Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in
Yayasan Orbit adalah Organisasi Non Pemerintah yang berdiri pada Juli tahun 2005.
Pembentukan organisasi berdasar atas kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Yayasan Orbit digawangi oleh para aktivis NAPZA dan HIV – AIDS yang berasal dari komunitas Korban Napza di Surabaya – Jawa timur dengan orientasi pada program pemberdayaan masyarakat.

Orbit Update News

Kisah Remaja Pecandu Narkoba yang Berlebaran di Tempat Rehabilitasi, Saya Kangen Ibu, Ingin Segera Sungkem

KEKELUARGAAN: AKBP Suparti (tiga dari kiri) menjenguk Bagas (empat kiri) yang sedang menjalani rehabilitasi narkoba di kawasan Pandugo, Surabaya timur.
Tidak semua orang bisa berlebaran bersama keluarga. Salah satunya Bagas (bukan nama sebenarnya), 13, remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Dia terpaksa tinggal di panggon rehabilitasi untuk menebus dosa masa lalu.

DIDA TENOLA

SUARA takbir terdengar bersahutan di kawasan Pandugo Selasa petang (5/6). Kompleks perumahan tersebut sudah sepi. Kebanyakan warganya mudik.

Namun, di sudut gang, sebuah rumah masih terlihat beraktivitas. Ada beberapa motor yang parkir berjajar di depannya.

Rumah itu merupakan kantor Yayasan Orbit. Di sana para pecandu narkoba yang ditangani BNN Kota Surabaya dititipkan.

Di sebuah ruangan besar, sekumpulan orang tampak duduk bersila. Mereka duduk santai sambil mengobrol.

Merekalah para pecandu yang tetap tinggal di sana saat hari pertama Lebaran. Salah seorang di antara mereka adalah Bagas.

Siswa kelas VIII SMP tersebut harus menahan rindu bertemu keluarga karena menjalani rehabilitasi.
’’Baru masuk sini dua minggu,’’ ujarnya malu-malu saat ditemui Jawa Pos.

Bagas menceritakan, dirinya direhabilitasi karena kecanduan sabu-sabu. Sejak kelas VI SD dia mengenal serbuk haram tersebut.

Jika mengingat kembali, hanya penyesalan mendalam yang dirasakan. Awalnya, sabu-sabu itu ditawarkan teman-temannya.

Kala itu dia dibujuk bahwa serbuk putih tersebut rasanya enak. ’’Sekali icip seterusnya ingin lagi,’’ kata bungsu di antara dua bersaudara tersebut.

Hampir tiga tahun Bagas menjadi budak narkoba. Selama masa tersebut, dia berubah menjadi sosok pemberontak di dalam keluarganya.

Emosinya mudah tersulut. Dia juga jarang pulang ke rumah. Padahal, remaja yang gemar mendengarkan lagu-lagu dari grup band Superman Is Dead tersebut tergolong cerdas di sekolah.

Daya ingatnya kuat. Penguasaan ilmu eksaknya juga tidak kalah jago. ’’Terakhir dapat ranking II di kelas,’’ tuturnya, lantas senyum-senyum.

Ibunya jadi sering khawatir dengan perkembangan Bagas. Mencium sesuatu yang tidak beres, Bagas lama-kelamaan ketahuan memakai sabu-sabu.

Kaget, tidak percaya, marah, dan ingin menangis. Begitulah perasaan keluarga Bagas saat itu. Namun, keluarganya tidak bisa menyalahkan Bagas sepenuhnya.

Lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Putat Jaya yang tergolong zona merah peredaran narkoba turut memengaruhi perkembangan Bagas.

Semakin sering ibunya marah, Bagas malah semakin menjadi-jadi. Dia juga berani melawan ibunya. ’’Iya, sering marah sama ibu,’’ ucap Bagas lirih.

Tinggal di tempat rehabilitasi membawa perubahan besar pada diri Bagas. Pembawaannya yang temperamen perlahan-lahan luntur.

Di tempat rehabilitasi, Bagas banyak memetik hikmah. Terlebih saat momen Lebaran tahun ini. Bagas masih harus tinggal pada hari pertama.

Jauh dari keluarga membuatnya dewasa. Hatinya hampa saat tersadar bahwa harus merayakan Lebaran tanpa sang ibunda.

’’Saya kangen ibu. Kepengin cepet sungkem,’’ kata ABG yang mengidolakan timnas sepak bola Italia tersebut.

