Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in
Yayasan Orbit adalah Organisasi Non Pemerintah yang berdiri pada Juli tahun 2005.
Pembentukan organisasi berdasar atas kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Yayasan Orbit digawangi oleh para aktivis NAPZA dan HIV – AIDS yang berasal dari komunitas Korban Napza di Surabaya – Jawa timur dengan orientasi pada program pemberdayaan masyarakat.

Orbit Update News

Lowongan Kerja Tenaga Lapangan 2016



ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

TENAGA LAPANGAN (TL)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : Juni 2016 – Mei 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  4. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  5. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  6. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  7. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 27 Mei 2016, Pkl 17.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 22 Mei 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 23 Mei 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 30 Mei 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 31 Mei 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 1 Juni 2016

Gelombang 2: Lowongan Konselor Adiksi dan Konselor VCT Tahun 2016


ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

Konselor Adiksi dan Konselor HCT (Kode KA dan KV)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : April 2016 – Maret 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Mempunyai pengalaman kerja di posisi Konselor*
  4. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  5. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  6. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  7. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  8. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
*Yayasan Orbit dalam periode satu tahun kedepan akan menyediakan pembiayaan untuk mengikutsertakan konselor yang belum terlatih pada pelatihan khusus Adiksi dan atau VCT

Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 29 Maret 2016, Pkl 24.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 17 April 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 21 April 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 22 April 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 23 April 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 25 April 2016



Lowongan Konselor Adiksi dan Konselor VCT Tahun 2016

ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

Konselor Adiksi dan Konselor HCT (Kode KA dan KV)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : April 2016 – Maret 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Mempunyai pengalaman kerja di posisi Konselor*
  4. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  5. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  6. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  7. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  8. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
*Yayasan Orbit dalam periode satu tahun kedepan akan menyediakan pembiayaan untuk mengikutsertakan konselor yang belum terlatih pada pelatihan khusus Adiksi dan atau VCT

Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 29 Maret 2016, Pkl 24.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 24 Maret 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 30 Maret 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 31 Maret 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 1 April 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 4 April 2016


Tiga Kurir Narkoba Jaringan Antar Pulau, Lolos Dari Tuntutan Hukuman Mati

Surabaya – Tiga pengedar sabu asal Kalimantan masing-masing Rujian (36) asal Samarinda, Iskandar Zulkarnaen (35) asal Balikpapan dan M Yunus (40) asal Banjarmasin, akhirnya menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Dalam sidang kali ini, ketiganya divonis masing-masing 20 tahun penjara.

“Menyatakan, terdakwa secara sah dan meyakinkan memiliki, atau menguasai barang narkotika jenis sabu, dan menghukum terdakwa masing-masing 20 tahun penjara,” kata ketua majelis hakim Musa Nur Aini, Selasa (5/01/2016) sore.

Selain itu, ketiga terdakwa juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 1 miliar subsider 3 bulan kurungan.

Vonis yang dijatukahkan Hakim Musa ini berbeda dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cakra dari Kejari Tanjung Perak yang sebelumnya menuntut ketiga terdakwa dengan hukuman mati.

Menurut Hakim Musa, tuntutan tersebut disesuaikan dengan peranan ketiga terdakwa yang hanyalah merupakan seorang kurir.

“Vonis dua puluh tahun ini dijatuhkan karena terdakwa hanyalah seorang kurir,” ungkapnya di akhir persidangan.

Dalam putusannya, Hakim Musa menyatakan ketiganya terbukti melanggar pasal 114 ayat (1) Juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Mendengar putusan tersebut, para terdakwa yang sebelumnya ditangkap atas kepemilikan sabu-sabu seberat 2,1 kilogram dan 9000 butir ekstasi, hanya terdiam dan pasrah.

Atas putusan tersebut, Rujian, Iskandar Zulkarnaen dan M Yunus melalui tim pembelannya Rudi dari Pos Bantuan Hukum Orbit mengaku akan pikir-pikir mengajukkan banding.

“Kami pikir-pikir pak Hakim,” kata Rudi.

Sebagaimana diketahui, para terdakwa ini ditangkap petugas unit satreskoba polres pelabuhan Tanjung Perak pada pada 02 Maret 2015 sekitar jam 02.00 WIB, saat KM Kumala sedang melakukan trip pelayaran dari Surabaya ke Banjarmasin Pulang-Pergi.

