saat ini ada 12 orang yang mengikuti program rehabilitasi di RSOS. Semua masih muda. Bahkan
sangat muda.

Termasuk Putri (bukan nama sebenarnya). Dia berusia 15 tahun. Masuk kategori di bawah umur. Dia
baru saja dinyatakan lulus dari proses rehabilitasi medis dan sosial di RSOS. Sejak kelas VI hidup Putri memang tidak jauh-jauh dari narkoba. Padahal, dari sisi ekonomi, keluarganya termasuk biasa-biasa saja.

Bapak dan ibunya, Yaser Arafat dan Yuli Fitria, bercerai ketika Putri masuk umur sepuluh tahun. Saat dia masih polos-polosnya. Bahkan, dia tidak tahu alasan kenapa ayah dan ibunya berpisah. Dia hanya ingat saat itu hubungan ayah dan ibunya tidak harmonis. ’’Setiap hari selalu bertengkar. Saya juga tidak tahu alasannya kenapa,’’ ujarnya dengan nada polos.
Kondisi tersebut membuatnya trauma. Broken home. Dia tidak tahu ke mana harus menceritakan kisah-kisah masa kecilnya yang penuh keceriaan. Ditambah lagi, orang tuanya tidak ada yang mau mengurusnya.

Bapak dan ibunya menikah lagi. Hidup sendiri-sendiri di tempat yang dia tidak tahu. Yang dia tahu, ayahnya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ibunya malah tidak jelas. Dia tidak pernah mendengar kabar tentang orang yang melahirkannya itu. ’’Sampai saat ini saya ndak pernah dipamiti atau dijenguk,’’ katanya.

Putri diasuh sang nenek. Sehari-hari nenek itulah yang mengingatkan Putri untuk sekolah, mengaji, dan beribadah. Namun, perhatian neneknya terbatas. Meski sudah sepuh, neneknya masih sibuk berjualan sayur di pasar senggol Kapas Baru. Dia berjualan mulai dini hari hingga tengah hari. ’’Itu yang buat bosen di rumah. Tidak ada yang bisa diajak ngobrol,’’ ungkap perempuan yang hobi berenang tersebut.

Putri bingung ke mana harus mencurahkan isi hatinya. Dia galau berkepanjangan. Pada saat bersamaan, teman-temannya hadir. Menampung segala keluh kesahnya. Sifatnya yang tomboi membuatnya lebih senang bergaul dengan laki-laki yang tampaknya bukan dari kalangan baik-baik.
Pergaulan itu menjadi jembatan awal Putri untuk mulai berani mencoba berbagai hal negatif. Termasuk narkoba. Dara yang menato namanya di bawah leher itu masih ingat betul bagaimana awal dirinya terjerumus ke dalam dunia gelap narkoba. ’’Saat itu sekitar seminggu sebelum ujian akhir sekolah untuk penentuan kelulusan,’’ ungkapnya.

Ketika itu dia bersama teman-temannya menonton konser musik di daerah Surabaya Utara. Dia tidak menyangka teman-temannya memaksanya merokok ketika pulang. Bukan rokok biasa, tetapi ganja. ’’Narkoba pertama saya ya ngecung (sebutan lain dari mengonsumsi ganja, Red),’’ tutur gadis yang mewarnai rambutnya dengan warna merah itu.

Karena pada kesempatan pertama mau, temannya terus mencekokinya dengan ganja. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Hanya seminggu. Dia mengaku tidak nyaman mengonsumsi daun yang banyak ditemui di Aceh tersebut. ’’Gak enak, pahit,’’ ucapnya polos.

Teman-temannya lantas menawari narkoba golongan I non tanaman. Sabu-sabu (SS). Bocah itu pun merasa nyaman setelah mengonsumsi SS. Cocok. Ditambah lagi, dia mulai mengenal minuman keras. ’’Sudah jadi makanan dan minuman sehari-hari ketika itu,’’ jelasnya.

Masuk ke salah satu SMP swasta yang berbasis agama tidak membuatnya tobat. Malah bak menyiram api dengan minyak tanah. Kelakuan buruknya semakin menjadi.