Lebaran Bagas akan dihabiskan bersama para pecandu lain yang juga tidak bisa pulang ke kampung halaman. Bagi Bagas, kondisi itu tidak menjadi masalah.

Para pecandu yang dirawat di Orbit maupun para pengurus sudah dianggap keluarga kedua. Bagas merasa nyaman tinggal di sana.

Ada hal-hal yang tidak bisa didapat saat bersenda gurau dengan pecandu lainnya.
’’Di sini saling menyemangati. Saling share biar tidak pakai lagi,’’ kata remaja yang bercita-cita menjadi tentara itu.

Hidup Bagas kini lebih teratur. Dia juga menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta. Selama dirawat di sana, Bagas terbiasa mengaji.

Hal itulah yang membuatnya bahagia saat Lebaran tiba. Untung, Bagas masih bisa bertemu keluarganya pada hari kedua Lebaran.

Dia diberi kelonggaran agar tetap termotivasi. Bagas pun bisa bersabar. Rencananya, dia berlebaran di rumah kerabatnya di Trenggalek.

’’Tetep kepengin unjung-unjung, Mas. Bawa jajan sama dikasih uang,’’ katanya, lantas tertawa.

Dia kini menyadari bahwa terjerumus ke dunia narkoba adalah pelajaran hidup yang tidak ternilai.
Dia jadi tahu siapa kawan baik dan siapa yang membawa pengaruh buruk. Dia berjanji tidak akan memakai sabu-sabu lagi.

Hari Raya Idul Fitri kali ini diresapi sebagai momen introspeksi bagi Bagas. Kerinduannya terhadap keluarga, apalagi ibunya, akan terbayar lunas pada hari kedua libur Lebaran.

Teman-teman yang men-support-nya di tempat rehabilitasi akan kembali ditemui selepas mudik. (*/c15/oni/sep/JPG)

http://www.jawapos.com/read/2016/07/06/38112/kisah-remaja-pecandu-narkoba-yang-berlebaran-di-tempat-rehabilitasi



Incar Bocah Jadi Kurir Narkoba, Risiko Minim, Tertangkap Hukuman Ringan

Anak Jadi Bidikan Bandar
 JawaPos.com – Bahaya besar sedang mengancam anak-anak. Para bandar kini mengincar anak-anak untuk dijadikan kurir. Sedikitnya sepuluh bocah sudah terdeteksi direkrut dan ditugasi untuk mengirimkan narkoba.

Alasannya beragam. Selain lebih aman, jika tertangkap, hukumannya tidak akan lama. Hal itu terungkap pasca penangkapan sejumlah pengguna narkoba yang ternyata masih di bawah umur.
Sebagian besar memang masih sebatas pengguna. Tapi, hampir separo di antaranya juga berstatus kurir.

Rudhy Wedhasmara, pembina Yayasan Orbit, mencatat ada 19 anak yang ditemukan terjerat kasus narkoba selama dua bulan terakhir. Sebanyak 40 persen di antaranya berperan sebagai kurir.

Sisanya masih sebatas pengguna. ”Tapi, kelasnya dengan mudah bisa naik jadi pengedar,” katanya. Dia mengaku terkejut dengan beberapa temuan bahwa angka anak yang menjadi kurir hampir dominan.

Bahkan, Rudhy menyimpulkan bahwa bandar sekarang memang sedang memburu anak-anak untuk dijadikan kurir.

”Saya sudah pernah bertanya langsung kepada beberapa anak yang sempat direkrut,” imbuhnya. Bandar menganggap bahwa anak-anak jika terjerat kasus narkoba tidak akan dihukum.

Bahkan, mereka menganggap bahwa ketika ditemukan membawa narkoba, anak tidak akan ditangkap.

Dengan begitu, bandar tidak perlu khawatir untuk menanggung beban ketika anak tertangkap saat menjalankan tugasnya mengirim narkoba. Padahal, pemahaman itu sangat keliru.

Rudhy mengatakan, Undang-Undang Sistem Peradilan Anak memang memperlakukan anak yang berkonflik hukum dengan sangat humanis.

Mulai proses, penempatan, hingga kemungkinan untuk pemberlakuan diversi. ”Hal itu oleh bandar dianggap tidak dihukum. Padahal, tetap. Hanya perlakuannya yang berbeda,” ujarnya.

Pola perekrutan anak-anak itu berlangsung sangat halus. Sejumlah anak mantan kurir narkoba mengaku bahwa mereka tidak sadar ketika sedang dijebak dalam pusaran narkoba.

