Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in
Yayasan Orbit adalah Organisasi Non Pemerintah yang berdiri pada Juli tahun 2005.
Pembentukan organisasi berdasar atas kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Yayasan Orbit digawangi oleh para aktivis NAPZA dan HIV – AIDS yang berasal dari komunitas Korban Napza di Surabaya – Jawa timur dengan orientasi pada program pemberdayaan masyarakat.

Orbit Update News

Lembar Konfirmasi Tim Peserta Futsal pada Turnamen League of Freedom


Lembar konfirmasi keikutsertaan tim peserta paling lambat dikirimkan ke alamat email orbit.foundation@yahoo.com atau mengirim ke alamat Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya pada jam kerja di hari Rabu, 15 Agustus 2018 dengan mengunduh di link berikut ini: https://app.box.com/s/6ttlm1fi11zwh7vt4zidc3d963pqkuw7

Tim Pemburu Perempuan Malam Yayasan Orbit Rutin Blusukan ke Tempat Dugem

KUNJUNGAN: Anggota tim pemburu perempuan malam sedang memeriksa para purel. (Eko Priyono/Jawa Pos/JawaPos.com)


Yayasan Orbit Surabaya memiliki tim yang khusus memburu perempuan malam. Mereka keluar masuk ke tempat hiburan malam dengan gencar menyosialisasikan bahaya HIV dan penyakit menular seksual. Tangani ribuan orang. Banyak godaan dihadapi.


Oleh: EKO PRIYONO

HALAMAN parkir sebuah pub dan tempat karaoke di kawasan Surabaya Utara masih tampak lengang saat jarum jam menunjuk pukul 18.00. Seorang penjaga berpakaian safari berjaga di pintu paling depan.

Dia terlihat ramah dan langsung mempersilakan masuk saat empat orang yang membawa tas jinjing mendekati pintu pub tersebut.

Malam itu dentuman house music belum begitu terdengar. Hanya suara instrumen dengan volume lirih menemani karyawan yang sibuk menata dan membersihkan ruangan.

Tamu penikmat hiburan belum ada yang datang. ’’Monggo Mas Faisol. Anak-anak sudah siap di sana,’’ ucap seorang perempuan berambut lurus sambil menunjuk ke arah salah satu ruang karaoke.
Sebelas perempuan berpakaian seksi duduk santai sambil bercengkerama. Mereka menyambut ramah ketika empat orang dari Yayasan Orbit Surabaya mendekati dan menyapanya.

Para purel tersebut sudah paham bahwa hari itu mereka kedatangan tamu untuk mendengarkan penjelasan terkait penyakit infeksi menular seksual (IMS).

M. Faisol, koordinator program pendampingan dan penjangkauan wanita pekerja malam Yayasan Orbit Surabaya, membuka pertemuan itu dengan sapaan hangat.

Pertemuan tersebut merupakan kali kesekian. Tim pemburu ladys club –sebutan lain tim tersebut– sudah bekerja sama dengan tempat hiburan dewasa itu sejak awal tahun ini.

Secara rutin mereka nyambangi pekerja perempuan di sana untuk menyosialisasikan penyakit HIV dan IMS. Dalam pertemuan tersebut, Faisol sedikit mengulangi beberapa materi yang disampaikan sebelumnya.

Dari pengertian penyakit infeksi seksual, jenisnya, sampai cara penularannya. Dia juga membeberkan cara mendeteksi dan mencegahnya.

Pada momen tersebut, tim pemburu datang bersama petugas puskesmas setempat. Dia menawarkan tes HIV secara gratis. Mendengar tawaran itu, para purel sempat tercengang.

Buru-buru, Faisol menjelaskan bahwa tes tersebut hanya bersifat tawaran tanpa paksaan. ’’Tes ini sukarela. Kalau mau silakan, tidak mau tidak apa-apa. Gratis,’’ jelasnya.

Kepada mereka, dia menjelaskan bahwa tes tersebut bertujuan untuk memastikan apakah seseorang terjangkit penyakit infeksi seksual menular atau tidak.

