Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in
Yayasan Orbit adalah Organisasi Non Pemerintah yang berdiri pada Juli tahun 2005.
Pembentukan organisasi berdasar atas kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Yayasan Orbit digawangi oleh para aktivis NAPZA dan HIV – AIDS yang berasal dari komunitas Korban Napza di Surabaya – Jawa timur dengan orientasi pada program pemberdayaan masyarakat.

Orbit Update News

Dua Pengedar Ganja Lapas Tanjung Gusta Medan Dituntut 15 Tahun

 Kamis, 19-10-2017 | 17.04 ~ Oleh : Ayul Anhdim









Surabaya pojokpitu.com, Ayub Haskiyah Oroh dan Bayu Maulana, dua pemuda asal Gresik ini dituntut 15 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum Kejati Jatim. Terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 114 sebagai pengedar narkoba.

Terdakwa ditangkap oleh BNNP Jatim karena menjadi jaringan pengedar ganja Lapas Tanjung Gusta Medan. Selain dituntut berat, kedua terdakwa juga didenda Rp 5 milyar subsider 6 bulan penjara.

Atas tuntutan tersebut, kedua terdakwa akan melakukan pembelaan pada persidangan berikutnya.

Kuasa hukum terdakwa, Rudhy Wedhasmara, sangat menyayangkan dengan tuntutan jaksa, karena terdakwa hanya sebagai kurir bukan pengedar.

Seperti diketahui terdakwa ditangkap oleh petugas BNNP Jatim saat sedang mengambil paket JNE yang berisikan ganja sebanyak hampir 10 kilogram, barang haram tersebut dikirim dari Lapas Tanjung Gusta Medan yang ditujukan kepada kedua terdakwa.(end)

Jaksa Ini Kejam, Tuntut Dua Kurir Ganja 15 Tahun Penjara

Kembali lakukan VCT

Yayasan ORBIT kembali melakukan VCT. Seperti biasa kegiatan tersebut dilakukan untuk upaya penanganan dini terhadap HIV/AIDS, serta memudahkan seseorang untuk mengakses ARV jika mendapat hasil tes positif.
Kali ini kegiatan tersebut dilakukan di "KING KARAOKE" rungkut (19/10). Yayasan ORBIT bekerjasama dengan PKM Kalirungkut.

Analisa Situasi & Evaluasi Program HIV/AIDS

Analisa program melibatkan yayasan ORBIT, DINKES Sidoarjo, dan KPA Kabupaten Sidoarjo di Ale Garden Resto N'Cafe (19/10). Analisa program diharapkan dapat lebih membantu kelaksanaan program untuk melaksanakan sosialisasi dan penjangkauan terkait HIV/AIDS.

Yayasan ini rajin mengadakan Mobile VCT

Yayasan Orbit Surabaya kembali mengadakan mobile VCT untuk melakukan tes tentang HIV dan Hepatitis C. Seperti biasa kegiatan tersebut diberlakukan untuk umum namun lebih diprioritaskan untuk para pecandu atau mantan pecandu. Kegiatan VCT dilakukan pada 10 Okt 2017 dan rencana akan mengadakan VCT lagi pada 24 okt 2017.

VCT ini penting untuk dapat mengakses ke semua layanan yang dibutuhkan terkait pencegahan dan pengobatan HIV, AIDS, juga karena memberikan dukungan untuk kebutuhan kliennya seperti perubahan perilaku, dukungan mental, dukungan terapi ARV, dan pemahaman yang benar dan faktual tentang HIV, AIDS.

VCT ini dibutuhkan oleh semua orang yang ingin melakukan tes HIV dan untuk orang yang pernah melakukan tindakan maupun perilaku beresiko terjagkit HIV seperti aktifitas seksual, tindik tatoo, konsumsi narkoba melalui jarum suntik dan sebagainya.



Koordinasi antar Lembaga dan Pejabat Daerah terkait Program Layanan Kesehatan

Koordinasi antar Lembaga dan Pejabat Daerah terkait Program Layanan Kesehatan dilakukan pada hari Jumat, 29 Sept 2017. Koordinasi dihadiri oleh Miko Alcatraz seorang Pekerja Lapangan (PL-penasun) dari Yayasan ORBIT Surabaya dengan Kepala PKM Kota Sidoarjo dr. Atok dan Kabag Program Layanan Alat Suntik Steril (LASS) Bpk. Santoso.

