Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in
Yayasan Orbit adalah Organisasi Non Pemerintah yang berdiri pada Juli tahun 2005.
Pembentukan organisasi berdasar atas kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Yayasan Orbit digawangi oleh para aktivis NAPZA dan HIV – AIDS yang berasal dari komunitas Korban Napza di Surabaya – Jawa timur dengan orientasi pada program pemberdayaan masyarakat.

Orbit Update News

Showing posts with label Dokumentasi. Show all posts
Showing posts with label Dokumentasi. Show all posts

PERDANA, SOSIALISASI PEMILU DI REHABILITASI NAPZA RUMAH SEHAT ORBIT SURABAYA



Hupmas, SURABAYA –  Selasa (26/02/2019), dengan semangat meningkatkan partisipasi masyarakat (parmas), Relawan Demokrasi (Relasi) KPU Surabaya dari basis kebutuhan khusus lakukan kegiatan sosialisasi di Rumah Sehat Orbit Surabaya (SOS), Jl. Margorejo Indah Utara Wonocolo Surabaya.

Rudhy Wedhasmara selaku perwakilan dari Rumah SOS menyampaikan apresiasinya kepada KPU Surabaya dan Relasi yang telah hadir untuk melakukan sosialisasi.
“Dengan diadakan sosialisasi ini berarti KPU Surabaya masih peduli kepada komunitas yang berada di rehabilitasi napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) ini,” ujarnya.
Lebih lanjut Rudhy menyampaikan baru pertama kali ini KPU menggelar sosialisasi pemilu di Rumah SOS. Selain itu Rudhy juga berharap setelah adanya sosialisasi ini penghuni Rumah SOS bisa siap menggunakan hak pilihanya.
Mewakili KPU Surabaya, Endang Sri Arti Rahayu selaku Kasubag Teknis Pemilu & Hupmas menjadi narasumber.
Dalam pemaparannya Endang menyampaikan pentingnya menggunakan hak pilih pada tanggal 17 April 2019, mekanisme pengurusan surat pindah memilih, dan pengenalan jumlah dan warna surat suara. Hal tersebut disampaikan agar penghuni rehabilitasi napza di Rumah SOS tidak melewatkan Pemilu Serentak tahun 2019 (al/esar)




Usia 15 Tahun Sudah Jadi Pecandu Narkoba


Usia pecandu narkoba di Surabaya kini semakin muda. Data Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya menyebutkan, usia pecandu paling muda adalah 15 tahun. Berarti pecandu tersebut masih duduk di bangku kelas IX (kelas 3 SMP) atau X (kelas 1 SMA). 

MOCHAMMAD KAISAR JU-Wartawan Radar Surabaya
Masih menurut data BNNK Surabaya, mulai Januari hingga September ini (selama sembilan bulan), tercatat sebanyak 70 pelajar terlibat dalam pusaran barang haram itu. Tentu saja fakta ini membuat miris para orang tua. Temuan BNNK Surabaya itu semakin mengindikasikan bahwa dunia pendidikan, saat ini sangat rawan pada persoalan narkotika.  Dengan fakta seperti ini, perlu adanya pengawasan dari orang tua. Juga dari lingkungan sekitar dan pihak sekolah.

Kepala BNNK Surabaya, AKBP Suparti menjelaskan, pelajar yang terjaring sebanyak 70 orang ini merupakan siswa yang tengah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Jumlah ini yang memang dominan yang berhasil diperoleh dari BNNK Surabaya. "Mereka kebanyakan mengkonsumsi pil dobel L, dan sabu-sabu," kata Suparti.

Diungkapkannya, pelajar yang terlibat kasus narkotika mempunyai beragam latar belakang. Banyak dari mereka lari ke dunia narkotika, karena masalah dalam keluarga. Beranggapan masalah yang menimpanya sangat berat, para pelajar itu nekat masuk ke lubang kelam dan kecanduan narkotika. “Berasal dari broken home, ada yang karena percintaan. Khas anak muda modern,” lanjutnya.