Apalagi setelah Putri mengenal Rohim, seorang bandar narkoba. Dia menjadi pelanggan Rohim. ’’Belinya pakai uang SPP (sumbangan pembinaan pendidikan, Red),’’ ucapnya. Sekali mengorupsi uang SPP yang jumlahnya mencapai Rp 300 ribu, dia bisa mendapat dua poket SS. ’’Mampunya cuma beli paket hemat,’’ ungkap perempuan yang membenci tikus tersebut.

Namun, keuangannya jebol juga. Ketika mulai sakau, dia tidak bisa membeli SS. Kondisi itu membuatnya nekat bekerja sebagai asisten bandar. Sehari-hari dia menimbang SS dan membaginya dalam paket hemat.

Dari jerih payahnya tersebut, dia mendapat bagian yang lumayan besar. Sekali barang datang, dia mendapat bagian sampai 0,5 gram SS. Itu merupakan ganjarannya lantaran sering disuruh Rohim untuk menjadi kurir.

Putri bukan sekadar kurir pasif. Di usianya yang masih belia, sekitar 13 tahun ketika itu, dia sudah berani berhubungan langsung dengan pembeli. Mengatur pertemuan sendiri. ’’Di luar itu, saya bebas nyabu setiap hari,’’ paparnya.

Kebanjiran SS membuatnya mulai berani memasarkan sendiri jatah yang didapat. Pasar utamanya teman-teman sekelasnya di sekolah. Ada juga teman yang ketemu di konser-konser musik.
Keuntungannya lumayan. Dalam seminggu, dia bisa mendapatkan Rp 500 ribu. Relatif besar untuk ukuran anak SMP. Karena sudah terlatih dan dipercaya, Rohim sering mengajaknya kulakan.
’’Sering diajak ke Madura untuk ambil barang, ketemu bandar yang lebih besar,’’ ungkapnya.
Sejak saat itu dia putus sekolah. Kira-kira masih semester genap di kelas VII. ’’Sempat pindah sebentar ke SMP swasta di dekat rumah. Cuma sebulan sudah putus lagi,’’ jelasnya.

Jika dikalkulasi, dia sudah lebih dari setahun bergelut dengan bisnis haram tersebut. Dia sudah bisa membedakan mana SS yang bagus dan jelek. Mana yang ’’enak’’ dan yang bikin mual.
Meski masih belia, Putri sudah kenyang merasakan pahit getirnya dunia narkoba. Perilaku tidak terpujinya tersebut berakhir pada 9 Januari. Dini hari itu dia terciduk operasi satpol PP.
Saat itu Putri bersama tiga temannya ngafe di dekat Tugu Pahlawan. Mereka dibawa ke Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya. Sebelumnya, dia dites urine dan hasilnya positif. ’’Waktu itu memang sebelumnya mengonsumsi,’’ ucapnya.

Beruntung, BNNK Surabaya memberikan rekomendasi untuk melakukan rehabilitasi. Alasannya, dia masih anak-anak. Masa depannya masih panjang. Harapannya, jika terus dibina, dia mau berubah dan kembali ke jalan yang benar.

Sejak saat itu pula dia putus kontak dengan Rohim. Dia tidak tahu lagi bagaimana nasib mantan bosnya tersebut. Yang dia tahu dari cerita para asesornya, rumah Rohim digerebek polisi sesaat setelah dia ditangkap. ’’Tapi, yang ketangkap hanya pacarnya. Rohim berhasil lolos,’’ paparnya.
BNNK lalu mengirim Putri ke RSOS di Margorejo Indah Utara Blok B 922 sehari kemudian. ’’Pertama masuk sini rasanya pengin mati,’’ katanya.

Perempuan yang suka makanan Jawa itu selalu menangis selama dua minggu awal. Dia setiap hari kepengin pulang. Tidak kerasan. ’’Biasanya kan main setiap hari, lah kok sekarang ’dipenjara’,’’ tuturnya.

Namun, dia mengapresiasi kesabaran para asesornya. Mereka dengan tekun menebalkan keyakinannya. Juga, tidak putus asa memompa semangatnya.

Selama enam bulan mengikuti rehabilitasi medis dan sosial, dia merasa ada perubahan. ’’Signifikan sekali perubahannya, sekarang jadi enggan kalau lihat SS,’’ ucapnya ketika ditanya perubahannya.
Setelah sebulan lulus, dia mengatakan tidak punya keinginan untuk balik nyabu. Bahkan, dia menyatakan menyesal lantaran putus sekolah. Merasa masih punya kesempatan, saat ini dia ikut dalam program kejar paket B di sebuah pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) di Surabaya Timur.