Mereka bahkan tidak mengenal narkoba sebelumnya. Salah satu caranya, anak calon korban sering diberi minuman yang kira-kira tertarik. Misalnya, kopi maupun minuman berkarbonasi.

”Ini lho minuman impor. Langka. Mahal,” ucap Rudhy menirukan ucapan bandar kepada calon korban. Sebelum diberikan, minuman itu dicampuri dengan pil koplo.

Dengan campuran tersebut, korban akan merasakan efek meminum pil penenang. Kadarnya terus ditambah setiap kali memberi minuman.

Dengan begitu, efek pil tersebut semakin besar sehingga membuat anak mudah untuk kecanduan dan mengalami ketergantungan.

Bandar baru mereguk kesuksesan ketika anak mengalami ketergantungan. Setelah itu, barulah naik ke tahap selanjutnya. Yakni, pengenalan zat baru bernama narkoba.

”Bagaimanapun, ketika kecanduan satu zat, pasti mencari zat lain lagi. Kalau pil koplo, sudah biasa. Ujung-ujungnya ya narkoba,” terangnya. Dari sanalah, anak selanjutnya bisa dikendalikan.

Bandar dengan mudah menyuruhnya mengirim narkoba. Tugasnya cukup simpel. Anak disuruh mengambil narkoba di tempat tertentu, membawa, dan meletakkannya di tempat yang ditentukan.

Setelah itu, anak mendapat imbalan narkoba. Sepanjang yang diketahuinya, anak yang dijadikan kurir narkoba paling muda berusia sepuluh tahun. Selebihnya beragam. Kebanyakan di bawah 16 tahun.

Semakin muda, semakin dicari oleh bandar. Parahnya, sasarannya adalah anak yang sangat normal. Memiliki keluarga utuh dengan perhatian penuh dan sama sekali tidak menampakkan kesan pelaku kejahatan sama sekali.

”Justru anak yang penampilannya lusuh, terkesan seperti anak jalanan, tidak terawat, malah dihindari,” imbuhnya. Tujuannya satu, menghindari kecurigaan. (eko/c6/git/sep/JPG)
 
Sumber: http://www.jawapos.com/read/2016/07/02/37568/incar-bocah-jadi-kurir-narkoba














Ketika Mantan Bandar dan Pengguna Narkoba Curhat Bareng

SENASIB: Peserta rehabilitasi di Yayasan Orbit Surabaya sedang berbagi kisah tentang pengalaman mereka selama berperang melawan narkoba.
Menjalani rehabilitasi narkoba tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Dipenjara, diasingkan, atau bahkan direndam. Sebaliknya, proses rehabilitasi sejatinya mirip hidup di lingkungan keluarga baru.

EKO PRIYONO

DUA orang polisi mendatangi tempat kos Narto (nama samaran) di kawasan Dukuh Kupang. Narto sudah paham bahwa petugas tidak berseragam itu akan menangkapnya lantaran menjadi penjual dan pengguna narkoba.

Tanpa rasa canggung, dia mendatangi polisi tersebut dengan berlagak ingin membantu. Saat polisi menyebut sedang mencari Narto, dia menjawab bahwa Narto sedang keluar.

Polisi itu pun manggut-manggut seraya mengucapkan terima kasih dan langsung meninggalkan Narto. Peristiwa tersebut terjadi beberapa kali.

Narto berhadapan langsung dengan polisi yang sedang memburunya sejak lama. Saat pertemuan yang tidak diharapkan itu, dia hampir selalu sedang membawa narkoba. Selama bertahun-tahun dia bisa lolos.

”Padahal, saya bawa ganja seplastik di saku kanan dan kiri,” ucapnya, disambut tepuk tangan 21 temannya yang menyimak serius.

Itu adalah cuplikan cerita mantan bandar sekaligus pecandu dalam forum curhat yang diadakan tempat rehabilitasi narkoba Yayasan Orbit Surabaya. Cerita tersebut bukan stand-up comedy atau bualan belaka.

Para bandar dan pecandu saling curhat dan berbagi pengalaman saat menjadi korban keganasan narkoba. Pertemuan itu diselenggarakan setiap Minggu sore hingga malam.

Forum curhat itu merupakan salah satu bentuk terapi bagi pecandu narkoba. Tujuannya menyembuhkan para pecandu agar kembali hidup normal bersama lingkungannya.

Sebab, sebagian besar mantan bandar dan pecandu itu tersisihkan dari keluarga sejak ketahuan bermain-main dengan narkoba.