Tak hanya SMA, kata Suparti, bandar narkotika ini juga mulai menyasar anak SMP. Dimana anak anak SMP ini kerap ditawari narkotika jenis pil koplo atau dobel L. "Pelajar SMP sudah dikenalkan oleh bandar ini dengan dobel L yang memang dari harga dan proses kecanduannya ini sangat tinggi," terang Suparti.

Suparti mengungkapkan, Bandar tak hanya menawari pil dibel L atau sabu-sabu. Mereka juga menawari anak-anak yang duduk di bangku SMP ini dengan ganja. Lanjut hingga dewasa lalu masuk masa kuliah, dan berkerja, mereka akan terus ditawari sabu-sabu hingga ekstasi. "Semakin tinggi jenjang usianya dan memiliki penghasilan sendiri, mereka akan ditawari narkotika yang memang cukup mahal harganya. Nantinya pengguna ini akan menjadi mesin uang dari bandar narkotika," jelasnya.

Suparti mengatakan, pengguna narkotika ini sebagai mesin uang bagi bandar narkotika jika pengguna ini mulai ketergantungan. Dari anak-anak yang sudah kecanduan itulah para pengedar mendapatkan uang. "Dengan ketergantungan ini mereka akan membeli narkotika berapun harganya. Karena jika tidak membeli, akan terjadi sakau ini yang dimanfaatkan oleh bandar narkoba," tutur Suparti.

Bandar narkotika, lanjut Suparti, kerap menyasar anak-anak untuk menjadi budak narkotika. Karena dengan menyasar anak-anak ini, membuat pangsa pasar mereka akan semakin panjang. "Awalnya mereka akan menawarkan secara gratis. Lalu, dibuat ketergantungan.  Jika sudah ketergantungan maka mereka akan disuruh untuk membeli sabu-sabu tersebut," urainya.

Tak hanya sebagai pengguna, tak jarang anak-anak ini dimanfaatkan oleh bandar narkotika sebagai kurir sabu-sabu. "Kebanyakan mereka yang menjadi kurir ini, karena memang sudah ketergantungan dengan narkotika," terang Suparti.

Ia mengatakan, jasa menjadikan anak-anak sebagai kurir ini memang kerap digunakan bandar narkoba. Seperti kurir narkotika wanita, anak-anak ini juga jarang dicurigai oleh petugas kepolisian. "Mereka memang memanfaatkan anak- anak ini karena akan dengan mudah mengirimkan sabu sabu, narkotika, atau  barang haram lainnya ke target yang diinginkan,” ucap Suparti.

Ia mengatakan, tak jarang kurir narkoba anak-anak ini hanya dapat imbalan yang kecil dai si bandar. "Mereka mendapatkan sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu setiap kali disuruh. Itu kan sangat memalukan," tukasnya.

Mantan Kasubag Humas Polrestabes Surabaya ini menjelaskan, faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab anak-anak atau pelajar terlibat dalam kasus narkotika. "Kebanyakan mereka kurang perhatian, dan kasih sayang keluarganya. Akhirnya lingkungan yang buruk ini membuat mereka melampiaskannya ke narkotika," sambungnya.

Dengan banyaknya anak-anak ini yang terlibat kasus narkoba ini, maka tak jarang BNNK Surabaya langsung mendatangi keluarganya. "Kami tak segan untuk memberitahu keluarganya, agar mereka ini dapat perhatian lebih dari orang tuanya. Orang tua harus bisa mengatasi agar anak-anak tidak kembali masuk dan kembali mengkonsumsi narkoba," tegas Suparti.

Dengan cara ini, Suparti yakin jika dengan pendekatan orang tua kepada anak, mereka tidak akan kembali lagi ke narkoba. "Sudah banyak yang sukses. Setelah kami rehabilitasi, mereka sudah tidak mau lagi mengkonsumsi narkoba," katanya.