Hasil tes itu menjadi rahasia antara petugas yang melakukan tes dan perempuan yang dites. Hanya segelintir perempuan yang bersedia. Meski begitu, mereka tidak langsung dites menggunakan alat yang dibawa.

Tim melakukan konseling prates. ’’Hanya ingin memastikan bahwa mereka memang siap menjalani tes dan siap mengetahui apa pun hasilnya,’’ ucap pria kelahiran Mojokerto itu.

Ketika beberapa petugas memberikan konseling kepada peserta tes, petugas lainnya menjelaskan seputar penyakit infeksi menular seksual.

Sesekali ada celetukan dari para perempuan itu yang mengundang gelak tawa ketika penjelasan menyangkut materi tentang organ intim dan hal-hal berbau seks.

Kegiatan itu berakhir ketika jarum jam menunjuk pukul 20.00. Tim pemburu berpamitan dengan menyalami satu per satu purel yang masih terlihat antusias. Mereka berjanji berkunjung lagi di lain hari.

’’Jam 21.00 tamu kan mulai datang. Kami diberi kesempatan sampai jam 21.00,’’ jelasnya. Pub tersebut merupakan salah satu di antara 30 tempat dugem di Surabaya yang disambangi tim itu secara berkala.

Terkadang seminggu, kadang sebulan, kadang lebih. Sebab, tempat yang dijangkau terbilang cukup banyak. Bukan hanya tempat dugem, sejumlah lokasi yang dianggap rawan menjadi penularan HIV dan IMS juga disambangi.

Misalnya, panti pijat, salon, wanita malam yang berkeliaran di jalanan, sampai sales promotion girl pun tidak luput jadi sasaran. Yayasan Orbit Sendiri mencatat ada 170 tempat rawan HIV di Surabaya.
’’Kami baru bisa menjangkau sekitar 80 persen,’’ jelasnya. Faisol bersama timnya yang terdiri atas Reno Saputra, Suparno, Budi Mulyono, dan Suranti menghadapi jalan terjal ketika memulai aktivitas itu pada 2011.

Tidak sedikit lokasi yang menjadi target menolak kehadiran mereka. Alasannya macam-macam. Terutama tempat dugem skala besar. Baru bertemu petugas satpam di depan, mereka sudah diusir.
Dengan telaten menjelaskan tujuan kedatangannya, sebagian besar petugas tempat hiburan itu akhirnya mau menerima mereka.

Agar tidak mengganggu jam pekerjaan, manajemen memberikan kesempatan kepada tim tersebut sebelum tempat dugem itu beroperasi. Biasanya beberapa jam sebelum para perempuan malam tersebut bekerja.

Namun, ada juga yang memberikan waktu ketika jam bekerja. Tim pemburu itu memberikan sosialisasi kepada para perempuan yang sedang menunggu tamu.

Mereka disediakan ruangan khusus untuk melakukan sosialisasi. Terkadang, perempuan yang tengah mengikuti pemaparan mendadak dipanggil karena ada tamu yang datang.

Tim tersebut juga berusaha memberikan sosialisasi kepada tamu yang datang. Ada beberapa yang mau, tetapi dengan waktu yang sangat terbatas. Namun, kebanyakan menolak.

’’Kami bisa memahami itu. Tidak masalah,’’ ujar bapak empat anak tersebut.

Berdasar pengalaman selama ini, mereka menyimpulkan bahwa sebenarnya pekerja malam banyak yang tertarik dengan informasi seputar HIV dan penyakit infeksi seksual.

Hanya, mereka malu dan tidak tahu harus bertanya ke mana. Terbukti, tidak sedikit di antara mereka yang meminta tim tersebut agar mendatangi rumah kosnya supaya lebih bebas bertanya.

