SURYA.co.id | SURABAYA – Raut YS tampak sumringah saat acara pembukaan Rumah Sehat Orbit
Surabaya (RSOS) di Jalan Margeorejo Utara B No 922.
Gadis usia 16 tahun ini adalah satu-satunya perempuan yang kini menjalani rehabilitasi untuk lepas dari zat aditif sabu-sabu.
Sejak dua bulan lalu ia sudah menjalani rehabilitasi bersama 25 temannya di bawah
Yayasan Orbit Surabaya. Sebelum pindah ke
Margorejo, YS mengaku sehari-harinya ia menjalani terapi di bilangan Pandugo, Rungkut.
“Aku
mulai pakai sabu-sabu tiga bulanan yang lalu. Nggak pakai beli, aku
ikut bandar. Setiap bandar makai sabu, aku juga ikut makai,” ucap anak
yang sudah putus sekolah dari SD ini.
YS mengaku lingkungannya lah yang membawanya kenal dengan barang
haram tersebut. Sejak menjadi pecandu, ia mengaku banyak yang berubah
pada dirinya.
“Aku jadi emosian, sering bertengkar sama empat saudaraku,
sampai-sampai aku diusir sama orang tua,” kata gadis berambut pendek
sebahu ini.
Apalagi sejak orang tuanya mengetahui bahwa anaknya sudah lama
menggunakan sabu-sabu, tidak hanya marah. Ia bahkan tidak diterima saat
pulang ke rumahnya.
Hal itu membuat YS kecewa hingga akhirnya meminta untuk direhabilitasi di Yayasan Orbit. Selama dua bulan melajani rehab dirasakan YS, sudah banyak perubahan yang ia rasakan.
“Aku jadi disiplin. Aku bisa bangun pagi untuk salat subuh. Sudah mulai lupa untuk harus konsumsi sabu-sabu,” ucapnya.
Menurutnya, metode rehabilitasi yang ia terima adalah pendekatan
keagamaan. Setiap mulai ketagihan ia diajak mengaji dan diberi buku
bacaan yang ada di rumah sehat mereka. Setelah tahu rasanya kecanduan dan
sakit ia meminta anak-anak seusianya untuk tidak mencoba barang
narkotikan seperti dirinya.
Klien Kian Banyak
Pembina Rumah SOS Rudhy Wedhasmara mengatakan rumah sehat ini
dibangun seiring dengan meningkatkan jumlah korban penyalahgunaan
narkotika. Di bawah yayasannya jumlah orang yang direhabilitasi pun
semakin tahun semakin meningkat.
“Kami rata-rata per tahun menangani sebanyak 100 hingga 150 orang.
Baik itu yang minta direhabilitasi sampai yang direhab karena putusan
pengadilan. Dan trennya saat ini yang banyak adalah anak-anak di bawah
usia 18 tahun dibandingkan yang dewasa,” ucap Rudhy, usai acara
pembukaan Rumah SOS.
Namun
yang ia sayangkan kesadaran lingkungan pada pelaku penyalahgunaan
narkotika masih rendah. Banyak masyarakat yang cenderung menjauhi
pengguna narkotika. Bukan malah mencoba untuk membawanya ke tempat
rehabiilitasi.
Untuk itu, sebagai mantan pengguna narkotika yang sudah sembuh, Rudhy dan kawan lain di
Yayasan Orbit ingin membantu para pecandu narkotika untuk bisa sembuh.
“Sebagai mantan pengguna kami memiliki sense of belonging yang
menjadikan kami lebih dekat dengan mereka dan mencoba membantu mereka
untuk bisa lepas dari candu narkotika,” kata Rudhy.
Menurutnya, ada beberapa tahapan untuk bisa direhabilitasi di Rumah
SOS ini. Yang pertama adalah dilakukan assesment pada pengguna.
Assesment ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan kecanduan
pada pengguna.
“Berikutnya kami melakukan perencanaan terapi. Jadi kami tidak
langsung direct teraphy, tapi kami lakukan komunikasi juga ke mereka
berapa kali harus ketemu dengan psikolog,” ulasnya.
Di rumah SOS ini disediakan tenaga medis. Mulai dokter, pendamping
konselor, psikiater, psikolog dan juga pekerja sosial. Jumlahnya ada
sekitar sebelas orang. Pengguna yang menjalani rehabillitasi di sini
lewat rawat jalan atau dengan rawat inap.
“Di sini kami memiliki kapasitas 50 bed. Siklus rehab kami ada tiga
bulan. Setiap tiga bulan itu kami evaluasi untuk setiap peserta rehab,”
ucap Rudhy.
Selama menjadi rehabilitasi di sini, Rumah SOS tidak mematok biaya
tertentu. Mereka juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial, namun
untuk kuota sebanyak 40. Namun pihaknya menjamin bagi warga miskin
yang memiliki Surat Tanda Miskin tidak akan dikenai biaya untuk menjali
rehabilitasi.
http://surabaya.tribunnews.com/2017/07/21/bangun-rumah-sehat-yayasan-orbit-bantu-rehabilitasi-pengguna-narkotika?page=all
Nb: Sedikit revisi untuk siklus program rawat inap ada 3bulan untuk rawat inap dilanjutkan 2bulan halfway house dan sebulan aftercare. Untuk rawat jalan melalui 12 kali pertemuan dengan berbagai agenda termasuk konseling dan sebagainya.