Pertemuan tersebut diikuti pecandu yang sedang menjalani rehabilitasi karena ketergantungan narkoba. Latar belakangnya beragam.

Ada yang mantan bandar tapi kecanduan, ada mahasiswa S-2, pegawai bank, notaris, pelajar, lady’s club, kontraktor, perawat, hingga kuli bangunan.

Narto tidak hanya menceritakan kesuksesannya lolos dari kejaran polisi. Dia menutup ceritanya dengan rasa syukur karena tersadarkan dari belenggu narkoba. Apalagi kesadaran itu muncul sebelum dia masuk penjara.
Bapak empat anak itu tidak membayangkan bagaimana jika harus meringkuk di balik jeruji besi dalam waktu lama.

”Saya bersyukur bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Mereka aset terbaik saya. Terima kasih Tuhan,” ucapnya dengan suara lirih. Suasana sejenak hening.

Dalam forum tersebut, semua peserta bercerita secara bergiliran tentang pengalamannya. Kadang temanya membuat semua peserta tertawa. Tapi, tidak jarang membuat semua trenyuh dan akhirnya menangis.

Cerita tidak kalah seru disampaikan Moch. Faisol. Pria 35 tahun itu mengenal narkoba sejak SD. Bapak empat anak tersebut malang melintang di dunia narkoba saat duduk di bangku SMA.

Hal itu berlanjut ketika dia bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Mojokerto. ”Saya dulu kuliah keperawatan,” katanya. Dia mengaku tidak bisa lepas dari narkoba sejak 2001 hingga 2010.

Semua jenis pernah dicobanya. Mulai pil koplo, sabu-sabu, hingga putau. Kepada temannya yang sedang menjalani rehabilitasi, dia menceritakan semua pengalamannya.

Misalnya, saat dia melakukan Abu Nawas-an. Istilah itu digunakan di kalangan bandar untuk mengganti-ganti nama. Selama berkutat dengan narkoba, puluhan nama sudah digunakan.

Ketika di rumah, dia menggunakan nama panggilan asli. Ketika menjual atau membeli narkoba, dia selalu menggunakan nama yang berbeda setiap hari. Bahkan, nama aslinya justru tidak pernah dikenal.

Hal itu dia lakukan untuk lolos dari kejaran polisi. Petugas sering mengendus keberadaannya di sekitar rumah. Tapi, karena nama yang digunakan tidak pernah sama, Faisol tidak pernah ditemukan.

”Saya sangat beruntung masih dilindungi Allah,” ucapnya.

Kegilaan pada narkoba bahkan membuatnya pernah berbuat nekat. Sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit, tidak jarang dia disuruh menyuntikkan morfin untuk pasien yang membutuhkan sesuai petunjuk dokter.

Tapi, morfin itu tidak diberikan semuanya. Dia mengurangi dosisnya hingga separo. Sisanya digunakan sendiri. Dia meyakinkan pengurangan itu tidak berdampak kepada pasien.

Sebab, sebelum mengurangi kadar morfin, dia melihat kondisi pasien untuk mengetahui pengaruhnya. Morfin itu membuat kebutuhan narkobanya terpenuhi. Gratisan lagi.

Kenakalannya tidak berhenti di situ. Dia mulai mengetahui cara mendapatkan morfin. Dia membuat resep dokter palsu dengan identitas pasien palsu dan diagnosis yang dipalsukan pula.

Berbekal resep palsu itu, dia bisa membeli morfin secara bebas. Akhirnya, ulah nakal tersebut ketahuan dokter di rumah sakit itu. Saat ”disidang”, dia mengakui semua perbuatannya dan meminta maaf.

Pihak rumah sakit memaafkan ulahnya. Dia berjanji tidak akan mengulangi lagi. Dia pun masih bisa bekerja di tempat yang sama, tapi tidak berani lagi berbuat nakal.

Problem paling berat dirasakan Faisol ketika terusir dari keluarga. Rumah tangga yang dibangun selama bertahun-tahun nyaris runtuh.

Dengan tekad bulat, dia akhirnya berhenti bermain narkoba atas kesadaran sendiri. Sampai akhirnya dia mengenal Yayasan Orbit Surabaya dan ikut rehabilitasi hingga sembuh.

Dia juga mengajak sesama pengguna yang dahulu menjadi konsumennya untuk ikut rehabilitasi. Tidak sedikit yang akhirnya sembuh dan menjauhi narkoba.