Bawa 40 Kg Ganja, Dua Terdakwa Divonis 20 Tahun Penjara

Kamis, 14-09-2017
Oleh: Ayul Anhdim



Surabaya pojokpitu.com, Kedapatan memiliki 40,48 kilogram ganja, dua orang terdakwa yaitu Eko Agus Susanto dan Agung Dzikrulloh akhirnya harus menerima nasib pahit.

Keduanya oleh majelis hakim yang diketuai Ari Jiwantara, akhirnya dijatuhi pidana 20 tahun penjara oleh hakim.

Vonis kepada kedua terdakwa ini sendiri terbilang lebih rendah dari tuntutan jaksa sebelumnya. Jaksa sebelumnya menuntut pidana seumur hidup kepada kedua terdakwa ini.

Dalam kasus ini, keduanya terbukti melanggar pasal 114 juncto pasal 132 ayat 1 undang - undang 35 tahun 2009 tentang narkoba.

Rudi Wedhasmara, selaku kuasa hukum terdakwa, menanggapi putusan tersebut. "Terjadi perbedaan upaya hukum yang ditempuh dua terdakwa. Terdakwa Agung langsung mengajukan keberatan dan menyatakan banding karena merasa dirinya hanyalah diajak dan tidak mengetahui barang yang diambil adalah ganja. Sementara terdakwa lainnya, yaitu Eko Agus masih pikir - pikir."

Seperti diketahui, dua terdakwa ini berhasil ditangkap kepolisian karena dinilai telah membawa 43 paket ganja seberat 40 kilogram dari sebuah perusahaan ekspedisi di Jombang pada 26 Desember 2016 silam. Eko dan Agung dinilai merupakan satu bagian dari sindikat narkotika narapidana Lapas Kelas I Surabaya bernama Agus alias Tetek.(end)

pojokpitu.com/baca.php



Efek Mengerikan Pil PCC: Bikin Nge-fly, Halusinasi hingga Tewas

Niken Purnamasari - detikNewsEfek Mengerikan Pil PCC: Bikin Nge-fly, Halusinasi hingga Tewas
 Foto: Siti Harlina/detikcdom


Jakarta - Penggunaan obat PCC (paracetamol, caffeine, dan carisoprodol) membuat heboh warga Kendari. Beberapa penggunanya ada yang berhalusinasi, lari ke laut hingga tenggelam. Obat itu juga telah merenggut nyawa sejumlah orang. Seberapa mengerikannya obat PCC?

Seperti kejadian yang dialami seorang siswa SD berinisial R asal Kendari yang tewas akibat overdosis PCC. Bocah itu juga mencampur PCC dengan Somadril dan Tramadol.
Efek mengerikan dari PCC juga dialami Riski (20), warga Kendari, Sulawesi Tenggara. Ayah Riski, Rauf, mengatakan anaknya diketahui mengonsumsi obat bersama adiknya. Awalnya Riski berhalusinasi hingga melompat ke got depan rumah.

"Anak saya meminum obat mumbul yang dicampur dengan pil PCC, awalnya melompat ke got depan rumah. Adiknya berhasil diselamatkan, namun kakaknya bernama Riski berlari ke arah laut dan menceburkan dirinya," terang Rauf.
Korban kakak-adik ini merasa kepanasan, efek dari obat yang dikonsumsinya. Sang kakak berlari ke arah laut dan menceburkan diri. Sayangnya, ia tenggelam dan ditemukan sudah tidak bernyawa.

Dari keterangan Menteri Kesehatan Nila Moeloek, obat PCC dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan. Data Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara mengatakan saat ini sudah terdapat 60 korban penyalahgunaan obat PCC yang dirawat di tiga RS. Korban dirawat di RSJ Kendari (46 orang), RS Kota Kendari (9 orang), dan RS Provinsi Bahteramas (5 orang).