Dalam memburu pekerja malam, petugas membawa alat kelengkapan pencegahan. Dari buku kecil yang berisi informasi seputar HIV dan penyakit infeksi seksual, kondom, sampai gel pelicin.
Seluruh peserta mendapat fasilitas tersebut secara gratis. Tidak jarang, jika stok kondom habis, mereka menelepon dan minta diantar.

Sebagian besar pekerja malam juga minim informasi seputar HIV. Ada yang menganggap bahwa virus tersebut bisa menular karena bersenggolan dan berciuman.

Namun, mereka sendiri kadang rela berhubungan badan tanpa alat pengaman dengan alasan memberikan kenyamanan kepada tamu.

Faisol menegaskan, pemberian kondom gratis itu tidak berarti mendukung seks bebas. Namun, mereka ingin ada perubahan perilaku seks sehingga bisa menurunkan angka penularan HIV.

Sebab, kini mereka merasa tidak ada dampak apa pun dengan perilaku seks bebas. Padahal, HIV baru teridentifikasi beberapa tahun kemudian.

Sejak 2011 sampai 2016 terdapat 1.341 perempuan yang menjadi klien mereka. Angka itu tercatat karena mereka selalu mendata seluruh perempuan malam yang pernah mengikuti sosialisasi.
Berada di lingkungan seks bebas menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Karena sudah saling kenal dan akrab, ada juga yang menggoda anggota tim pemburu.

’’Kami berusaha menolak dengan halus biar tidak menyinggung mereka,’’ ungkapnya. Bukan itu saja. Memiliki kenalan banyak perempuan kadang menjadi masalah yang berakhir runyam.

Misalnya, ketika sedang ke mal bersama keluarga, tidak jarang bertemu klien yang pernah didampingi. Mereka mengenakan pakaian ketat dan bersikap manja ketika bertemu.

Tentu, hal itu membuat sang istri curiga tingkat tinggi. Biasanya, setelah itu ujung-ujungnya bertengkar hebat. ’’Wajar curiga. Lha perempuannya cantik dan seksi,’’ ucap Faisol, lantas tertawa.

Tim pemburu punya jurus tersendiri agar tidak selalu dicurigai. Dalam beberapa kegiatan, pasangan mereka diajak untuk melihat langsung apa yang dikerjakan selama ini.

Setelah itu, istri mereka baru paham bahwa tidak ada yang spesial antara tim pemburu dan perempuan seksi itu. (*/c15/git/sep/JPG)

Sumber: http://www.jawapos.com/features/15/08/2016/tim-pemburu-perempuan-malam-yayasan-orbit-rutin-blusukan-ke-tempat-dugem

Seruan Anti Narkoba Makin Menggelora


SURABAYA  | duta.co – Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dirilis akhir tahun lalu, ada sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Angka tersebut kemungkinan meningkat kembali karena beredarnya sejumlah narkotika jenis baru.

Teror narkoba makin meresahkan. Belum lagi Februari 2018 lalu, aparat gabungan berhasil mengagalkan penyelundupan seberat 1,037 ton sabu yang dilakukan oleh jaringan Taiwan dengan cara menggunakan kapal ikan yang diketahui bernama SHUN DE MAN 66 yang masuk ke Indonesia melalui perairan laut bagian Barat Indonesia (samudera Hindia).

Artinya, gempuran teror narkoba untuk merusak generasi bangsa terus dilakukan oleh elit jaringan internasional. Entah tujuannnya hanya sekedar bisnis terlarang atau terorisme, namun yang pasti pengaruh narkoba mengancam kelangsungan generasi bangsa.

Ironisnya, pada tahap distribusi, upaya jaringan internasional itu didukung oleh pemain dari negara kita sendiri. Peredaran narkoba tak pilih usia, Pelajar dan mahasiswa pun dengan mudah dapat mendapatkannya.
Prihatin dengan kondisi tersebut, Ikatan Alumni Annuqayah bersama Forum Masyarakat Cinta Damai (Formacida) Wilayah Jawa Timur dan Yayasan Orbit Surabaya bakal menggelar seminar sosialisasi anti narkoba, Selasa (27/2/2018) mendatang.