Dalam kesaksiannya, Sucipto Utomo yang menjadi nakhoda Kapal M otor (KM) Kumala menerima laporan dari Jainal sekuriti kapal perihal adanya barang mencurigakan didalam tas ransel berwarna coklat yang ketinggalan di ruangan dek III kelas ekonomi.

Mengetahui ada barang yang mencurigakan, nahkoda KM Kumala langsung melaporkan temuan itu ke pemilik kapal yang ada di Jakarta, dan selanjutnya memerintahkan markonisnya Fakturohman untuk melakukan pengamanan.

Sesampainya kapal di Surabaya, Sucipto Utomo kemudian memerintahkan Galih Sudrajat yang menjadi mualim KM Kumala melaporkan temuan itu ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Selanjutnya, oleh Sat Reskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak, tas ransel berwarna coklat itupun dibuka, ternyata didalamnya berisi sabu dan pil ekstasi yang terbungkus kardus.

“Tas ransel berwarna coklat itu kami amankan, dan tidak dibuka sama sekali. Tas itu dibuka oleh anggota polisi dan disaksikan langsung pimpinan kami dari Jakarta,” ungkap Sucipto Utomo waktu menjadi saksi dipersidangan.

Diakui saksi Fakturohman, terdakwa Rujian dan Iskandar Zulkarnaen ditangkap polisi setelah menemui dirinya dan mengaku jika tas ransel miliknya yang berwarna coklat ketinggalan di Dek 3 kelas ekonomi, dua trip yang lalu.

“Itu terjadi satu minggu setelah tas ransel ditemukan, apa yang sampeyan cari, saya mencari tas warna coklat, langsung ditangkap polisi” kata saksi Fakturohman menjawab pertanyaan Hakim Musa soal penangkapan dua dari tiga terdakwa.

Oleh polisi ketiga terdakwa dijerat dengan Pasal 114 Ayat (2), Pasal 115 Ayat (2)  dan Pasal 111 Ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. (Han/Son).

Sumber: https://www.deliknews.com/2016/01/05/tiga-kurir-narkoba-jaringan-antar-pulau-lolos-dari-tuntutan-hukuman-mati/


HIV/AIDS cases continue to increase in regions

Aiding each other: Several youths hold balloons to commemorate World AIDS Day at the Catur Muka monument in Denpasar, Bali, on Tuesday. The youths called on the public not to discriminate against people living with HIV/AIDS and to stay away from drugs and casual sexual relationships.(JP/Zul Trio Anggono)

The number of HIV/AIDS cases in a number of regions of Indonesia continues to increase as people around the globe commemorate World AIDS Day.

The closure of the Dolly red-light district in Surabaya by Mayor Tri Rismaharini in June this year is feared to have increased the prevalence of HIV/AIDS in a number of nearby regions.

NGO Our Right To Be Independent (Orbit) has revealed that some commercial sex workers operating in cities around Surabaya were former inhabitants of Dolly.

“We found a sex worker in Krengseng red-light district, near the Tarik district railway station in Sidoarjo regency, for example, who used to work at Dolly,” Orbit activist Witanto said on Tuesday.

Increasing numbers of commercial sex workers, he said, were also evident in other neighboring regions such as along the Berantas River embankment in Tulungagung regency.

According to Orbit Foundation’s data, increased HIV/AIDS prevalence was also found in Malang, Sidoarjo, Banyuwangi, Mojokerto, Jember, Kediri, Pasuruan and Madiun.

Surabaya AIDS Prevention Commission (KPA) secretary Sophiati Sutjahjani, however, said that there was no correlation between the Dolly closure and increasing HIV/AIDS prevalence in a number of cities in East Java.

“HIV/AIDS can only be detected six to seven years after infection occurs. If many cases have been found now, you cannot say it’s because of the Dolly closure,” Sophiati told The Jakarta Post.

An increase in HIV/AIDS cases was also detected in Yogyakarta as the Provincial Health Agency recorded 45 HIV-positive public transportation drivers from 1993 to 2015.

Using the World Health Organization (WHO) standard — in which a confirmed HIV-positive person represents 10 unknown cases — then the number of HIV-positive public transportation drivers is predicted to be 450 in Yogyakarta province.

“People working in the transportation sector are [considered to be at] high risk,” the provincial KPA secretary Riswanto said on the sidelines of a seminar on HIV/AIDS in Yogyakarta on Tuesday.