Suparti mengatakan pengguna pertama kali dimulai dari usai di bawah 15 tahun. Mereka sudah mencoba-coba minum pil koplo yang memang harga per butirnya hanya Rp 1.000. “Anak laki-laki mendominasi (pengguna narkoba, Red) sebanyak 37 orang, sedangkan sisanya wanita," terangnya.
Semua pelajar yang berhasil ditangkap ini tak semesrta merta masuk ke ranah hukum. Kalau ada assessment dari BNNK Surabaya yang dapat menunjukkan jika pengguna ini memiliki tingkat kecanduan, maka akan direhabilitasi. "Kebanyakan kami lakukan rehabilitasi. Bagaimana pun mereka ini hanya menjadi korban bandar narkoba," kata Suparti.

Namun, BNNK Surabaya tidak akan tinggal diam jika anak-anak yang sudah beberapa kali masuk menjadi pengguna atau kurir sabu sabu. "Kami harus ambil langkah tegas dan masukkan ke ranah hukum itu jika anak-anak ini sudah beberapa kali terlibat kasus narkoba," katanya.

Suparti mengatakan, jumlah 70 orang pelajar ini memang cukup tinggi. Meskipun angka ini ia yakini menurun jika dibandingkan tahun lalu. "Penurunannya memang tidak terlalu cukup tinggi. Hanya lima persen. Namun, ini sudah cukup bagus," katanya.

Menurunnya jumlah ini, dimana BNNK Surabaya terus melakukan sosialisasi di beberapa tempat. Termasuk sekolah-sekolah yang ada di Surabaya. "Ini untuk mencegah terjadinya pelajar mengkonsumsi narkotika, dan langkah pencegahan awal," kata Suparti.

Upaya BNNK Surabaya yang melakukan sosialisiasi ini berdampak pada pola pikir pelajar, atau anak anak. Sebelum dilakukan sosialisasi ini tak jarang mereka menganggap remeh dampak dari narkoba. "Mereka tak jarang menganggap enteng masalah ini. Namun, setelah kami kasih tahu dampak sebenarnya, mereka baru sadar jika nyawa mereka terancam jika mengkonsumsi narkoba," kata Suparti.

Ia mengingatkan masyarakat ini agar lebih memperhatikan lingkungan mereka. "Kita tak segan untuk mengingatkan peran keluarga sangat penting. Bagaimana pun anak-anak ini memang butuh perhatian, dan kasih sayang penuh dari keluarga agar tidak terjerumus dalam narkotika," terangnya.

Dengan adanya perhatian yang penuh dari keluarga ini, membuat anak-anak bisa terhindar dari narkotika. "Bagaimana pun juga anak-anak ini aset bangsa. Kami berharap anak- anak dan bangsa ini terbebas dari narkotika,"  imbuh Suparti.

Sementara itu, data BNNK Surabaya juga menunjukkan tahun lalu sepanjang Januari hingga Nopember 2016, sebanyak 200 pelajar juga kepadatan sebagai pengguna narkoba. Tak heran jika sejak awal tahun BNNK Surabaya rajin menggelar tes urine di sekolah-sekolah, baik SMP maupun SMA.

Yang juga tak kalah mengejutkan adalah data yang dikeluarkan Yayasan Orbit Surabaya. Disebutkan jika pecandu narkoba di Surabaya adalah usia produktif antara 14 hingga 20 tahun. "Rata -rata para pecandu itu dari beberapa kasus yang kami tangani memang usianya masih produktif," kata Koordinator Rehabilitasi Yayasan Orbit Surabaya, Munif Mujianto, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, tahun 2016 Yayasan Orbit Surabaya menangani sekitar 500 pasien pecandu narkoba yang direhabilitasi. Sementara hingga Juli 2017 Yayasan Orbit telah menerima sebanyak 316 pasien yang direhab. Mereka ada yang rawat inap,  ada pula yang rawat jalan. "Mereka para pecandu narkotika, psikotropika dan zat adiktif (Napza). 80 persen pecandu menggunakan sabu-sabu," ujar Munif.