Dia pun mengatakan masih memendam cita-citanya. ’’Saya pengin punya salon sendiri suatu saat nanti,’’ ucap perempuan yang hobi berdandan itu, lantas terkekeh.

Meski sudah ’’lulus’’, Rudhy Wedhasmara, pembina Yayasan Orbit, menganggap Putri masih dalam posisi rawan. Masih ada potensi untuk kembali ke dunianya yang lama. Hal itu ditunjukkan ketika Putri baru pertama dikembalikan ke neneknya. ’’Hanya beberapa jam, teman-teman lamanya langsung mendatangi dia,’’ kata pria plontos itu.

Respons teman-temannya beragam. Ada yang menyatakan siap membantu Putri untuk berubah ke jalan yang lebih baik. Ada pula yang curiga dia dipasang sebagai mata-mata polisi.
Paling parah adalah mengajaknya kembali ke dunia gelap narkoba.

Dia pun mengharapkan dukungan dari masyarakat sekitar. Tujuannya, membantu Putri untuk kembali ke kehidupan barunya. ’’Masyarakat harus punya peran besar (membantu Putri lepas dari narkoba), jadi harus ikut terlibat,’’ kata pria kelahiran Nganjuk tersebut. 



Yayasan ORBIT peduli sesama



Briefing dilakukan oleh salah satu staff Yayasan Orbit kepada volunteer sebelum melaksanakan kegiatan VCT (21/8/17) 


Yayasan Orbit bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kota Surabaya dan Puskesmas Tenggilis untuk melakukan uji lab terkait dengan HIV AIDS. Yayasan Orbit bersama instansi terkait melakukan VCT. Secara harfiah artinya adalah Tes dan Konseling sukarela. Tetapi ini adalah kegiatan konseling bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan oleh seorang konselor VCT yang terlatih, yang dilakukan sebelum dan sesudah test darah untuk HIV di laboratorium. Tes HIV dilakukan setelah klien terlebih dulu menandatangani inform consent (surat persetujuan tindakan).

VCT ini penting untuk dapat mengakses ke semua layanan yang dibutuhkan terkait pencegahan dan pengobatan HIV, AIDS, juga karena memberikan dukungan untuk kebutuhan kliennya seperti perubahan perilaku, dukungan mental, dukungan terapi ARV, dan pemahaman yang benar dan faktual tentang HIV, AIDS.

VCT ini dibutuhkan oleh semua orang yang ingin melakukan tes HIV dan untuk orang yang pernah melakukan tindakan maupun perilaku beresiko terjagkit HIV seperti aktifitas seksual, tindik tatoo, konsumsi narkoba melalui jarum suntik dan sebagainya.

Yayasan Orbit bersama instansi terkait bekerjasama melakukan VCT (21/8) di kantor Yayasan Orbit Surabaya Jl. Bratang Binangun VC No. 19 dan dibuka untuk umum. Meskipun dibuka untuk umum, namun VCT tersebut oleh Yayasan Orbit dikhususkan untuk seseorang yang beresiko terjagkit HIV seperti sudah disebutkan diatas.

 


Bangun Rumah Sehat, Yayasan Orbit Bantu Rehabilitasi Pengguna Narkotika

http://cdn2.tstatic.net/surabaya/foto/bank/images/rumah-sehat-yayasan-orbit-surabaya_20170721_210018.jpgPara korban Napza menulis pernyataan tidak akan kembali lagi jatuh ke pengaruh penyalahgunaan narkoba di Yayasan Orbit Surabaya usai peresmian Rumah Rehab yang diberi nama Rumah Sehat Orbit Surabaya untuk merehab para korban Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) di Perumahan Margorejo Indah Utara Blok B No 922, Jumat (21/7). Rumah rehab terdiri dari lima kamar ini berkapasitas 40 orang itu untuk para penyalahguna narkoba dibina intensif selama 3 bulan sampai pulih dari ketergantungan narkoba. 


SURYA.co.id | SURABAYA – Raut YS tampak sumringah saat acara pembukaan Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS) di Jalan Margeorejo Utara B No 922.

Gadis usia 16 tahun ini adalah satu-satunya perempuan yang kini menjalani rehabilitasi untuk lepas dari zat aditif sabu-sabu.