Seminar yang digelar di Aula Wisma Bahagia (sebelah timur gedung SC UINSA) jalan Ahmad Yani 117 Surabaya ini diberi tema ‘Penegakan Hukum dalam Rangkah Melindungi Pengaruh Narkoba Terhadap Generasi Muda’.

Tampak hadir sumber yang kompeten dibidangnya sebagai pembicara dalam seminar ini. Antara lain, Advokat spesialis perkara narkoba Fariji, Dosen Fakultas Hukum Universitas Untag Surabaya Adianto Mardijono dan Aktifis Hanif Kurniawati dari yayasan Orbit Surabaya.

Sedangkan,Yayasan Orbit adalah Organisasi Non Pemerintah yang berdiri pada Juli tahun 2005. Pembentukan organisasi berdasar atas kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia.

Yayasan Orbit digawangi oleh para aktivis NAPZA dan HIV/AIDS yang berasal dari komunitas Korban Napza di Surabaya, Jawa timur dengan orientasi pada program pemberdayaan masyarakat.
“Teror narkoba tidak hanya pemasalahan negara namun sudah menjadi permasalahan global. Kita harus siap berdiri digarda depan guna memerangi serbuan terornya. Mari kita berdayakan diri untuk terus mensuarakan gerakan anti narkoba, seminimnya dimulai dari diri sendiri. Seminar sosisalisasi yang digelar generasi muda ini bagus untuk terus dilaksanakan. Dari generasi muda untuk bangsa,” ujar Fariji, Minggu (25/2/2018). eno

Sumber: https://duta.co/seruan-anti-narkoba-makin-menggelora/

Orbit: Larangan Minuman Keras Justru Tingkatkan Oplosan

Surabaya (Antara Jatim) - Yayasan "Our Right to be Independent" (Orbit) --LSM yang menangani mantan pecandu narkoba dan korban HIV/AIDS-- menilai larangan minuman keras dan beralkohol melalui RUU, Perpres, dan 147 peraturan daerah se-Indonesia justru meningkatkan pengguna minuman oplosan.
   
"Kami sudah meneliti bahwa korban oplosan sejak tahun 2013 meningkat dari tahun ke tahun, karena larangan minuman keras itu mendorong harga minuman beralkohol naik dan akhirnya orang lari ke oplosan hingga banyak korban," kata Ketua 'Orbit' Surabaya, Rudhy Wedhasmara, di Surabaya, Selasa.
   
Di sela dialog bertajuk "Support Don't Punish" bersama wartawan dan sejumlah aktivis "Orbit" serta "EJA" (Empowerment and Justice Action) Surabaya, ia menjelaskan hal itu berarti pelarangan minuman keras dan beralkohol itu bukan solusi, karena korban tetap berjatuhan, bahkan bisa mati, karena memakai oplosan.
   
"Saya kira, solusi yang tepat adalah edukasi masyarakat tentang alkohol, karena minuman beralkohol itu ada dua macam yakni ethanol dan methanol. Kalau ethanol itu berasal dari buah, seperti anggur, nira, tape, dan semacamnya, sedangkan metahol dari pengasapan kayu," katanya.
   
Selain itu, minuman beralkohol itu juga tidak perlu dilarang, melainkan diatur melalui pengawasan dan dinas kesehatan atau BPOM, sehingga orang tidak "lari" ke oplosan yang justru lebih berbahaya. "Kalau perlu BNN tidak hanya melayani korban narkotika, tapi juga korban alkohol," katanya.
   
Sementara itu, mantan pecandu narkoba yang kini menjadi aktivis "EJA" Surabaya, Wisnu Dwinata Putra, menjelaskan rehabilitasi untuk korban ketergantungan narkotika itu merupakan solusi yang tepat, karena penjara tidak akan menyembuhkan, bahkan ketika keluar penjara akan lebih "pintar" lagi.
   