Setelah terbebas dari belenggu narkoba, dia kini aktif dalam penyembuhan narkoba di yayasan yang menjadi mitra Badan Narkotika Nasional itu. Jabatannya adalah koordinator program.
Karena memiliki segudang pengalaman di dunia narkoba, dia sangat terlatih ketika berhadapan dengan penyalah guna yang sedang melakukan rehabilitasi.

”Termasuk kalau ada yang Abu Nawas-an selama mengikuti program, saya langsung paham,” ucapnya, langsung tertawa.

Dia mengatakan, tidak semua peserta rehabilitasi narkoba di Yayasan Orbit merupakan hasil tangkapan polisi. Banyak pula yang datang karena inisiatif sendiri atau diantar keluarga.

Ada juga yang dijemput paksa atas permintaan keluarga karena pola ketergantungan narkoba sudah membahayakan.

Menjalani rehabilitasi narkoba tidak seperti yang dibayangkan selama ini. Informasi salah telah beredar. Misalnya, rehabilitasi tidak jauh berbeda dengan dipenjara, ditempatkan dalam kerangkeng.
Ada juga kabar bahwa program rehabilitasi itu menyiksa. ”Itu salah besar. Sama sekali tidak seperti itu,” ucapnya.

Dia menjelaskan, rehabilitasi merupakan kegiatan untuk mengurangi ketergantungan narkoba dan mengembalikan kepercayaan diri. Forum curhat itu salah satunya.

Di sana, peserta dilatih untuk berani bercerita tentang permasalahannya. Tidak tanggung-tanggung, cerita itu disampaikan di depan puluhan pengguna.
Tema cerita dalam forum curhat dibuat bebas. Masing-masing peserta berhak menentukan. Paling banyak menceritakan masalah yang sedang dihadapi. Misalnya, memendam rasa rindu akan kehangatan keluarga.

Suasana itu hilang sejak pecandu terbawa oleh narkoba. Ada juga yang bercerita tentang godaan dan masalah yang dihadapi selama menjalani rehabilitasi.

Misalnya, ajakan untuk kembali menggunakan narkoba dari sesama pengguna yang belum bertobat. ”Banyak juga yang digojloki. Wah, saiki wis gumbul polisi rek,” ucap Hanif Kurniawati, konselor di rehabilitasi narkoba Yayasan Orbit.

Dengan curhat terbuka itu, semua peserta bisa belajar dari masalah orang lain. Bahkan, sesama peserta rehabilitasi saling memberikan trik untuk menghadapi godaan semacam itu.

Para peserta forum curhat juga saling menguatkan untuk tidak lagi menggunakan narkoba. Hal tersebut dilakukan dengan memberikan motivasi harian.

Untuk peserta yang tinggal di rumah rehabilitasi Yayasan Orbit, motivasi itu diberikan dalam forum santai setiap hari. Untuk peserta yang tidak tinggal di sana, motivasi diberikan melalui telepon atau pesan singkat.

Selain itu, peserta rehabilitasi tidak akan ditangkap polisi karena penyalahgunaan narkoba yang pernah dilakukannya. Yayasan Orbit juga tidak akan membuka identitas para peserta rehabilitasi kepada siapa pun.
”Itu komitmen. Makanya, salah besar kalau ada anggapan bahwa datang ke tempat rehabilitasi sama saja menyerahkan diri ke polisi. Di sini malah disembuhkan,” tegasnya.

Di akhir forum curhat yang dilaksanakan mingguan itu, para peserta bergandengan tangan dan mengucapkan sederet kalimat komitmen untuk tidak lagi menggunakan narkoba.

Mereka juga berdoa bersama agar selalu mendapat perlindungan Tuhan. Sebelum forum curhat ditutup, ada ungkapan apresiasi atas usaha lepas dari narkoba.

Masing-masing blak-blakan mengungkapkan kapan mereka tidak lagi menggunakan narkoba. Ada yang sudah tiga tahun, setahun, enam bulan, tiga bulan, bahkan ada yang baru satu minggu. Semua peserta mengapresiasi semua usaha itu dengan tepuk tangan. (*/c6/oni/sep/JPG)

Sumber: http://www.jawapos.com/read/2016/08/02/42695/ketika-mantan-bandar-dan-pengguna-narkoba-curhat-bareng

Remaja Narkoba: Saya Kangen Ibu, Ingin Segera Sungkem

Bagas (bukan nama sebenarnya), 13, tidak bisa mengecap manisnya Lebaran bersama keluarga. Pasalnya, dia adalahremaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Dia terpaksa tinggal di panggon rehabilitasi untuk menebus dosa masa lalu.

