Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in
Yayasan Orbit adalah Organisasi Non Pemerintah yang berdiri pada Juli tahun 2005.
Pembentukan organisasi berdasar atas kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Yayasan Orbit digawangi oleh para aktivis NAPZA dan HIV – AIDS yang berasal dari komunitas Korban Napza di Surabaya – Jawa timur dengan orientasi pada program pemberdayaan masyarakat.

Orbit Update News

Remaja Narkoba: Saya Kangen Ibu, Ingin Segera Sungkem

Bagas (bukan nama sebenarnya), 13, tidak bisa mengecap manisnya Lebaran bersama keluarga. Pasalnya, dia adalahremaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Dia terpaksa tinggal di panggon rehabilitasi untuk menebus dosa masa lalu.

LIPUTAN DIDA TENOLA, JAWA POS

SUARA takbir terdengar bersahutan di kawasan Pandugo Selasa petang (5/6). Kompleks perumahan tersebut sudah sepi. Kebanyakan warganya mudik. Namun, di sudut gang, sebuah rumah masih terlihat beraktivitas. Ada beberapa motor yang parkir berjajar di depannya.

Rumah itu merupakan kantor Yayasan Orbit. Di sana para pecandu narkoba yang ditangani BNN Kota Surabaya dititipkan. Di sebuah ruangan besar, sekumpulan orang tampak duduk bersila. Mereka duduk santai sambil mengobrol.

Merekalah para pecandu yang tetap tinggal di sana saat hari pertama Lebaran. Salah seorang di antara mereka adalah Bagas. Siswa kelas VIII SMP tersebut harus menahan rindu bertemu keluarga karena menjalani rehabilitasi.

''Baru masuk sini dua minggu,'' ujarnya malu-malu saat ditemui Jawa Pos.

Bagas menceritakan, dirinya direhabilitasi karena kecanduan sabu-sabu. Sejak kelas VI SD dia mengenal serbuk haram tersebut. Jika mengingat kembali, hanya penyesalan mendalam yang dirasakan.

Awalnya, sabu-sabu itu ditawarkan teman-temannya. Kala itu dia dibujuk bahwa serbuk putih tersebut rasanya enak. ''Sekali icip seterusnya ingin lagi,'' kata bungsu di antara dua bersaudara tersebut.

Hampir tiga tahun Bagas menjadi budak narkoba. Selama masa tersebut, dia berubah menjadi sosok pemberontak di dalam keluarganya. Emosinya mudah tersulut.

Dia juga jarang pulang ke rumah. Padahal, remaja yang gemar mendengarkan lagu-lagu dari grup band Superman Is Dead tersebut tergolong cerdas di sekolah. Daya ingatnya kuat. Penguasaan ilmu eksaknya juga tidak kalah jago.

''Terakhir dapat ranking II di kelas,'' tuturnya, lantas senyum-senyum.

Ibunya jadi sering khawatir dengan perkembangan Bagas. Mencium sesuatu yang tidak beres, Bagas lama-kelamaan ketahuan memakai sabu-sabu. Kaget, tidak percaya, marah, dan ingin menangis.

Begitulah perasaan keluarga Bagas saat itu. Namun, keluarganya tidak bisa menyalahkan Bagas sepenuhnya. Lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Putat Jaya yang tergolong zona merah peredaran narkoba turut memengaruhi perkembangan Bagas.

Semakin sering ibunya marah, Bagas malah semakin menjadi-jadi. Dia juga berani melawan ibunya. ''Iya, sering marah sama ibu,'' ucap Bagas lirih.

Tinggal di tempat rehabilitasi membawa perubahan besar pada diri Bagas. Pembawaannya yang temperamen perlahan-lahan luntur. Di tempat rehabilitasi, Bagas banyak memetik hikmah.

Terlebih saat momen Lebaran tahun ini. Bagas masih harus tinggal pada hari pertama. Jauh dari keluarga membuatnya dewasa. Hatinya hampa saat tersadar bahwa harus merayakan Lebaran tanpa sang ibunda.

''Saya kangen ibu. Kepengin cepet sungkem,'' kata ABG yang mengidolakan timnas sepak bola Italia tersebut.

Lebaran Bagas akan dihabiskan bersama para pecandu lain yang juga tidak bisa pulang ke kampung halaman. Bagi Bagas, kondisi itu tidak menjadi masalah.