“In HIV/AIDS mitigation, we talk about the 3M group, or mobile men with money,” he added.

If men in this category are infected with HIV, there is a chance they will transfer the virus to their respective spouses.

“Drivers and transportation crew members have to start living a healthy lifestyle and avoiding behavior that risks HIV infection, such as changing sex partners and not using condoms,” Riswanto said.

Tri Wahyu, a driver of a tourist bus who took a free HIV/AIDS test at the seminar venue said that he wanted to know if he was infected with HIV or not.

“I once enjoyed sex with women other than my wife,” he said.

Yogyakarta Health Agency recorded a total of 3,146 HIV-positive cases from 1993 to September this year, of which 1,249 had entered the AIDS phase.

Meanwhile in Riau, the provincial health agency together with the local KPA, the Indonesian Red Cross (PMI) and a number of NGOs held a rally to commemorate World’s AIDS Day on Tuesday, distributing flowers and ribbons to visitors and passengers at the Sultan Syarif Kasim II International Airport, Pekanbaru.

Riau Health Agency head Andra Sjafril said the campaign was held to remind people to maintain healthy and responsible sexual behavior to avoid HIV/AIDS.

“The mission is to prevent people from being infected by HIV/AIDS, which still has no cure,” Andra said, Tuesday.

As of October 2015, Riau recorded 1,889 cases of HIV, the 16th highest number among the 34 provinces.

Sumber: http://m.thejakartapost.com/news/2015/12/02/hivaids-cases-continue-increase-regions.html#sthash.BBNeaFUk.dpuf


10 Panti Pijat di Surabaya Habiskan Puluhan Ribu Kondom

 
SURABAYA - Upaya menekan penularan penyakit HIV /AIDS di Surabaya dilakukan di sejumlah panti pijat dengan penggunaan Kondom.

Setidaknya ada 10 panti pijat di Surabaya yang dilakukan pendampingan oleh Yayasan Our Right To Be Independent (ORBIT).

Petugas lapangan yayasan ORBIT Adi Purnomo mengatakan, pihaknya telah melakukan pendampingan di 10 panti pijat di Surabaya.

Selain memberikan kondom kepada sejumlah panti tersebut, yayasan ORBIT juga melakukan voluntary conseling and testing (VCT).

Untuk kondom, yayasan ORBIT mengirimkan 1 dos besar kondom. Dimana 1 dos tersebut berisi 30 pack. Per pack berisi 144 buah kondom.

"Ada 10 panti pijat yang menjadi dampingan kami. Masing-masing biasa kami kirimi 1 dos kondom," kata Adi, Selasa (1/12/2015).

Adi juga menyebut, pengelola panti pijat atau biasa yang disebut Mami ini menelpon Yayasan ORBIT ketika minta dikirimi Kondom.

"Biasanya maminya telepon minta dikirimi Kondom. Kalau habis biasanya telepon dan langsung kami kirim," jelasnya.

Sementara VCT yang dilakukan adalah bekerjasma dengan pihak terkait untuk melakukan konseling.

Konseling ini, kata Adi, kuncinya adalah bisa berkomukasi dengan mereka yang beresiko tertular. Sayangnya Adi tidak menyebut 10 panti pijat yang menjadi dampingan Yayasan Orbit tersebut.

Namun, penggunaan Kondom ini adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah penularan HIV/AIDS.

"Sangat efektif. Terutama panti pijat yang plus-plus. Selain panti pijat ada juga tempat hiburan yang juga kita berikan gratis kondom," pungkasnya.
 
Sumber:  http://daerah.sindonews.com/read/1065946/23/10-panti-pijat-di-surabaya-habiskan-puluhan-ribu-kondom-1448965864

4.000 Kondom Dibagikan Gratis Tiap Bulan di Pelabuhan dan Panti Pijat


SURABAYA, KOMPAS.com - Aksi pencegahan penularan HIV/AIDS dilakukan ke berbagai kalangan masyarakat.

Di Surabaya, sebuah lembaga nonpemerintah secara rutin membagikan kondom kepada para sopir truk dan buruh angkut di Pelabuhan Tanjung Perak.

Para sopir truk dan buruh angkut dinilai sebagai kelompok masyarakat yang juga rentan tertular HIV/AIDS.