(sb/sar/jek/JPR)

Sumber: https://radarsurabaya.jawapos.com/read/2017/10/01/16648/usia-15-tahun-sudah-jadi-pecandu-narkoba

Peringati HUT RI, Pasien Rehab Pecandu Narkoba Gelar Upacara


Dalam memperingati HUT RI ke-73, Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS) yang merupakan tempat rehabilitasi pecandu napza milik Yayasan Orbit melaksanakan upacara bendera.

Upacara dilaksanakan di halaman RSOS Perum Margorejo Indah Blok B Nomor 922 Surabaya. Yang menjadi pemimpin upacara adalah DCH, salah satu klien rehab. Sementara yang menjadi inspektur upacara Direktur RSOS, Rudy Wedhasmara.

Upacara yang berlangsung sekitar 2 jam setengah ini diikuti seluruh klien RSOS yang rawat inap berjumlah 16 orang dan 9 staf RSOS. Mereka mengenakan seragam khusus yakni kaos merah hati bertuliskan RSOS.

Direktur RSOS, Rudy Wedhasmara, mengatakan bahwa kegiatan upacara ini bentuk penghormatan kepada para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. "Kami para pecandu yang ingin pulih mengucap syukur atas jasa para pahlawan, sehingga Indonesia bisa menjadi maju seperti saat ini," katanya.

Kata Sinyo, panggilan akrab Rudi Wedhasmara, Indonesia memang sudah merdeka, namun penanganan terhadap pecandu narkoba masih belum merdeka. Upaya penanganan terhadap para korban penyalahguna narkoba menjadi polemik di aparat penegak hukum.

"Masih banyak kepentingan dalam upaya penanganan para korban peredaran gelap narkoba yang rata-rata anak usia produktif. Penegak hukum lebih banyak memberikan hukuman pidana ketimbang rehabilitasi," katanya.

Diungkapkan Sinyo, saat ini putusan rehabilitas terhadap penyalahguna Napza masih sangat sedikit apabila dibanding putusan pidana penjara.

"Dari hasil survey yang pernah kita lakukan 80 persen lebih kasus narkoba terutama dengan tersangka para pecandu vonisnya pidana kurungan atau penjara. Padahal putusan memenjarakan pecandu tidak akan menyelesaikan masalah," katanya.

Kata Sinyo, pecandu harusnya direhabilitasi. Karena para pecandu ini seorang yang mengalami sakit kecanduan.

"Obatnya bukan penjara tapi direhab. Kalau dipenjara tingkat kecanduannya bukan malah sembuh melainkan malah menjadi-jadi. Bahkan bisa jadi penggunaan narkobanya akan malah bertambah dan bermacam-macam jenisnya," katanya.

Sementara itu, upacara ini juga bukti bahwa pecandu narkoba juga sangat cinta terhadap bangsa ini. "Kami juga manusia. Kami ingin pulih. Karenanya jangan pandang sebelah mata terhadapa upaya kami yang ingin pulih dari ketergantungan Napza," ujar DCH. (wit)

Sumber: https://www.ngopibareng.id/timeline/peringati-hut-ri-pasien-rehab-pecandu-narkoba-gelar-upacara-2972314

Lembar Konfirmasi Tim Peserta Futsal pada Turnamen League of Freedom


Lembar konfirmasi keikutsertaan tim peserta paling lambat dikirimkan ke alamat email orbit.foundation@yahoo.com atau mengirim ke alamat Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya pada jam kerja di hari Rabu, 15 Agustus 2018 dengan mengunduh di link berikut ini: https://app.box.com/s/6ttlm1fi11zwh7vt4zidc3d963pqkuw7

Kunjungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di RSOS


Kunjungan dari pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) ke Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS- Selasa,29/8). Kunjungan dilakukan dengan sesi tanya jawab dengan konselor adiksi seputar napza yang menjaring kaum anak dibawah umur. Kegiatan dilanjutkan dengan berkeliling rumah untuk meninjau sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sehat Orbit Surabaya, serta melihat kegiatan yang dijalani oleh klien. 