Para pecandu yang dirawat di Orbit maupun para pengurus sudah dianggap keluarga kedua. Bagas merasa nyaman tinggal di sana. Ada hal-hal yang tidak bisa didapat saat bersenda gurau dengan pecandu lainnya.

''Di sini saling menyemangati. Saling share biar tidak pakai lagi,'' kata remaja yang bercita-cita menjadi tentara itu.

Hidup Bagas kini lebih teratur. Dia juga menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta. Selama dirawat di sana, Bagas terbiasa mengaji. Hal itulah yang membuatnya bahagia saat Lebaran tiba. (*/c15/oni/flo/jpnn)

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2016/07/06/45214/Remaja-Narkoba:-Saya-Kangen-Ibu-Ingin-Segera-Sungkem-


Kisah Yati Hamil Ketiga dan Terinveksi HIV/AIDS dari Suami Pertamanya yang Meninggal Dunia


SURYA.co.id | SURABAYA – Yati, bukan nama sebenarnya, terlihat menggunakan baju hitam dengan kondisi perut yang terlihat membesar. Ia mengidap HIV/AIDS. Ini kehamilan ketiganya.
Perempuan asal Kecamatan Sempu, Banyuwangi itu berada di Surabaya, 6 Juni 2016.

Yati mendapati dirinya mengidap HIV/AIDS sejak ia mengandung anak pertamanya dari suaminya yang pertama.

Berdasarkan hasil cek darah ia dinyatakan positif, sedangkan sang suami meninggal setelah ia melahirkan anak pertama.

Berbeda dengan dua kehamilan sebelumnya, dia masih difasilitasi rumah sakit daerah untuk mendapat layanan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak atau Prevention Mother to Child Transmission.

“Sejak awal saya sudah minta bantuan suster di puskesmas, tetapi mereka tidak bisa bantu kalau saya tidak punya KTP,” terangnya kepada SURYA.co.id.

Sedangkan untuk mengurus KTP, ia harus berangkat dari rumahnya di desa ke pusat Banyuwangi. Selain biaya yang tidak sedikit, ia juga harus terbelit birokrasi antara kelurahan, kecamatan dan Dispendukcapil.

“Ada sampai 5 kali saya bolak-balik, akhirnya saya menyerah. Masalahnya KK dan KTP saya yang habis masa berlakunya tidak diakui lagi,” ungkapnya.

Kini, ia dibayangi kekhawatiran menulari anaknya. Yati, sapaan akrabnya, sudah melaporkan kepada dokter kasus HIV di klinik VCT RSUD Blambangan pada Januari 2016.

Namun, hingga kini, belum ada kepastian penanganan PMTCT untuk calon bayinya karena tidak adanya KTP dan surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan kelurahannya.
Segala akses kesehatan untuk Yati pun terhenti.

“Saya dibantu LSM untuk memeriksakan diri ke RSUD Sidoarjo, tetapi karena responnya lama akhirnya kami ke RS dr Soetomo. Konsultasi kehamilan dan kelahiran juga terpaksa dilakukan atas biaya sendiri,” jelasnya.

“Saya sejak hamil pertama sudah pakai metode PMTCT, anak pertama usia 9 tahun sudah 2 kali cek. Negatif HIV. Kalau yang kedua saya belum berani buat cek,” lanjutnya.

Melihat kesulitan yang dialami Yati, Maria Sulastri, anggota dari pendampingan masyarakat miskin Yayasan Pondok Kasih berusaha mendampingi Yati selama di Surabaya.

Mereka pun memutuskan mengurus surat tempat tinggal sementara untuk Yati di Surabaya.
“Nanti kami bawa ke Dinas Sosial juga, karena tidak punya KTP juga. Agar biaya bersalinnya gratis,” tuturnya.

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2016/06/06/kisah-yati-hamil-ketiga-dan-terinveksi-hivaids-dari-suami-pertamanya-yang-meninggal-dunia


Pasien HIV Banyuwangi Sulit Akses Persalinan Jamkes


Surabaya (Antara Jatim) - Pasien HIV asal Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi yang sedang hamil delapan bulan, Sugik alias Yati (28), mengalami kesulitan mengakses persalinan melalui layanan jaminan kesehatan (jamkes) gratis dari pemerintah.

"Awalnya, saya minta bantuan Puskesmas Sempu untuk mendapatkan layanan persalinan dengan PMT-CT, karena saya positif HIV dan ingin layanan gratis, tapi ditolak, karena KTP saya mati," kata Sugik didampingi suaminya di Sekretariat LSM EJA di Surabaya, Senin.