"Per bulan kami sebar sekitar 4.000 kondom gratis di pelabuhan Tanjung Perak," kata Petugas Lapangan Yayasan Our Right To Be Independent (Orbit) Adi Purnomo, Selasa (1/12/2015).

Tidak hanya membagikan kondom gratis, Orbit juga menggelar pemeriksaan berjalan atau mobile visity kepada komunitas sopir dan buruh angkut secara berkala.

"Kendalanya, mereka tidak selalu ada, jadi penerima kondom gratis kadang tidak bisa diperiksa," tambahnya.

Pembagian kondom tidak hanya dilakukan pelabuhan, Orbit juga menyebar ratusan kondom ke puluhan panti pijat di Surabaya yang merupakan mitra dampingan yayasan ini.

"Pengelola panti pijat kalau persediaan kondomnya habis, pasti menghubungi kami, dan langsung kami kirim," tambah Adi.

Untuk satu panti pijat, dijatah satu paket dos besar kondom berisi 30 bungkus. Setiap bungkusnya berisi 144 buah kondom.

Sama dengan komunitas pelabuhan, panti pijat juga diberi layanan gratis pemeriksaan.

"Tidak bisa dipungkiri, panti pijat di Surabaya masih banyak yang menyediakan layanan "plus"," pungkas Adi.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2015/12/01/22260271/4.000.Kondom.Dibagikan.Gratis.Tiap.Bulan.di.Pelabuhan.dan.Panti.Pijat

Cegah HIV/AIDS, 4.000 Kondom Dibagikan Gratis Kepada Sopir dan Buruh Angkut


SURABAYA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Aksi pencegahan penularan HIV/AIDS dilakukan ke berbagai kalangan masyarakat.

Di Surabaya, sebuah lembaga nonpemerintah secara rutin membagikan kondom kepada para sopir truk dan buruh angkut di Pelabuhan Tanjung Perak.

Para sopir truk dan buruh angkut dinilai sebagai kelompok masyarakat yang juga rentan tertular HIV/AIDS.

"Per bulan kami sebar sekitar 4.000 kondom gratis di pelabuhan Tanjung Perak," kata Petugas Lapangan Yayasan Our Right To Be Independent (Orbit) Adi Purnomo, Selasa (1/12/2015).

Tidak hanya membagikan kondom gratis, Orbit juga menggelar pemeriksaan berjalan atau mobile visity kepada komunitas sopir dan buruh angkut secara berkala.

"Kendalanya, mereka tidak selalu ada, jadi penerima kondom gratis kadang tidak bisa diperiksa," tambahnya.

Pembagian kondom tidak hanya dilakukan pelabuhan, Orbit juga menyebar ratusan kondom ke puluhan panti pijat di Surabaya yang merupakan mitra dampingan yayasan ini.

"Pengelola panti pijat kalau persediaan kondomnya habis, pasti menghubungi kami, dan langsung kami kirim," tambah Adi.

Untuk satu panti pijat, dijatah satu paket dos besar kondom berisi 30 bungkus. Setiap bungkusnya berisi 144 buah kondom.

Sama dengan komunitas pelabuhan, panti pijat juga diberi layanan gratis pemeriksaan.
"Tidak bisa dipungkiri, panti pijat di Surabaya masih banyak yang menyediakan layanan "plus"," pungkas Adi.

Sumber: http://jabar.tribunnews.com/2015/12/01/cegah-hivaids-4000-kondom-dibagikan-gratis-kepada-sopir-dan-buruh-angkut

Semangat Adi Tumbuh setelah jadi Aktivis

AMBIL SAMPEL : Aktivis tengah memeriksa darah seorang pekerja di sebuah panti pijat di Kota Surabaya.

SURYA.co.id |SURABAYA - Sejak penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya pada pertengahan 2014, para aktivis Yayasan Orbit (Our Right to be Independent) harus mencari kiat baru mendata para ODHA.

Mereka harus bergerilya ke tempat hiburan, panti pijat, pelabuhan, stasiun, bahkan ke jalan.
Sudah hampir setahun, Adi (35), petugas lapangan Yayasan Orbit berkeliling dari satu tempat karaoke ke lainnya untuk menemukan ODHA di Surabaya.