"Pasien yang dirawat berusia antara 15-22 tahun mengalami gangguan kepribadian dan gangguan disorientasi, sebagian datang dalam kondisi delirium setelah menggunakan obat berbentuk tablet berwarna putih bertulisan 'PCC' dengan kandungan obat belum diketahui," ujar Menkes dalam siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (14/9/2017).

dr Hari Nugroho dari Institute Of Mental Health Addiction and Neurosience (IMAN) mengatakan obat PCC sebenarnya merupakan obat yang bersifat relaksan atau yang berfungsi untuk melemahkan otot-otot kejang. Jika dikonsumsi berbutir-butir, efek yang ditimbulkan adalah perasaan 'fly'.

"Kalau dicoba oleh anak-anak, risiko terjadinya keracunan akan lebih besar," ujar Hari.

PCC sendiri termasuk obat keras. Obat tersebut tidak bisa dikonsumsi sembarangan dan harus dengan izin dokter. Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari mengatakan PCC digunakan sebagai penghilang rasa sakit dan obat sakit jantung.
Selain itu, Arman menegaskan PCC berbeda dengan Flakka, meski efeknya disebut-sebut hampir mirip, yakni membuat pemakainya berhalusinasi.

"Menurut literatur yang kami peroleh memang kandungan obat ini sementara ini bukan merupakan narkotik dan juga bukan yang sekarang ini tersebar di tengah masyarakat adalah jenis Flakka, bukan," ujarnya.
(nkn/elz)

https://news.detik.com/berita/d-3644113/efek-mengerikan-pil-pcc-bikin-nge-fly-halusinasi-hingga-tewas 

Eksepsi Ditolak, Sidang Perkara Narkoba 17,5 Kg Sabu dan Ribuan Inek Dilanjutkan




13-09-2017 - http://bidik.co.id/wp-content/uploads/2017/09/OL-rudi-wedhasmara-narkoba-rudy.jpgRudy Whedasmara, penasehat hukum terdakwa. (sumber: Youtube)

SURABAYA|BIDIK – Rudy Wedha Asmara, penasehat hukum Jayus Yudas Pratama, terdakwa perkara kepemilikan narkoba sebanyak 17,5 Kg sabu, 1.220 butir pil happy five dan 11.730 butir pil ekstasi, berjanji bakal membuktikan di persidangan bahwa kliennya tersebut layak divonis tidak bersalah.

Hal itu dilakukan sesaat majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dalam putusan selanya menyatakan bahwa eksepsi (bantahan dakwaan, red) yang diajukan pihak terdakwa ditolak.

Dengan ditolaknya eksepsi terdakwa, artinya sidang perkara ini bakal dilanjutkan dengan pembuktian dan pemeriksaan para saksi. “Kita hormati putusan hakim, namun yang pasti kita akan buktikan dipersidangan bahwa terdakwa layak dinyatakan tidak bersalah,” ujarnya sesaat usai sidang, Selasa (12/9/2017).

Perkara ini berawal ketiak polisi membekuk Dharma (terdakwa berkas terpisah) pada 30 Maret 2017 lalu. Saat itu dia sedang dalam perjalanan mengantar sabu-sabu di Jalan Raya Rungkut Asri. Dari tangannya, polisi menemukan sepoket sabu seberat 8,82 gram.

Setelah diinterogasi, Dharma mengaku baru saja bertransaksi 200 gram SS dan 1.500 butir ekstasi kepada seorang pemesan dengan sistem ranjau. Selama ini dia mengatakan selalu mengajak istri dan anaknya agar tidak dicurigai polisi. Pria 25 tahun itu menyatakan diperintah seseorang bernisial JM melalui pesan BBM. Namun, petugas mendapatkan informasi bahwa barang tersebut dipasok Jayus Yudas.

Sekitar 14 jam setelah penangkapan Dharma, polisi membekuk Jayus di kamar 511 Hotel Efora. Saat itu dia bersama dengan istri dan dua anaknya. Jayus, tampaknya, sadar bahwa dirinya sudah diintai polisi sehingga tidak pulang ke rumah kontrakan di Perum Purimas Cluster Legian Paradise H/6 No 2.
Sidang dilanjutkan pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum. (eno)

KORBAN

IA tak punya orang tua, tapi wawasannya luas, sanggup melihat yang orang luput atau tak sanggup melihatnya. Konco-konconya salut, misalnya, ke mereka yang ngaku senasib dengan kaum muslim di Rohingya, Myanmar. Ia tak serta-merta.