Sejak dua bulan lalu ia sudah menjalani rehabilitasi bersama 25 temannya di bawah Yayasan Orbit Surabaya. Sebelum pindah ke Margorejo, YS mengaku sehari-harinya ia menjalani terapi di bilangan Pandugo, Rungkut.

“Aku mulai pakai sabu-sabu tiga bulanan yang lalu. Nggak pakai beli, aku ikut bandar. Setiap bandar makai sabu, aku juga ikut makai,” ucap anak yang sudah putus sekolah dari SD ini.

YS mengaku lingkungannya lah yang membawanya kenal dengan barang haram tersebut. Sejak menjadi pecandu, ia mengaku banyak yang berubah pada dirinya.

“Aku jadi emosian, sering bertengkar sama empat saudaraku, sampai-sampai aku diusir sama orang tua,” kata gadis berambut pendek sebahu ini.

Apalagi sejak orang tuanya mengetahui bahwa anaknya sudah lama menggunakan sabu-sabu, tidak hanya marah. Ia bahkan tidak diterima saat pulang ke rumahnya.

Hal itu membuat YS kecewa hingga akhirnya meminta untuk direhabilitasi di Yayasan Orbit. Selama dua bulan melajani rehab dirasakan YS, sudah banyak perubahan yang ia rasakan.

“Aku jadi disiplin. Aku bisa bangun pagi untuk salat subuh. Sudah mulai lupa untuk harus konsumsi sabu-sabu,” ucapnya.

Menurutnya, metode rehabilitasi yang ia terima adalah pendekatan keagamaan. Setiap mulai ketagihan ia diajak mengaji dan diberi buku bacaan yang ada di rumah sehat mereka. Setelah tahu rasanya kecanduan dan sakit ia meminta anak-anak seusianya untuk tidak mencoba barang narkotikan seperti dirinya.

Klien Kian Banyak
Pembina Rumah SOS Rudhy Wedhasmara mengatakan rumah sehat ini dibangun seiring dengan meningkatkan jumlah korban penyalahgunaan narkotika. Di bawah yayasannya jumlah orang yang direhabilitasi pun semakin tahun semakin meningkat.

“Kami rata-rata per tahun menangani sebanyak 100 hingga 150 orang. Baik itu yang minta direhabilitasi sampai yang direhab karena putusan pengadilan. Dan trennya saat ini yang banyak adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun dibandingkan yang dewasa,” ucap Rudhy, usai acara pembukaan Rumah SOS.

Namun yang ia sayangkan kesadaran lingkungan pada pelaku penyalahgunaan narkotika masih rendah. Banyak masyarakat yang cenderung menjauhi pengguna narkotika. Bukan malah mencoba untuk membawanya ke tempat rehabiilitasi.

Untuk itu, sebagai mantan pengguna narkotika yang sudah sembuh, Rudhy dan kawan lain di Yayasan Orbit ingin membantu para pecandu narkotika untuk bisa sembuh.

“Sebagai mantan pengguna kami memiliki sense of belonging yang menjadikan kami lebih dekat dengan mereka dan mencoba membantu mereka untuk bisa lepas dari candu narkotika,” kata Rudhy.
Menurutnya, ada beberapa tahapan untuk bisa direhabilitasi di Rumah SOS ini. Yang pertama adalah dilakukan assesment pada pengguna. Assesment ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan kecanduan pada pengguna.

“Berikutnya kami melakukan perencanaan terapi. Jadi kami tidak langsung direct teraphy, tapi kami lakukan komunikasi juga ke mereka berapa kali harus ketemu dengan psikolog,” ulasnya.

Di rumah SOS ini disediakan tenaga medis. Mulai dokter, pendamping konselor, psikiater, psikolog dan juga pekerja sosial. Jumlahnya ada sekitar sebelas orang. Pengguna yang menjalani rehabillitasi di sini lewat rawat jalan atau dengan rawat inap.

“Di sini kami memiliki kapasitas 50 bed. Siklus rehab kami ada tiga bulan. Setiap tiga bulan itu kami evaluasi untuk setiap peserta rehab,” ucap Rudhy.