LIPUTAN DIDA TENOLA, JAWA POS

SUARA takbir terdengar bersahutan di kawasan Pandugo Selasa petang (5/6). Kompleks perumahan tersebut sudah sepi. Kebanyakan warganya mudik. Namun, di sudut gang, sebuah rumah masih terlihat beraktivitas. Ada beberapa motor yang parkir berjajar di depannya.

Rumah itu merupakan kantor Yayasan Orbit. Di sana para pecandu narkoba yang ditangani BNN Kota Surabaya dititipkan. Di sebuah ruangan besar, sekumpulan orang tampak duduk bersila. Mereka duduk santai sambil mengobrol.

Merekalah para pecandu yang tetap tinggal di sana saat hari pertama Lebaran. Salah seorang di antara mereka adalah Bagas. Siswa kelas VIII SMP tersebut harus menahan rindu bertemu keluarga karena menjalani rehabilitasi.

''Baru masuk sini dua minggu,'' ujarnya malu-malu saat ditemui Jawa Pos.

Bagas menceritakan, dirinya direhabilitasi karena kecanduan sabu-sabu. Sejak kelas VI SD dia mengenal serbuk haram tersebut. Jika mengingat kembali, hanya penyesalan mendalam yang dirasakan.

Awalnya, sabu-sabu itu ditawarkan teman-temannya. Kala itu dia dibujuk bahwa serbuk putih tersebut rasanya enak. ''Sekali icip seterusnya ingin lagi,'' kata bungsu di antara dua bersaudara tersebut.

Hampir tiga tahun Bagas menjadi budak narkoba. Selama masa tersebut, dia berubah menjadi sosok pemberontak di dalam keluarganya. Emosinya mudah tersulut.

Dia juga jarang pulang ke rumah. Padahal, remaja yang gemar mendengarkan lagu-lagu dari grup band Superman Is Dead tersebut tergolong cerdas di sekolah. Daya ingatnya kuat. Penguasaan ilmu eksaknya juga tidak kalah jago.

''Terakhir dapat ranking II di kelas,'' tuturnya, lantas senyum-senyum.

Ibunya jadi sering khawatir dengan perkembangan Bagas. Mencium sesuatu yang tidak beres, Bagas lama-kelamaan ketahuan memakai sabu-sabu. Kaget, tidak percaya, marah, dan ingin menangis.

Begitulah perasaan keluarga Bagas saat itu. Namun, keluarganya tidak bisa menyalahkan Bagas sepenuhnya. Lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Putat Jaya yang tergolong zona merah peredaran narkoba turut memengaruhi perkembangan Bagas.

Semakin sering ibunya marah, Bagas malah semakin menjadi-jadi. Dia juga berani melawan ibunya. ''Iya, sering marah sama ibu,'' ucap Bagas lirih.

Tinggal di tempat rehabilitasi membawa perubahan besar pada diri Bagas. Pembawaannya yang temperamen perlahan-lahan luntur. Di tempat rehabilitasi, Bagas banyak memetik hikmah.

Terlebih saat momen Lebaran tahun ini. Bagas masih harus tinggal pada hari pertama. Jauh dari keluarga membuatnya dewasa. Hatinya hampa saat tersadar bahwa harus merayakan Lebaran tanpa sang ibunda.

''Saya kangen ibu. Kepengin cepet sungkem,'' kata ABG yang mengidolakan timnas sepak bola Italia tersebut.

Lebaran Bagas akan dihabiskan bersama para pecandu lain yang juga tidak bisa pulang ke kampung halaman. Bagi Bagas, kondisi itu tidak menjadi masalah.

Para pecandu yang dirawat di Orbit maupun para pengurus sudah dianggap keluarga kedua. Bagas merasa nyaman tinggal di sana. Ada hal-hal yang tidak bisa didapat saat bersenda gurau dengan pecandu lainnya.

''Di sini saling menyemangati. Saling share biar tidak pakai lagi,'' kata remaja yang bercita-cita menjadi tentara itu.