Akhirnya, ia ke RS Blambangan di Kota Banyuwangi yang dirinya biasa menjalani pengobatan HIV dengan ARV, namun RS Blambangan juga tidak sanggup melayani persalinan PMT-CT dengan layanan jamkes, kecuali ada surat keterangan dari kelurahan.

Namun, pihak kelurahan juga tidak bisa memberikan surat keterangan domisili atau KTP dan surat keterangan tidak mampu (miskin), karena KK miliknya masih bergabung dengan orang tua dan KK itu juga tidak terdaftar di Dispendukcapil Banyuwangi.

Ia pun kembali memohon bantuan kepada kader Puskesmas yang menanganinya, namun kader Puskesmas tetap memintanya mengurus Surat Domisili dan Surat Keterangan tidak mampu, namun ia pun bingung.

"Saya sudah lima kali bolak-balik dari kecamatan ke kota, tapi masalahnya sama, padahal saya sudah melaporkan kalau kehamilan saya dengan infeksi HIV, namun laporan kepada dokter manajer kasus HIV di klinik VCT RSUD Blambangan pada bulan Januari 2016 itu juga tidak direspons," katanya.

Selain itu, dirinya juga berusaha meminta persalinan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) Kemensos, namun tetap tidak bisa, karena kendala yang sama.

Pada 15 Mei 2016, staf KPA Sidoarjo menyatakan adanya layanan yang responsif di Sidoarjo, namun ternyata tidak bisa, lalu dirinya diajak suami dari rekan-rekan LSM EJA Surabaya untuk langsung ke RSUD dr Soetomo Surabaya.

Pada layanan di RSUD dr Soetomo, semuanya dijalani melalui tanggung jawab individu dan pendampingan teman¿teman dekat, sehingga semuanya menghabiskan dana sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta dari gotong royong.

Dengan cara itu, maka dirinya pun melakukan konsultasi awal kehamilannya, bahkan manajer kasus HIV di RSUD dr Soetomo yang langsung berkoordinasi dengan pihak RS Blambangan untuk mengakses "register nasional" ARV-nya.

Sementara itu, pimpinan jaringan korban Napza dan HIV/AIDS di Jawa Timur "East Java Action (EJA)" Rudhy Wedhasmara menyatakan pihaknya siap melakukan pendampingan korban melalui jaringan LSM terkait HIV/AIDS di Surabaya, diantaranya Yayasan Pondok Kasih (YPK) Surabaya.

"Kita tidak langsung ke pendampingan hukum, karena masalahnya menyangkut administrasi kependudukan dan status sebagai ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Kami berharap Pemprov Jatim dan Pemkab Banyuwangi membantu Sugik," katanya.

Didampingi relawan YPK Surabaya, Maria Sulastri, ia mengatakan langkah awal untuk Sugik adalah YPK akan mengantarkan Sugik ke Puskesmas Manyar untuk periksa kehamilan dan Kelurahan Manyar.

"Di Kelurahan Manyar itu untuk mendapat surat penduduk T4 (tempat tinggal tidak tetap). Dengan keterangan T4 itulah, kami akan menguruskan surat ke Dinas Sosial agar Sugik mendapatkan layanan di RSUD dr Soetomo secara gratis. Kami sering berhasil dengan cara itu," kata Maria Sulastri menambahkan. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/178907/pasien-hiv-banyuwangi-sulit-akses-persalinan-jamkes

Lowongan Kerja Tenaga Lapangan 2016



ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

TENAGA LAPANGAN (TL)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : Juni 2016 – Mei 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  4. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  5. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  6. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  7. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 27 Mei 2016, Pkl 17.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 22 Mei 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 23 Mei 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 30 Mei 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 31 Mei 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 1 Juni 2016

Gelombang 2: Lowongan Konselor Adiksi dan Konselor VCT Tahun 2016


ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

Konselor Adiksi dan Konselor HCT (Kode KA dan KV)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : April 2016 – Maret 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Mempunyai pengalaman kerja di posisi Konselor*
  4. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  5. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  6. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  7. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  8. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
*Yayasan Orbit dalam periode satu tahun kedepan akan menyediakan pembiayaan untuk mengikutsertakan konselor yang belum terlatih pada pelatihan khusus Adiksi dan atau VCT

Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 29 Maret 2016, Pkl 24.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 17 April 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 21 April 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 22 April 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 23 April 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 25 April 2016