Selama menjadi rehabilitasi di sini, Rumah SOS tidak mematok biaya tertentu. Mereka juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial, namun untuk kuota sebanyak 40. Namun pihaknya menjamin bagi warga miskin yang memiliki Surat Tanda Miskin tidak akan dikenai biaya untuk menjali rehabilitasi.

http://surabaya.tribunnews.com/2017/07/21/bangun-rumah-sehat-yayasan-orbit-bantu-rehabilitasi-pengguna-narkotika?page=all


Nb: Sedikit revisi untuk siklus program rawat inap ada 3bulan untuk rawat inap dilanjutkan 2bulan halfway house dan sebulan aftercare. Untuk rawat jalan melalui 12 kali pertemuan dengan berbagai agenda termasuk konseling dan sebagainya.

Kemensos Ingatkan Penanganan Narkoba Harus Melibatkan Seluruh Komponen Bangsa



http://kabargress.com/wp-content/uploads/2017/07/Rumah-Sehat-Orbit-Surabaya-SOS-di-Jalan-Margeorejo-Utara-B-No-922-Surabaya-1.jpgSurabaya, KabarGRESS.com – Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif) Kementerian Sosial (Kemensos), Drs. Budi Waskito Kusumo, M.Si, mengingatkan masalah narkoba adalah masalah besar sehingga seluruh komponen bangsa harus terlibat mengatasinya. “Kondisi geografis kita memungkinkan banyak pintu hingga berbagai jenis narkoba masuk. Adanya Rumah Sehat Orbit Surabaya memiliki manfaat strategis dalam upaya pencegahan dan penanganannya,” tandasnya di sela-sela menghadiri pembukaan fasilitas Rehabilitasi Narkoba Rumah Sehat Orbit Surabaya (Rumah S.O.S), di Jl Margorejo Indah Utara B No 922 Surabaya, Jumat (21/7/2017).

Diantaranya alur masuknya narkoba dari luar negeri, lanjut Budi, misalnya dari Tiongkok – Kalimantan – Madura lantas beredar luas. “Jadi Jawa Timur harus waspada terhadap upaya masuknya narkoba. Penggunanya pun sangat meluas hingga ke berbagai kalangan. Bahkan ibu-ibu rumahtanggapun tidak lepas dari sasaran peredaran narkoba,” ingatnya.
 
 http://kabargress.com/wp-content/uploads/2017/07/Drs.-Budi-Waskito-Kusumo-M.Si_.jpg
Rumah S.O.S sendiri merupakan rehabilitasi Narkoba yang dikembangkan masyarakat sipil dengan latar belakang komunitas korban Narkoba untuk terlibat aktif dalam upaya penanggulangan Narkoba yang memperoleh dukungan penuh dari Pemerintah khususnya oleh Pemerintah Kota, Kemensos dan BNN. Tampak hadir di acara pembukaan, diantaranya perwakilan dari Pemkot Surabaya, Kepala BNN Kota Surabaya, Direktur Yayasan Orbit juga jajaran kepolisian (Polrestabes dan Polsek), Kejaksaan, BNNK, Bapas, Dinas terkait, dan lainnya.

Direktur Program Rumah S.O.S, Syamsoel Arifin, SH, mengatakan diantara tujuan dibukanya rumah rehabilitasi korban narkoba, disamping terapi penyembuhan, perubahan perilaku, juga menjadikan para korban ada perubahan kualitas hidup yang lebih baik. “Kami berharap dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat, seluruh kalangan, dan semua yang ikut berperan aktif menanggulangi permasalahan narkotika,” katanya.

 Sedangkan Ketua Pembina Rumah S.O.S., Rudhy Wedhasmara, SH, MH, menjelaskan rumah sehat ini dibangun seiring dengan meningkatkan jumlah korban penyalahgunaan narkotika. Di bawah yayasannya jumlah orang yang direhabilitasipun semakin tahun semakin meningkat. “Kami rata-rata per tahun menangani sebanyak 100 hingga 150 orang. Baik itu yang minta direhabilitasi sampai yang direhab karena putusan pengadilan. Dan trennya saat ini yang banyak adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun dibandingkan yang dewasa,” terangnya.

Namun yang ia sayangkan kesadaran lingkungan pada pelaku penyalahgunaan narkotika masih rendah. Banyak masyarakat yang cenderung menjauhi pengguna narkotika. Bukan malah mencoba untuk membawanya ke tempat rehabiilitasi. Untuk itu, sebagai mantan pengguna narkotika yang sudah sembuh, Rudhy dan kawan lain di Yayasan Orbit ingin membantu para pecandu narkotika untuk bisa sembuh.