Kunjungan dilanjutkan dengan mengadakan sesi oleh Kemen PPPA bersama klien dengan agenda sharing mengenai pengalaman dan berbagi kisah-kisah inspiratif. 

Kemen PPPA juga mengapresiasi perkembangan klien melalui kreasi yang dihasilkan melalui barang bekas seperti dari koran bekas, bungkus rokok, dan sebagainya. Meskipun masih tergolong sederhana namun hal tersebut perlu mendapat apresiasi serta dukungan dari semua pihak. 

Kemen PPPA juga memotivasi klien untuk terus mengembangkan kreatifitas yang dimiliki, kalau bisa menjadi salah satu sumber perekonomian nantinya melalui kerajinan-kerajinan yang dihasilkannya.

Sumber: Yayasan Orbit Surabaya

Bangun Rumah Sehat, Yayasan Orbit Bantu Rehabilitasi Pengguna Narkotika

http://cdn2.tstatic.net/surabaya/foto/bank/images/rumah-sehat-yayasan-orbit-surabaya_20170721_210018.jpgPara korban Napza menulis pernyataan tidak akan kembali lagi jatuh ke pengaruh penyalahgunaan narkoba di Yayasan Orbit Surabaya usai peresmian Rumah Rehab yang diberi nama Rumah Sehat Orbit Surabaya untuk merehab para korban Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) di Perumahan Margorejo Indah Utara Blok B No 922, Jumat (21/7). Rumah rehab terdiri dari lima kamar ini berkapasitas 40 orang itu untuk para penyalahguna narkoba dibina intensif selama 3 bulan sampai pulih dari ketergantungan narkoba. 


SURYA.co.id | SURABAYA – Raut YS tampak sumringah saat acara pembukaan Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS) di Jalan Margeorejo Utara B No 922.

Gadis usia 16 tahun ini adalah satu-satunya perempuan yang kini menjalani rehabilitasi untuk lepas dari zat aditif sabu-sabu.

Sejak dua bulan lalu ia sudah menjalani rehabilitasi bersama 25 temannya di bawah Yayasan Orbit Surabaya. Sebelum pindah ke Margorejo, YS mengaku sehari-harinya ia menjalani terapi di bilangan Pandugo, Rungkut.

“Aku mulai pakai sabu-sabu tiga bulanan yang lalu. Nggak pakai beli, aku ikut bandar. Setiap bandar makai sabu, aku juga ikut makai,” ucap anak yang sudah putus sekolah dari SD ini.

YS mengaku lingkungannya lah yang membawanya kenal dengan barang haram tersebut. Sejak menjadi pecandu, ia mengaku banyak yang berubah pada dirinya.

“Aku jadi emosian, sering bertengkar sama empat saudaraku, sampai-sampai aku diusir sama orang tua,” kata gadis berambut pendek sebahu ini.

Apalagi sejak orang tuanya mengetahui bahwa anaknya sudah lama menggunakan sabu-sabu, tidak hanya marah. Ia bahkan tidak diterima saat pulang ke rumahnya.

Hal itu membuat YS kecewa hingga akhirnya meminta untuk direhabilitasi di Yayasan Orbit. Selama dua bulan melajani rehab dirasakan YS, sudah banyak perubahan yang ia rasakan.

“Aku jadi disiplin. Aku bisa bangun pagi untuk salat subuh. Sudah mulai lupa untuk harus konsumsi sabu-sabu,” ucapnya.