Hidup Bagas kini lebih teratur. Dia juga menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta. Selama dirawat di sana, Bagas terbiasa mengaji. Hal itulah yang membuatnya bahagia saat Lebaran tiba. (*/c15/oni/flo/jpnn)

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2016/07/06/45214/Remaja-Narkoba:-Saya-Kangen-Ibu-Ingin-Segera-Sungkem-


Kisah Yati Hamil Ketiga dan Terinveksi HIV/AIDS dari Suami Pertamanya yang Meninggal Dunia


SURYA.co.id | SURABAYA – Yati, bukan nama sebenarnya, terlihat menggunakan baju hitam dengan kondisi perut yang terlihat membesar. Ia mengidap HIV/AIDS. Ini kehamilan ketiganya.
Perempuan asal Kecamatan Sempu, Banyuwangi itu berada di Surabaya, 6 Juni 2016.

Yati mendapati dirinya mengidap HIV/AIDS sejak ia mengandung anak pertamanya dari suaminya yang pertama.

Berdasarkan hasil cek darah ia dinyatakan positif, sedangkan sang suami meninggal setelah ia melahirkan anak pertama.

Berbeda dengan dua kehamilan sebelumnya, dia masih difasilitasi rumah sakit daerah untuk mendapat layanan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak atau Prevention Mother to Child Transmission.

“Sejak awal saya sudah minta bantuan suster di puskesmas, tetapi mereka tidak bisa bantu kalau saya tidak punya KTP,” terangnya kepada SURYA.co.id.

Sedangkan untuk mengurus KTP, ia harus berangkat dari rumahnya di desa ke pusat Banyuwangi. Selain biaya yang tidak sedikit, ia juga harus terbelit birokrasi antara kelurahan, kecamatan dan Dispendukcapil.

“Ada sampai 5 kali saya bolak-balik, akhirnya saya menyerah. Masalahnya KK dan KTP saya yang habis masa berlakunya tidak diakui lagi,” ungkapnya.

Kini, ia dibayangi kekhawatiran menulari anaknya. Yati, sapaan akrabnya, sudah melaporkan kepada dokter kasus HIV di klinik VCT RSUD Blambangan pada Januari 2016.

Namun, hingga kini, belum ada kepastian penanganan PMTCT untuk calon bayinya karena tidak adanya KTP dan surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan kelurahannya.
Segala akses kesehatan untuk Yati pun terhenti.

“Saya dibantu LSM untuk memeriksakan diri ke RSUD Sidoarjo, tetapi karena responnya lama akhirnya kami ke RS dr Soetomo. Konsultasi kehamilan dan kelahiran juga terpaksa dilakukan atas biaya sendiri,” jelasnya.

“Saya sejak hamil pertama sudah pakai metode PMTCT, anak pertama usia 9 tahun sudah 2 kali cek. Negatif HIV. Kalau yang kedua saya belum berani buat cek,” lanjutnya.

Melihat kesulitan yang dialami Yati, Maria Sulastri, anggota dari pendampingan masyarakat miskin Yayasan Pondok Kasih berusaha mendampingi Yati selama di Surabaya.

Mereka pun memutuskan mengurus surat tempat tinggal sementara untuk Yati di Surabaya.
“Nanti kami bawa ke Dinas Sosial juga, karena tidak punya KTP juga. Agar biaya bersalinnya gratis,” tuturnya.

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2016/06/06/kisah-yati-hamil-ketiga-dan-terinveksi-hivaids-dari-suami-pertamanya-yang-meninggal-dunia


Pasien HIV Banyuwangi Sulit Akses Persalinan Jamkes


Surabaya (Antara Jatim) - Pasien HIV asal Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi yang sedang hamil delapan bulan, Sugik alias Yati (28), mengalami kesulitan mengakses persalinan melalui layanan jaminan kesehatan (jamkes) gratis dari pemerintah.

"Awalnya, saya minta bantuan Puskesmas Sempu untuk mendapatkan layanan persalinan dengan PMT-CT, karena saya positif HIV dan ingin layanan gratis, tapi ditolak, karena KTP saya mati," kata Sugik didampingi suaminya di Sekretariat LSM EJA di Surabaya, Senin.

Akhirnya, ia ke RS Blambangan di Kota Banyuwangi yang dirinya biasa menjalani pengobatan HIV dengan ARV, namun RS Blambangan juga tidak sanggup melayani persalinan PMT-CT dengan layanan jamkes, kecuali ada surat keterangan dari kelurahan.

Namun, pihak kelurahan juga tidak bisa memberikan surat keterangan domisili atau KTP dan surat keterangan tidak mampu (miskin), karena KK miliknya masih bergabung dengan orang tua dan KK itu juga tidak terdaftar di Dispendukcapil Banyuwangi.