"Tapi, rehabilitasi sebagai solusi yang baik itu sekarang belum serius, karena penetapan rehabilitasi justru dipermainkan aparat penegak hukum dengan 'menjual' rehabilitasi, apakah pemakai narkotika mau dihukum empat tahun atau direhabilitasi, kalau mau rehabilitasi harus bayar biaya sekian.. sekian," katanya.
   
Selain itu, katanya, panti rehabilitasi yang ada sekarang juga masih bersifat pemaksaan. "Padahal, korban narkotika itu macam-macam, ada yang bisa direhabilitasi dengan pemaksaan seperti rehabilitasi yang ditangani BNN, tapi ada juga yang bersifat lembut, karena itu panti rehabilitasi itu harus macam-macam," katanya.
   
Menurut dia, rehabilitasi yang ideal itu ada proses penyembuhan melalu detoksifikasi, proses pemulihan psikis, proses pembelajaran seperti kebugaran dan aspek kesehatan, dan akhirnya "aftercare" yang melibatkan keluarga untuk membiasakan penolakan narkoba.
   
"Karena itu, Orbit juga mendirikan panti rehabilitasi yang lengkap dengan melibatkan psikologi, dokter, dan konselor dari para mantan pecandu, baik narkoba maupun alkohol," kata mantan pecandu narkoba yang kini menjadi konselor EJA itu.
   
Ia menambahkan rehabilitasi itu muncul menjadi kesadaran masyarakat dan pemerintah setelah perang terhadap narkoba justru gagal karena korban narkotika meningkat, seperti halnya pelarangan terhadap alkohol yang justru mendongkrak korban oplosan.
   
"Untuk itulah, kami dari EJA dan ORBIT mengampanyekan 'Support Don't Punish' (Dukung dan Jangan Menghukum). Kampanye sudah kami lakukan dengan roadshow audiensi kepada Kejari Surabaya, Kejari Perak, BNN Kota Surabaya, BNN Provinsi Jatim, DPRD Jatim, dan sebagainya, termasuk dengan pers," katanya. (*)

Sumber: https://jatim.antaranews.com/berita/159941/orbit-larangan-minuman-keras-justru-tingkatkan-oplosan

Dua Pengedar Ganja Lapas Tanjung Gusta Medan Dituntut 15 Tahun

 Kamis, 19-10-2017 | 17.04 ~ Oleh : Ayul Anhdim









Surabaya pojokpitu.com, Ayub Haskiyah Oroh dan Bayu Maulana, dua pemuda asal Gresik ini dituntut 15 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum Kejati Jatim. Terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 114 sebagai pengedar narkoba.

Terdakwa ditangkap oleh BNNP Jatim karena menjadi jaringan pengedar ganja Lapas Tanjung Gusta Medan. Selain dituntut berat, kedua terdakwa juga didenda Rp 5 milyar subsider 6 bulan penjara.

Atas tuntutan tersebut, kedua terdakwa akan melakukan pembelaan pada persidangan berikutnya.

Kuasa hukum terdakwa, Rudhy Wedhasmara, sangat menyayangkan dengan tuntutan jaksa, karena terdakwa hanya sebagai kurir bukan pengedar.

Seperti diketahui terdakwa ditangkap oleh petugas BNNP Jatim saat sedang mengambil paket JNE yang berisikan ganja sebanyak hampir 10 kilogram, barang haram tersebut dikirim dari Lapas Tanjung Gusta Medan yang ditujukan kepada kedua terdakwa.(end)

Jaksa Ini Kejam, Tuntut Dua Kurir Ganja 15 Tahun Penjara

Kembali lakukan VCT

Yayasan ORBIT kembali melakukan VCT. Seperti biasa kegiatan tersebut dilakukan untuk upaya penanganan dini terhadap HIV/AIDS, serta memudahkan seseorang untuk mengakses ARV jika mendapat hasil tes positif.
Kali ini kegiatan tersebut dilakukan di "KING KARAOKE" rungkut (19/10). Yayasan ORBIT bekerjasama dengan PKM Kalirungkut.