Menurutnya, metode rehabilitasi yang ia terima adalah pendekatan keagamaan. Setiap mulai ketagihan ia diajak mengaji dan diberi buku bacaan yang ada di rumah sehat mereka. Setelah tahu rasanya kecanduan dan sakit ia meminta anak-anak seusianya untuk tidak mencoba barang narkotikan seperti dirinya.

Klien Kian Banyak
Pembina Rumah SOS Rudhy Wedhasmara mengatakan rumah sehat ini dibangun seiring dengan meningkatkan jumlah korban penyalahgunaan narkotika. Di bawah yayasannya jumlah orang yang direhabilitasi pun semakin tahun semakin meningkat.

“Kami rata-rata per tahun menangani sebanyak 100 hingga 150 orang. Baik itu yang minta direhabilitasi sampai yang direhab karena putusan pengadilan. Dan trennya saat ini yang banyak adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun dibandingkan yang dewasa,” ucap Rudhy, usai acara pembukaan Rumah SOS.

Namun yang ia sayangkan kesadaran lingkungan pada pelaku penyalahgunaan narkotika masih rendah. Banyak masyarakat yang cenderung menjauhi pengguna narkotika. Bukan malah mencoba untuk membawanya ke tempat rehabiilitasi.

Untuk itu, sebagai mantan pengguna narkotika yang sudah sembuh, Rudhy dan kawan lain di Yayasan Orbit ingin membantu para pecandu narkotika untuk bisa sembuh.

“Sebagai mantan pengguna kami memiliki sense of belonging yang menjadikan kami lebih dekat dengan mereka dan mencoba membantu mereka untuk bisa lepas dari candu narkotika,” kata Rudhy.
Menurutnya, ada beberapa tahapan untuk bisa direhabilitasi di Rumah SOS ini. Yang pertama adalah dilakukan assesment pada pengguna. Assesment ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan kecanduan pada pengguna.

“Berikutnya kami melakukan perencanaan terapi. Jadi kami tidak langsung direct teraphy, tapi kami lakukan komunikasi juga ke mereka berapa kali harus ketemu dengan psikolog,” ulasnya.

Di rumah SOS ini disediakan tenaga medis. Mulai dokter, pendamping konselor, psikiater, psikolog dan juga pekerja sosial. Jumlahnya ada sekitar sebelas orang. Pengguna yang menjalani rehabillitasi di sini lewat rawat jalan atau dengan rawat inap.

“Di sini kami memiliki kapasitas 50 bed. Siklus rehab kami ada tiga bulan. Setiap tiga bulan itu kami evaluasi untuk setiap peserta rehab,” ucap Rudhy.

Selama menjadi rehabilitasi di sini, Rumah SOS tidak mematok biaya tertentu. Mereka juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial, namun untuk kuota sebanyak 40. Namun pihaknya menjamin bagi warga miskin yang memiliki Surat Tanda Miskin tidak akan dikenai biaya untuk menjali rehabilitasi.

http://surabaya.tribunnews.com/2017/07/21/bangun-rumah-sehat-yayasan-orbit-bantu-rehabilitasi-pengguna-narkotika?page=all


Nb: Sedikit revisi untuk siklus program rawat inap ada 3bulan untuk rawat inap dilanjutkan 2bulan halfway house dan sebulan aftercare. Untuk rawat jalan melalui 12 kali pertemuan dengan berbagai agenda termasuk konseling dan sebagainya.

Pengguna Narkoba Pada Kaum Hawa Terbilang Tinggi, Mayoritas Masih SMP, Ini Penyebabnya


Kriminal - 18 Juli 2017, 06:19:48

FAJARONLINE.COM -- Jumlah perempuan pengguna narkoba di Surabaya khususnya sabu-sabu, terbilang tinggi.

Mayoritas masih duduk di bangku SMP. Alasannya tidak masuk di akal. Hanya takut dibilang enggak kekinian.

Maraknya pengguna sabu-sabu tersebut terlihat setidaknya dalam dua tahun terakhir. Data BNNK Surabaya menunjukkan, perempuan dengan status pelajar mendominasi. 