“Sebagai mantan pengguna kami memiliki sense of belonging yang menjadikan kami lebih dekat dengan mereka dan mencoba membantu mereka untuk bisa lepas dari candu narkotika,” tekadnya.
Masih menurut Rudhy, ada beberapa tahapan untuk bisa direhabilitasi di Rumah SOS ini. Yang pertama dilakukan assesment pada pengguna. Assesment ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan kecanduan pada pengguna. “Berikutnya kami melakukan perencanaan terapi. Jadi kami tiddak langsung direct teraphy, tapi kami lakukan komunikasi juga ke mereka berapa kali harus ketemu dengan psikolog,” terangnya.

Di rumah SOS ini disediakan tenaga medis. Mulai dokter, pendamping konselor, psikiater, psikolog dan juga pekerja sosial. Jumlahnya ada sekitar sebelas orang. Pengguna yang menjalani rehabillitasi disini lewat rawat jalan atau dengan rawat inap. “Disini kami memiliki kapasitas 50 bed. Siklus rehab kami ada tiga bulan. Setiap tiga bulan itu kami evaluasi untuk setiap peserta rehab,” tukasnya.
Selama menjadi rehabilitasi disini, Rumah SOS tidak mematok biaya tertentu. Mereka juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial, namun untuk kuota sebanyak 40. Namun pihaknya menjamin bagi warga miskin yang memiliki Surat Tanda Miskin tidak akan dikenai biaya untuk menjali rehabilitasi. “Metode rehabilitasi disini selain metode medis juga pendekatan dari agama,” pungkasnya. (ro)


http://kabargress.com/2017/07/21/kemensos-ingatkan-penanganan-narkoba-harus-melibatkan-seluruh-komponen-bangsa/

Pengguna Narkoba Pada Kaum Hawa Terbilang Tinggi, Mayoritas Masih SMP, Ini Penyebabnya


Kriminal - 18 Juli 2017, 06:19:48

FAJARONLINE.COM -- Jumlah perempuan pengguna narkoba di Surabaya khususnya sabu-sabu, terbilang tinggi.

Mayoritas masih duduk di bangku SMP. Alasannya tidak masuk di akal. Hanya takut dibilang enggak kekinian.

Maraknya pengguna sabu-sabu tersebut terlihat setidaknya dalam dua tahun terakhir. Data BNNK Surabaya menunjukkan, perempuan dengan status pelajar mendominasi. 

Meski demikian, data yang dikeluarkan BNNK Surabaya tersebut dianggap bukan data yang riil.

Pembina Yayasan Our Right to Be Independent (Orbit) Surabaya Rudhy Wedhasmara mengungkapkan, populasi nyatanya bisa mencapai sepuluh kali lipat.

Sebab, pengguna perempuan termasuk dalam hidden population. ''Mereka benar-benar menutup diri untuk kalangan profesi, pekerja, ataupun pelajar," jelas pria kelahiran Nganjuk itu.

Namun, jumlah perempuan pengguna yang dewasa masih kalah dengan remaja. Penyebabnya, salah pergaulan.

Mayoritas remaja perempuan yang menggunakan narkoba mengaku terpengaruh oleh temannya.

''Kalau tak mencoba, mereka diejek," ujar Kepala BNNK Surabaya AKBP Suparti.

Mereka diejek tidak gaul. Tidak kekinian. Hal itu yang membuat anak mudah terpengaruh. Mereka tidak ingin dijauhi teman-temannya. Kondisi tersebut diperparah oleh suasana rumah yang tidak kondusif.

Beberapa pecandu mengaku berasal dari keluarga broken home. Koordinator Komunitas Perempuan Pengguna Napza Surabaya Ike Sartika mengungkapkan, pengguna remaja secara kualitas masih rendah. 

Para remaja perempuan masih mengonsumsi pil koplo atau dobel L. Alasannya, harganya murah. Sesuai kantong.

Namun, justru dari dobel L itu, petualangan di dunia barang haram tersebut dimulai.