Analisa Situasi & Evaluasi Program HIV/AIDS

Analisa program melibatkan yayasan ORBIT, DINKES Sidoarjo, dan KPA Kabupaten Sidoarjo di Ale Garden Resto N'Cafe (19/10). Analisa program diharapkan dapat lebih membantu kelaksanaan program untuk melaksanakan sosialisasi dan penjangkauan terkait HIV/AIDS.

Yayasan ini rajin mengadakan Mobile VCT

Yayasan Orbit Surabaya kembali mengadakan mobile VCT untuk melakukan tes tentang HIV dan Hepatitis C. Seperti biasa kegiatan tersebut diberlakukan untuk umum namun lebih diprioritaskan untuk para pecandu atau mantan pecandu. Kegiatan VCT dilakukan pada 10 Okt 2017 dan rencana akan mengadakan VCT lagi pada 24 okt 2017.

VCT ini penting untuk dapat mengakses ke semua layanan yang dibutuhkan terkait pencegahan dan pengobatan HIV, AIDS, juga karena memberikan dukungan untuk kebutuhan kliennya seperti perubahan perilaku, dukungan mental, dukungan terapi ARV, dan pemahaman yang benar dan faktual tentang HIV, AIDS.

VCT ini dibutuhkan oleh semua orang yang ingin melakukan tes HIV dan untuk orang yang pernah melakukan tindakan maupun perilaku beresiko terjagkit HIV seperti aktifitas seksual, tindik tatoo, konsumsi narkoba melalui jarum suntik dan sebagainya.



Koordinasi antar Lembaga dan Pejabat Daerah terkait Program Layanan Kesehatan

Koordinasi antar Lembaga dan Pejabat Daerah terkait Program Layanan Kesehatan dilakukan pada hari Jumat, 29 Sept 2017. Koordinasi dihadiri oleh Miko Alcatraz seorang Pekerja Lapangan (PL-penasun) dari Yayasan ORBIT Surabaya dengan Kepala PKM Kota Sidoarjo dr. Atok dan Kabag Program Layanan Alat Suntik Steril (LASS) Bpk. Santoso.

Bawa 40 Kg Ganja, Dua Terdakwa Divonis 20 Tahun Penjara

Kamis, 14-09-2017
Oleh: Ayul Anhdim



Surabaya pojokpitu.com, Kedapatan memiliki 40,48 kilogram ganja, dua orang terdakwa yaitu Eko Agus Susanto dan Agung Dzikrulloh akhirnya harus menerima nasib pahit.

Keduanya oleh majelis hakim yang diketuai Ari Jiwantara, akhirnya dijatuhi pidana 20 tahun penjara oleh hakim.

Vonis kepada kedua terdakwa ini sendiri terbilang lebih rendah dari tuntutan jaksa sebelumnya. Jaksa sebelumnya menuntut pidana seumur hidup kepada kedua terdakwa ini.

Dalam kasus ini, keduanya terbukti melanggar pasal 114 juncto pasal 132 ayat 1 undang - undang 35 tahun 2009 tentang narkoba.

Rudi Wedhasmara, selaku kuasa hukum terdakwa, menanggapi putusan tersebut. "Terjadi perbedaan upaya hukum yang ditempuh dua terdakwa. Terdakwa Agung langsung mengajukan keberatan dan menyatakan banding karena merasa dirinya hanyalah diajak dan tidak mengetahui barang yang diambil adalah ganja. Sementara terdakwa lainnya, yaitu Eko Agus masih pikir - pikir."

Seperti diketahui, dua terdakwa ini berhasil ditangkap kepolisian karena dinilai telah membawa 43 paket ganja seberat 40 kilogram dari sebuah perusahaan ekspedisi di Jombang pada 26 Desember 2016 silam. Eko dan Agung dinilai merupakan satu bagian dari sindikat narkotika narapidana Lapas Kelas I Surabaya bernama Agus alias Tetek.(end)

pojokpitu.com/baca.php