Lowongan Konselor Adiksi dan Konselor VCT Tahun 2016

ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

Konselor Adiksi dan Konselor HCT (Kode KA dan KV)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : April 2016 – Maret 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Mempunyai pengalaman kerja di posisi Konselor*
  4. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  5. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  6. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  7. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  8. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
*Yayasan Orbit dalam periode satu tahun kedepan akan menyediakan pembiayaan untuk mengikutsertakan konselor yang belum terlatih pada pelatihan khusus Adiksi dan atau VCT

Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 29 Maret 2016, Pkl 24.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 24 Maret 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 30 Maret 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 31 Maret 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 1 April 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 4 April 2016


Tiga Kurir Narkoba Jaringan Antar Pulau, Lolos Dari Tuntutan Hukuman Mati

Surabaya – Tiga pengedar sabu asal Kalimantan masing-masing Rujian (36) asal Samarinda, Iskandar Zulkarnaen (35) asal Balikpapan dan M Yunus (40) asal Banjarmasin, akhirnya menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Dalam sidang kali ini, ketiganya divonis masing-masing 20 tahun penjara.

“Menyatakan, terdakwa secara sah dan meyakinkan memiliki, atau menguasai barang narkotika jenis sabu, dan menghukum terdakwa masing-masing 20 tahun penjara,” kata ketua majelis hakim Musa Nur Aini, Selasa (5/01/2016) sore.

Selain itu, ketiga terdakwa juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 1 miliar subsider 3 bulan kurungan.

Vonis yang dijatukahkan Hakim Musa ini berbeda dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cakra dari Kejari Tanjung Perak yang sebelumnya menuntut ketiga terdakwa dengan hukuman mati.

Menurut Hakim Musa, tuntutan tersebut disesuaikan dengan peranan ketiga terdakwa yang hanyalah merupakan seorang kurir.

“Vonis dua puluh tahun ini dijatuhkan karena terdakwa hanyalah seorang kurir,” ungkapnya di akhir persidangan.

Dalam putusannya, Hakim Musa menyatakan ketiganya terbukti melanggar pasal 114 ayat (1) Juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Mendengar putusan tersebut, para terdakwa yang sebelumnya ditangkap atas kepemilikan sabu-sabu seberat 2,1 kilogram dan 9000 butir ekstasi, hanya terdiam dan pasrah.

Atas putusan tersebut, Rujian, Iskandar Zulkarnaen dan M Yunus melalui tim pembelannya Rudi dari Pos Bantuan Hukum Orbit mengaku akan pikir-pikir mengajukkan banding.

“Kami pikir-pikir pak Hakim,” kata Rudi.

Sebagaimana diketahui, para terdakwa ini ditangkap petugas unit satreskoba polres pelabuhan Tanjung Perak pada pada 02 Maret 2015 sekitar jam 02.00 WIB, saat KM Kumala sedang melakukan trip pelayaran dari Surabaya ke Banjarmasin Pulang-Pergi.

Dalam kesaksiannya, Sucipto Utomo yang menjadi nakhoda Kapal M otor (KM) Kumala menerima laporan dari Jainal sekuriti kapal perihal adanya barang mencurigakan didalam tas ransel berwarna coklat yang ketinggalan di ruangan dek III kelas ekonomi.

Mengetahui ada barang yang mencurigakan, nahkoda KM Kumala langsung melaporkan temuan itu ke pemilik kapal yang ada di Jakarta, dan selanjutnya memerintahkan markonisnya Fakturohman untuk melakukan pengamanan.

Sesampainya kapal di Surabaya, Sucipto Utomo kemudian memerintahkan Galih Sudrajat yang menjadi mualim KM Kumala melaporkan temuan itu ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Selanjutnya, oleh Sat Reskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak, tas ransel berwarna coklat itupun dibuka, ternyata didalamnya berisi sabu dan pil ekstasi yang terbungkus kardus.

“Tas ransel berwarna coklat itu kami amankan, dan tidak dibuka sama sekali. Tas itu dibuka oleh anggota polisi dan disaksikan langsung pimpinan kami dari Jakarta,” ungkap Sucipto Utomo waktu menjadi saksi dipersidangan.

Diakui saksi Fakturohman, terdakwa Rujian dan Iskandar Zulkarnaen ditangkap polisi setelah menemui dirinya dan mengaku jika tas ransel miliknya yang berwarna coklat ketinggalan di Dek 3 kelas ekonomi, dua trip yang lalu.