Meski demikian, data yang dikeluarkan BNNK Surabaya tersebut dianggap bukan data yang riil.

Pembina Yayasan Our Right to Be Independent (Orbit) Surabaya Rudhy Wedhasmara mengungkapkan, populasi nyatanya bisa mencapai sepuluh kali lipat.

Sebab, pengguna perempuan termasuk dalam hidden population. ''Mereka benar-benar menutup diri untuk kalangan profesi, pekerja, ataupun pelajar," jelas pria kelahiran Nganjuk itu.

Namun, jumlah perempuan pengguna yang dewasa masih kalah dengan remaja. Penyebabnya, salah pergaulan.

Mayoritas remaja perempuan yang menggunakan narkoba mengaku terpengaruh oleh temannya.

''Kalau tak mencoba, mereka diejek," ujar Kepala BNNK Surabaya AKBP Suparti.

Mereka diejek tidak gaul. Tidak kekinian. Hal itu yang membuat anak mudah terpengaruh. Mereka tidak ingin dijauhi teman-temannya. Kondisi tersebut diperparah oleh suasana rumah yang tidak kondusif.

Beberapa pecandu mengaku berasal dari keluarga broken home. Koordinator Komunitas Perempuan Pengguna Napza Surabaya Ike Sartika mengungkapkan, pengguna remaja secara kualitas masih rendah. 

Para remaja perempuan masih mengonsumsi pil koplo atau dobel L. Alasannya, harganya murah. Sesuai kantong.

Namun, justru dari dobel L itu, petualangan di dunia barang haram tersebut dimulai.

Simak, ini Pengakuan Penderita HIV di Surabaya


SURYA.co.id | SURABAYA - HIV/AIDS menjadi ancaman bagi setiap generasi muda.

Seks bebas serta penggunaan jarum suntik secara bergantian saat mengonsumsi narkoba, adalah beberapa cara penularannya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, drg. Febria Rachmanita menuturkan, Surabaya menjadi kota keempat terbesar dalam hal penderita HIV/AIDS di Indonesia.

Crybie, salah satu penderita HIV/AIDS asal Surabaya menceritakan pengalamannya sehingga terkena HIV/AIDS pada Surya.co.id, Rabu (3/5/2017).

Saat ini Crybie menjalani hidupnya bersama sang istri dan satu anaknya yang bebas HIV/AIDS.
"Saya mengikuti program di RSUD Dr Soetomo. Alhamdulillah meski saya positif HIV, istri dan anak saya bebas," tuturnya.

http://surabaya.tribunnews.com/2017/05/03/video-simak-ini-pengakuan-penderita-hiv-di-surabaya 

Mantan Pecandu Narkoba Sepak Bola di League of Change 2017

 
 Konfernsi pers menjelang digelarnya League of Change 2017. Foto: Totok suarasurabaya.net

suarasurabaya.net - Bekerjasama dengan Yayasan Orbit Surabaya, Dispora Surabaya, BNN Kota Surabaya menjadwalkan pertandingan street soccer bertajuk League of Change 2017 yang secara khusus bakal diikuti para mantan pecandu narkoba.

AKBP Suparti Kepala BNN Kota Surabaya menyampaikan bahwa kegiatan street soccer ini merupakan bagian dari pembinaan kepada para mantan pengguna dan pecandu narkoba untuk berekspresi ditengah masyarakat khususnya dibidang olah raga.

"Sejatinya kegiatan street soccer ini merupakan sebuah upaya kami untuk menghilangkan stigma serta diskriminasi masyarakat kepada para mantan pecandu narkoba. Kami ingin memberikan ruang ekspresi bagi mereka ini untuk bisa memulai hidup sehat. Ini juga bagian dari pembinaan," terang Suparti.