’’ Tunggu dulu!” sergahnya hampir senja di bawah pohon ketapang. ’’Kok saya masih melihat mereka tertawa, makan-makan di mal, cekikikan di tempat wisata... Padahal sebelumnya orang-orang itu ngaku senasib ma orang-orang yang ditembaki di Rohingya. Jadi, apa definisi senasib?”

’’Maksudmu senasib dengan korban di sana?”

’’Hmmm... Bukan ’korban’. Nanti dikira mereka seperti sapi atau kambing di sini yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. ’Korban’ kan akar katanya ’qurb’. Maknanya sekitar mendekatkan diri. Saha- bat dekat kan disebut ’karib’, ya dari ’qurb’ itu... ”

Lagi-lagi karib-karibnya pada melongo. Ternyata ’’korban” bukan kayak ’’ victim” dalam bahasa Inggris. ’’Pantesan sering dibilang, cinta perlu pengorbanan,” bisik Sastro ke Jendro alias Jendrowati, kekasihnya. Jendro balas membisik di pohon randu, ’’Setuju. Cinta perlu pengorbanan. Perlu pendekatan.”

’’Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itu cintamu mulai pudar!!!” jerit seseorang dalam suatu pemanggungan #TaliJiwo, semacam puisi. ’’Setetes pun aku tak merasa berkorban ketika menembus hujan dan badai menuju rumahnya, karena aku mencintainya penuh seluruh.” Ooooooh ... Di bawah rembulan pantai selatan itu Jendro melongo. Sastro menenangkan, ’’Mungkin seniman ini cuma memanfaatkan saja pengertian ’korban’ yang masih beredar luas dan salah kaprah di masyarakat.”

Esoknya Sastro-Jendro kembali bertemu Si Wawasan Luas. Soal ’korban’ tak mereka singgung lagi. Obrolan di warung kopi itu langsung ke soal definisi ’’senasib”.
 
 ’’Kalau yang ditembaki di Rohingya istri, mungkin kita tidak tertawa-tawa. Itu namanya senasib- sepenanggungan. Senasib saja, beda makna. Kita bisa bilang senasib dengan yang ditembaki di Rohingya, habis itu ketawa-tawa di nikahannya Raisa,” Satro dan Jendro timpaltimpalan.


BUDIONO/JAWA POS
 
Si Wawasan Luas menarik kepalanya ke belakang, bibirnya mencibir. ’’Belum tentu ketawa mereka berarti lena dan bahagia,” gumamnya. ’’Siapa tahu didalam tawa mereka di mal, di tempat wisata, dan lain-lain itu terkandung tangis juga. Semar kalau tertawa kan juga begitu. Di dalam tawanya sekaligus terkandung air matanya yang paling bening.” Saking jembarnya pandangan Si Wawasan Luas ini semua secara aklamatif memilihnya sebagai sutradara untuk pementasan drama pendek. Judulnya Antara Ronaldo dan Aung San Suu Kyi.

Dalam naskah yang ditulis Sastro Jendro ditekankan bahwa atas kasus di negerinya yaitu Rohingya, Aung San Suu Kyi dianggap sudah tak main perdamaian lagi. Nobel Perdamaian yang disandangnya harus ia kembalikan. Apakah Ronaldo juga harus mengembalikan piala-pialanya termasuk FIFA Ballon d’Or bila sudah tak main bola lagi?

Si Wawasan Luas oke. Syaratnya, selama latihan pemain tak boleh absen. Pada latihan ke17 pemeran kekasih Ronaldo absen sekali. Bolosnya karena kesiangan. Semalam insomnia gegara suntuk memikirkan duluan mana, telor apa ayam. DPR yang tak punya orang tua mungkin membubarkan KPK yang juga tak punya orang tua, atau KPK mungkin nangkepin orang-orang DPR yang mungkin akan membubarkannya. Sutradara memecatnya!