“Sekarang pemantauan korban HIV/AIDS memang lebih susah. Kami harus jemput bola ke jalan jalan untuk mencegah penularan. Setelah Dolly ditutup, peta pemantauan penyebaran HIV/AIDS berubah. Dulu, kami cukup memantau di lokalisasi sebagai kantong penyebaran HIV/AIDS,” kata Adi.

Pendampingan terhadap ODHA juga semakin sulit. Sebelum lokalisasi ditutup, kegiatan terpusat di satu tempat. Yayasan Orbit membuat kelompok kerja (pokja) di lokalisasi. Pokja ini berfungsi memberikan penyuluhan sekaligus pemeriksaan rutin terhadap orang yang rawan terinfeksi virus HIV.

Sekali pemeriksaan, ia bisa langsung menyasar puluhan orang yang ada di lokasi itu. Jika ada yang terdeteksi terjangkit HIV, maka pengobatannya langsung dilakukan di tempat itu.
“Sekarang tidak bisa seperti itu. Kalau kami temukan ada orang yang terdeteksi terinfeksi HIV, langsung kami antar ke puskesmas. Kami yang harus aktif mendatangi mereka untuk berobat ke puskesmas,” ujarnya.

Meski kini cara pemantauan semakin sulit, tidak lantas membuat Adi patah semangat. Dia mengaku bertekad mengabdikan hidupnya ikut membantu mencegah penyebaran virus mematikan itu. Adi punya alasan kuat untuk itu.

Dia sendiri sebenarnya juga ODHA. Itu buahnya karena dulu sebagai pecandu narkoba.
Adi mengetahui tertular HIV/AIDS ketika menjalani hukuman terkait aktivitasnya sebagai pengedar narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Porong pada 2007.

Ketika itu, semua narapidana di LP Porong diwajibkan ikut pemeriksaan HIV/AIDS. Hasil pemeriksaan, dokter menyatakan dia positif terinfeksi HIV.

Ia sempat down setelah mengetahui hasil pemeriksaan.

Hampir dua minggu, ia seperti orang linglung karena hidup ini tidak lagi ada artinya.
Namun, dia berhasil bangkit. “Saya mendapatkan banyak dukungan dari teman-teman sesama napi. Kata mereka saya tidak boleh terlalu bersedih. Kalau hanya memikirkan penyakit itu, nanti kesehatan saya semakin drop. Saya disuruh melupakan penyakit itu dengan melakukan hal-hal positif," ceritanya.

Setelah keluar dari LP, Adi masih belum berani menceritakan kondisinya yang sesungguhnya kepada keluarga. Secara pelan-pelan, ia menceritakan masalah itu ke keluarga. Awalnya kepada sang ibu. Ibunya sempat shock mendengar ceritanya.

Setelah ibunya dapat menerima keadaannya, Adi baru menceritakan masalah itu ke ayah dan kedua adik perempuannya.

“Kedua adik saya yang lama tidak bisa menerima. Mereka sudah berkeluarga semua. Mereka sempat melarang anak-anaknya main ke rumah orangtuaku. Ibu yang memberi pengertian ke adik-adik saya. Mereka akhirnya mau menerima, tapi prosesnya cukup lama,” katanya.

Keluarganya semakin menerima kondisi Adi, setelah ia aktif bergabung dengan komunitas yang peduli dengan ODHA. Adi sering mengajak teman-temannya yang aktivis bermain ke rumah. Merekalah yang memberikan pemahaman soal penyakit HIV/AIDS kepada keluarganya, terutama adik-adik Adi.

Dari situ kekhawatiran adik-adiknya terhadap penyakit Adi mulai pupus. Mereka bisa menerima kondisi Adi seutuhnya.

“Saya benar-benar bisa melupakan penyakit itu. Saya semakin aktif ikut kegiatan pencegahan penularan HIV/AIDS. Pada 2013 saya direkrut sebagi staf di Yayasan Orbit,” ujarnya.

Tahun lalu, Adi memutuskan menikah. Kepada gadis pilihannya, dia menjelaskan kondisi sesungguhnya sebelum mereka ke pelaminan.

Calonnya mengaku tidak percaya dengan pengakuan Adi, karena dia memang terlihat seperti orang normal. Penampilan Adi bersih dan tubuhnya juga segar, karena dia rajin meminum ARV (antiretroviral) sebagai terapi untuk ODHA. (haorrahman/samsul hadi)

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2015/11/30/semangat-adi-tumbuh-setelah-jadi-aktivis