Kegiatan positif ini mendapat respon positif juga dari Kepala Dispora Surabaya, yang menyatakan bahwa generasi muda memang diharapkan memberikan yang terbaik bagi masyaraat disekitarnya juga bagi masyarakat dalam pemahaman lebih luas.

"Mereka yang pernah menggunakan atau menjadi pecandu narkoba kami harapkan untuk bisa memiliki hidup yang lebih bersih, dan kegiatan positif semacam ini menjadi aktivitas yang perlu didukung," ujar M. Afghani Wardhana kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Surabaya.

Sementara itu disampaikan Rudhy Wedhasmara Ketua Pelaksana League of Change 2017, bahwa kegiatan yang memang diharapkan mampu menghilangkan stigma serta diskriminasi masyarakat pada mantan pecandu narkoba tersebut nantinya akan digelar rutin setiap tahun.

"Ini kali kedua digelar, dan kami berharap ajang pembuktian bahwa mantan pecandu narkoba juga masih punya harapan untuk hidup lebih baik dan lebih sehat kepada masyarakat ini bisa digelar rutin setiap tahun. Diluar negeri ada kompetisi khusus Homeless World Cup yang diikuti kaum termarjinalkan seperti para mantan pecandu narkoba ini," pungkas Rudhy.

Tercatat sekurangnya 13 provinsi di Indonesia diantaranya, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa tengah dan Makassar, menyatakan kesediaannya untuk hadir dan mengikuti turnamen sepak bola bergaya street soccer ini. Di Surabaya sendiri pembukaan League of Change 2017 dilaksanakan pada 1 Mei 2017.(tok)

Lowongan Kerja Tenaga Lapangan Tahun 2016



ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

TENAGA LAPANGAN (Kode: TL)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : Oktober 2016 – Mei 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau/ organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  4. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  5. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  6. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  7. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain
  8. Memiliki kendaraan bermotor dan surat ijin mengemudi
Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 30 September 2016, Pkl 16.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 26September 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 27 September 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 3 Oktober 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 4 Oktober Mei 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 5 Oktober 2016

Lowongan Kerja Tenaga Lapangan 2016



ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation

Yayasan Orbit merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkonsentrasi terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat pelaksanaan rencana strategi organisasi periode tahun 2013 - 2018, membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut:

TENAGA LAPANGAN (TL)
Lokasi kerja : Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo
Durasi kerja : Juni 2016 – Mei 2017 (dapat diperpanjang)
Type kerja : Kontrak

Kualifikasi :
  1. Minimal SMU dan sederajat
  2. Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis bidang permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal 1 tahun
  3. Memahami sistem kesehatan, birokrasi pemerintahan terutama pada penyedia layanan kesehatan, pemulihan adiksi dan atau di bidang Napza dan HIV-AIDS
  4. Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur pemerintahan
  5. Mampu bekerjasama sebagai tim, melakukan pendokumentasian dan komunikasi yang baik
  6. Mampu membuat laporan, tulisan/artikel pendek secara baik
  7. Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
  • Gelar pendidikan
  • Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
  • Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
Surat lamaran di alamatkan ke kantor pusat Yayasan Orbit melalui pos di Jalan Bratang Binangun 5C No 19 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 27 Mei 2016, Pkl 17.00 WIB dengan ketentuan:
  • Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
  • Surat Lamaran
  • Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
  • Foto terbaru
  • Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
  • Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan (sertifikat, rekomendasi, dll)
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke orbit.foundation@yahoo.com dengan ketentuan tidak lebih dari 1MB dengan judul email sesuai kode.

Proses lowongan kerja:
  • Publikasi lowongan kerja di website, mailing list, jejaring sosial dan kerja: Tanggal 22 Mei 2016
  • Seleksi administrasi: Tanggal 23 Mei 2016
  • Panggilan wawancara dan test oleh Yayasan Orbit: Tanggal 30 Mei 2016
  • Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 31 Mei 2016
  • Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit : Mulai tanggal 1 Juni 2016