Ia pun kembali memohon bantuan kepada kader Puskesmas yang menanganinya, namun kader Puskesmas tetap memintanya mengurus Surat Domisili dan Surat Keterangan tidak mampu, namun ia pun bingung.

"Saya sudah lima kali bolak-balik dari kecamatan ke kota, tapi masalahnya sama, padahal saya sudah melaporkan kalau kehamilan saya dengan infeksi HIV, namun laporan kepada dokter manajer kasus HIV di klinik VCT RSUD Blambangan pada bulan Januari 2016 itu juga tidak direspons," katanya.

Selain itu, dirinya juga berusaha meminta persalinan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) Kemensos, namun tetap tidak bisa, karena kendala yang sama.

Pada 15 Mei 2016, staf KPA Sidoarjo menyatakan adanya layanan yang responsif di Sidoarjo, namun ternyata tidak bisa, lalu dirinya diajak suami dari rekan-rekan LSM EJA Surabaya untuk langsung ke RSUD dr Soetomo Surabaya.

Pada layanan di RSUD dr Soetomo, semuanya dijalani melalui tanggung jawab individu dan pendampingan teman¿teman dekat, sehingga semuanya menghabiskan dana sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta dari gotong royong.

Dengan cara itu, maka dirinya pun melakukan konsultasi awal kehamilannya, bahkan manajer kasus HIV di RSUD dr Soetomo yang langsung berkoordinasi dengan pihak RS Blambangan untuk mengakses "register nasional" ARV-nya.

Sementara itu, pimpinan jaringan korban Napza dan HIV/AIDS di Jawa Timur "East Java Action (EJA)" Rudhy Wedhasmara menyatakan pihaknya siap melakukan pendampingan korban melalui jaringan LSM terkait HIV/AIDS di Surabaya, diantaranya Yayasan Pondok Kasih (YPK) Surabaya.

"Kita tidak langsung ke pendampingan hukum, karena masalahnya menyangkut administrasi kependudukan dan status sebagai ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Kami berharap Pemprov Jatim dan Pemkab Banyuwangi membantu Sugik," katanya.

Didampingi relawan YPK Surabaya, Maria Sulastri, ia mengatakan langkah awal untuk Sugik adalah YPK akan mengantarkan Sugik ke Puskesmas Manyar untuk periksa kehamilan dan Kelurahan Manyar.

"Di Kelurahan Manyar itu untuk mendapat surat penduduk T4 (tempat tinggal tidak tetap). Dengan keterangan T4 itulah, kami akan menguruskan surat ke Dinas Sosial agar Sugik mendapatkan layanan di RSUD dr Soetomo secara gratis. Kami sering berhasil dengan cara itu," kata Maria Sulastri menambahkan. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/178907/pasien-hiv-banyuwangi-sulit-akses-persalinan-jamkes

Lowongan Kerja Tenaga Lapangan 2016



ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

TENAGA LAPANGAN (TL)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : Juni 2016 – Mei 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  4. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  5. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  6. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  7. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 27 Mei 2016, Pkl 17.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 22 Mei 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 23 Mei 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 30 Mei 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 31 Mei 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 1 Juni 2016

Gelombang 2: Lowongan Konselor Adiksi dan Konselor VCT Tahun 2016


ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

Konselor Adiksi dan Konselor HCT (Kode KA dan KV)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : April 2016 – Maret 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Mempunyai pengalaman kerja di posisi Konselor*
  4. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  5. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  6. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  7. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  8. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
*Yayasan Orbit dalam periode satu tahun kedepan akan menyediakan pembiayaan untuk mengikutsertakan konselor yang belum terlatih pada pelatihan khusus Adiksi dan atau VCT

Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 29 Maret 2016, Pkl 24.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 17 April 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 21 April 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 22 April 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 23 April 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 25 April 2016



Lowongan Konselor Adiksi dan Konselor VCT Tahun 2016

ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

Konselor Adiksi dan Konselor HCT (Kode KA dan KV)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : April 2016 – Maret 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Mempunyai pengalaman kerja di posisi Konselor*
  4. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  5. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  6. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  7. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  8. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
*Yayasan Orbit dalam periode satu tahun kedepan akan menyediakan pembiayaan untuk mengikutsertakan konselor yang belum terlatih pada pelatihan khusus Adiksi dan atau VCT

Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 29 Maret 2016, Pkl 24.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 24 Maret 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 30 Maret 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 31 Maret 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 1 April 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 4 April 2016