“Itu terjadi satu minggu setelah tas ransel ditemukan, apa yang sampeyan cari, saya mencari tas warna coklat, langsung ditangkap polisi” kata saksi Fakturohman menjawab pertanyaan Hakim Musa soal penangkapan dua dari tiga terdakwa.

Oleh polisi ketiga terdakwa dijerat dengan Pasal 114 Ayat (2), Pasal 115 Ayat (2)  dan Pasal 111 Ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. (Han/Son).

Sumber: https://www.deliknews.com/2016/01/05/tiga-kurir-narkoba-jaringan-antar-pulau-lolos-dari-tuntutan-hukuman-mati/


HIV/AIDS cases continue to increase in regions

Aiding each other: Several youths hold balloons to commemorate World AIDS Day at the Catur Muka monument in Denpasar, Bali, on Tuesday. The youths called on the public not to discriminate against people living with HIV/AIDS and to stay away from drugs and casual sexual relationships.(JP/Zul Trio Anggono)

The number of HIV/AIDS cases in a number of regions of Indonesia continues to increase as people around the globe commemorate World AIDS Day.

The closure of the Dolly red-light district in Surabaya by Mayor Tri Rismaharini in June this year is feared to have increased the prevalence of HIV/AIDS in a number of nearby regions.

NGO Our Right To Be Independent (Orbit) has revealed that some commercial sex workers operating in cities around Surabaya were former inhabitants of Dolly.

“We found a sex worker in Krengseng red-light district, near the Tarik district railway station in Sidoarjo regency, for example, who used to work at Dolly,” Orbit activist Witanto said on Tuesday.

Increasing numbers of commercial sex workers, he said, were also evident in other neighboring regions such as along the Berantas River embankment in Tulungagung regency.

According to Orbit Foundation’s data, increased HIV/AIDS prevalence was also found in Malang, Sidoarjo, Banyuwangi, Mojokerto, Jember, Kediri, Pasuruan and Madiun.

Surabaya AIDS Prevention Commission (KPA) secretary Sophiati Sutjahjani, however, said that there was no correlation between the Dolly closure and increasing HIV/AIDS prevalence in a number of cities in East Java.

“HIV/AIDS can only be detected six to seven years after infection occurs. If many cases have been found now, you cannot say it’s because of the Dolly closure,” Sophiati told The Jakarta Post.

An increase in HIV/AIDS cases was also detected in Yogyakarta as the Provincial Health Agency recorded 45 HIV-positive public transportation drivers from 1993 to 2015.

Using the World Health Organization (WHO) standard — in which a confirmed HIV-positive person represents 10 unknown cases — then the number of HIV-positive public transportation drivers is predicted to be 450 in Yogyakarta province.

“People working in the transportation sector are [considered to be at] high risk,” the provincial KPA secretary Riswanto said on the sidelines of a seminar on HIV/AIDS in Yogyakarta on Tuesday.

“In HIV/AIDS mitigation, we talk about the 3M group, or mobile men with money,” he added.

If men in this category are infected with HIV, there is a chance they will transfer the virus to their respective spouses.

“Drivers and transportation crew members have to start living a healthy lifestyle and avoiding behavior that risks HIV infection, such as changing sex partners and not using condoms,” Riswanto said.

Tri Wahyu, a driver of a tourist bus who took a free HIV/AIDS test at the seminar venue said that he wanted to know if he was infected with HIV or not.

“I once enjoyed sex with women other than my wife,” he said.

Yogyakarta Health Agency recorded a total of 3,146 HIV-positive cases from 1993 to September this year, of which 1,249 had entered the AIDS phase.

Meanwhile in Riau, the provincial health agency together with the local KPA, the Indonesian Red Cross (PMI) and a number of NGOs held a rally to commemorate World’s AIDS Day on Tuesday, distributing flowers and ribbons to visitors and passengers at the Sultan Syarif Kasim II International Airport, Pekanbaru.

Riau Health Agency head Andra Sjafril said the campaign was held to remind people to maintain healthy and responsible sexual behavior to avoid HIV/AIDS.

“The mission is to prevent people from being infected by HIV/AIDS, which still has no cure,” Andra said, Tuesday.

As of October 2015, Riau recorded 1,889 cases of HIV, the 16th highest number among the 34 provinces.

Sumber: http://m.thejakartapost.com/news/2015/12/02/hivaids-cases-continue-increase-regions.html#sthash.BBNeaFUk.dpuf