Bermula dari Pil Koplo




Tiap Kecamatan Punya Kantong

Bermula dari Pil Koplo

GALIH COKRO/JAWA POS KEJAR PENGGUNA: Petugas gabungan BNNP dan BNNK melakukan razia di The Boss Executive Surabaya. Tempat dugem ditengarai sebagai salah satu tempat distribusi narkoba.
SURABAYA – Hati Olaf (nama samaran, Red) langsung mencelos. Dia menemukan botol kecil yang dimodifikasi dengan slang isap di bagian atasnya di tas Hadi (juga nama samaran), anaknya. Meski tak pernah memakai narkoba, Olaf tahu anaknya terkena jerat narkoba.

Itu yang membuat bingung Olaf. Dia marah, tetapi tahu marah tidak menyelesaikan masalah. ’’Saya tahu jika saya tanya langsung dengan marah, dia pasti akan berdalih,’’ katanya. Di sisi lain, jika orang tua terlalu sabar dan diam saja, si anak bakal semakin parah. Melaporkannya ke BNN? Sebagai orang tua, tentu dia tidak ingin anaknya berurusan dengan hukum. ’’Saya masih bingung. Tak tahu apa yang harus dilakukan,’’ ucapnya.

Olaf tidak sendirian. Prevalensi narkoba di Surabaya memang sudah pada taraf mengkhawatirkan. Tiap kecamatan di Surabaya mempunyai kantong pengguna masing-masing.

Setidaknya, itulah hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Our Right to be Independent (Orbit) Surabaya. Pembina Orbit Surabaya Rudhy Wedhasmara mengungkapkan, di dalam kantong-kantong pengguna tersebut, anak-anak masuk dalam populasi tersembunyi. Pihaknya belum bisa memastikan jumlahnya dengan pasti. ’’Namun, jumlahnya cukup besar. Selama ini kami menangani banyak anak berusia 14–17 tahun,” ujarnya.

Para remaja itu mengaku mengenal narkotika sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka terpengaruh oleh teman-teman pergaulannya. Berawal dari konsumsi rokok, mereka lalu mulai mengonsumsi pil koplo. ’’Harganya murah dan gampang didapat. Biasanya, mereka mencampur dengan minuman atau es,” jelasnya.

Dari situlah, para remaja tersebut semakin berani mencoba-coba narkotika golongan dua, bahkan sampai golongan satu. Mereka juga tidak segan mencoba-coba narkoba suntik. Karena heroin sulit dicari, obat penenang yang dijual di apotek pun digu nakan sebagai pengganti. ’’ Para pengguna remaja ini bahkan sering membeli obat di warung hanya untuk merasakan sensasi penyuntikan,” ungkapnya.

Untuk kasus-kasus seperti itu, pihaknya lebih cenderung melakukan pendekatan ke mereka. Tujuannya, agar dekat dengan pelayanan kesehatan maupun sosial. Harapannya, mereka akan mengurangi frekuensi pemakaian dan akhirnya berhenti. Termasuk disadarkan akan dampak penyakitnya. ’’Apabila mereka sadar, tetapi sulit berhenti, kita akan rujuk ke tempat perawatan ataupun rehabilitasi,” ujarnya.

Upaya lainnya, dengan mendekati tokoh masyarakat setempat. Yakni, dimulai dari kelurahan dan kecamatan agar mereka juga terlibat dalam upaya penanggulangan narkoba.

Tetapi, hal itu tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak pihak kecamatan atau kelurahan yang khawatir malah memberikan cap buruk di wilayahnya. ’’Padahal, kalau bersinergi, penanggulangan bisa dilakukan secara holistik sesuai peran masing-masing,” jelasnya.

Wilayah bebas narkoba bisa diwujudkan, tidak sebatas slogan cantik. ’’Misalnya, kampung bebas narkoba, tetapi kenyataannya tidak,” tegasnya.

Meski begitu, tidak semua kecamatan atau kelurahan seperti itu. Ada juga yang mendukung penuh. Misalnya, Kecamatan Tambaksari dan Gubeng. Wilayah lain diharapkan dapat mengadopsi hal tersebut. Wilayah tersebut bisa dijadikan role model untuk wilayah lain. Sebab, komitmen penanggulangan narkoba dari pimpinan aparatur pemerintah itu sangat dibutuhkan. ’’Parahnya, hal tersebut tidak jadi prioritas,” keluhnya. (aji/c20/ano)

Jumlahnya (pengguna narkoba) cukup besar. Selama ini kami menangani banyak anak berusia 14–17 tahun.” Rudhy Wedhasmara Pembina Yayasan Orbit Surabaya


https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20170713/282501478672516