Sastro-Jendro mbatin, ’’Wawasanmu tak luas lagi. Kamu sanggup melihat yang tak kami lihat? Tidak! Orang tua pemain ini sudah beli tiket pesawat PP Aceh-Jogja untuk pergelaran 28 Oktober mendatang. Itu ngutang. Mestinya tanya dulu kami apakah pemain ini punya orang tua?” (*)


Jawa Pos

Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.net


KERJA BERSAMA UNTUK PERUBAHAN PEREMPUAN DAN ANAK INDONESIA


Surabaya (M.Sindoraya) – Rangkaian kegiatan Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Tahun 2017 dengan tema “Sinergi untuk Perubahan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) hari ini kembali dilakukan. Kemarin, usai mengikuti kegiatan sesi inspirasi, yaitu penyampaian pengalaman dan kisah keberhasilan dalam upaya mendukung pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Indonesia, para peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, yakni lembaga masyarakat, organisasi keagamaan, akademisi, lembaga profesi, dunia usaha dan media dari seluruh provinsi di Indonesia hari ini diajak untuk mengikuti kegiatan kunjungan lapangan dan sesi pasar ide.

“Seluruh rangkaian kegiatan PUSPA 2017, mulai dari sesi inspirasi, kunjungan lapangan, pasar ide, hingga konferensi merupakan upaya Kemen PPPA untuk menyediakan arena pertukaran pengetahuan dan pengalaman; menyediakan arena dialog antara pemerintah dan masyarakat; serta memperkuat sinergi, kolaborasi, dan kemitraan antar elemen masyarakat untuk memperkuat gerakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak menuju perempuan dan anak Indonesia yang sejahtera. Kami sadar kompleksitas permasalahan perempuan dan anak di Indonesia tidak mungkin diatasi oleh pemerintah saja. Diperlukan sinergi, koordinasi, dan kerja bersama untuk menciptakan perubahan yang lebih nyata dan cepat dengan beberapa prinsip, yaitu mau berbagi, semua penting, tidak saling menyalahkan, transparan, dan ikhlas,” tutur Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kemen PPPA, Erni Agustina di Kota Surabaya, Selasa (29/8).

Sejumlah titik yang hari ini menjadi lokasi kunjungan lapangan kegiatan PUSPA 2017, yakni (1) Yayasan Hotline Surabaya; (2) SLB Agca Center; (3) Kampung Lawas Maspati; (4) Wardhana; (5) Kampung Literasi; (6) Sanggar Anak Isco; (7) Kampung Kue; (8) Dolly Saiki; (9) Sanggar Alang-Alang, dan (10) Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS). Pada kunjungan lapangan ini, peserta melihat langsung praktek-praktek cerdas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di sekitar Kota Surabaya. Proses ini diharapkan menjadi ajang saling belajar dan memperkaya wawasan, baik bagi tuan rumah maupun peserta.

Sementara itu dalam sesi pasar ide dihasilkan 179 Inisiasi; 6 inspirator terpilih dari berbagai Provinsi yaitu Jawa Timur, Aceh, Kalimantan Timur, Maluku dan Banten; 50 gagasan; 439 transaksi.

Temu Nasional PUSPA 2017 yang berlangsung pada 27 – 29 Agustus 2017 di Surabaya, Jawa Timur ini menghasilkan beberapa rekomendasi, yakni :
  1. Melakukan replikasi dan implementasi dari berbagai kisah/cerita keberhasilan lembaga masyarakat di daerah dalam rangka membangun Sinergi.
  2. Membangun Mekanisme Komunikasi antara Lembaga Masyarakat dengan Dinas PPPA di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.
  3. Mendorong lahirnya berbagai regulasi di daerah dalam melindungi hak perempuan dan anak Indonesia yang mengacu pada Pancasila, UUD 45 dan peraturan perundangan yang berlaku.
  4. Perlu peningkatan kerjasama yang optimal dan harmonis antar kementerian dalam peningkatan partisipasi publik untuk kesejahteraan perempuan dan anak.
  5. Perlu adanya Databsae lembaga masyarakat dalam membangun komunikasi, informasi dan kemitraan.
  6. Perlu aktualisasi potensi perempuan secara profesional tanpa membedakan ras, agama, suku, budaya dan golongan untuk tercapainya perempuan mandiri, berkualitas dan bermartabat serta sejahtera.
  7. Berkomitmen membangun sinergitas dengan memegang prinsip-prinsip sinergi, yaitu: mau berbagi, semua penting, tidak saling menyalahkan, transparan dan ikhlas.
http://www.mediasindoraya.com/2017/08/30/kerja-bersama-untuk-perubahan-perempuan-dan-anak-indonesia/