Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in

Orbit Update News

Suparno Kerap Terima SMS Ancaman

Share this history on :
Suparno

SURYA.co.id |SURABAYA - Bas (35) awalnya tidak peduli ketika divonis mengidap HIV. Mantan pecandu narkoba ini justru miris mengetahui bahaya HIV setelah mendapat sosialisasi tentang penyakit itu.

Dari situ dia mulai tergerak ikut menyelamatkan orang lain agar jangan sampai mengalami seperti dirinya.

Dari penampilan, Bas terlihat sehat. Rambut gondrong rapi dipadu dengan pakaian trendi, membuatnya tampak gaul.

“Saya ingin membantu mencegah penularan HIV/AIDS,” demikian alasan ia bergabung di Yayasan Orbit.

Ia juga cekatan dalam tugas sebagai koordinator lapangan.

Hingga kemarin, ia belum pernah bercerita kepada keluarga tentang penyakit yang diidapnya. Ia lebih berkonsentrasikan pada pendampingan ODHA.

Sebagai petugas lapangan, dia sering mendatangi ODHA. Tugas dirasa berat setelah penutupan lokalisasi.

Ia harus rajin terjun ke lapangan untuk penyuluhan sekaligus pemeriksaan terhadap mereka yang rawan HIV/AIDS.

Petugas lapangan Yayasan Orbit lainnya, Suparno mengatakan, datang ke lokasi rawan HIV/AIDS adalah tantangan. Ia sering ditolak oleh pengelola tempat hiburan malam.

Ia juga berulangkali diusir petugas keamanan tempat hiburan malam, meski sudah mengantongi surat izin dari Dinas Kesehatan.

“Saya juga sering diteror lewat SMS. Tapi, kami harus datang ke tempat-tempat hiburan itu untuk penyuluhan dan pemeriksaan HIV/AIDS. Meski bukan pasien HIV/AIDS, saya memang peduli dengan kegiatan sosial ini,” katanya.

Suparno juga terkadang menjadi seperti tukang ojek saat mendampingi ODHA.

Saat menemukan satu pasien, ia langsung mengantarnya naik sepeda motor untuk berobat ke puskesmas. Sebab, kalau tidak dijemput, pasien itu enggan berobat.

“Kalau pasiennya lebih dari satu, biasanya saya sewa angkot untuk mengantar mereka ke puskesmas. Kami memang harus aktif agar mereka mau berobat,” ujarnya.

Para aktivis bukan hanya di Yayasan Orbit. Di Unit Perawatan Intermediate dan Penyakit Infeksi (UPIPI) RSUD dr Soetomo, Surabaya juga ada Kelompok Dampingan Sebaya, yang sejak 2010 mendampingi ODHA.

Di UPIPI, hampir setiap hari hadir Har (45), aktivis Kelompok Dampingan Sebaya. Cak Di, panggilan akrabnya, sehari-hari tinggal di ruang UPIPI RSUD dr Soetomo sejak 2005.

Penampilan pria bertubuh subur itu sederhana. Bercelana jins pendek, kaus oblong, dan bersandal jepit, di pundak terselempang tas kecil hitam.

"Saya pulang ke rumah belum tentu tiga bulan sekali. Malah terkadang sampai satu tahun tidak pulang," katanya mengawali perbincangan.

Cak Di biasanya tidur di bangku di depan ruang UPIPI RSUD dr Soetomo. Kalau ada pasien yang harus rawat inap dan tidak ada keluarganya, biasanya dia yang menjaga di ruangan.

Ia mengurus semua keperluan pasien selama di rumah sakit.

Dia sudah tidak risih lagi membantu membersihkan luka di tubuh pasien HIV/AIDS. Padahal, Cak Di bukan pengidap HIV.

"Saya hanya merasa kasihan dengan mereka. Karena tidak banyak orang yang mau memperhatikan mereka," katanya.

Kiprahnya di dunia HIV/AIDS berawal ketika bosnya yang berkewarganegaraan Jerman divonis mengidap HIV. Sebagai sopir pribadi, ia sering mengantarkan si bos berobat ke RSUD dr Soetomo.

Saat itu, di RS dia menyaksikan sendiri banyak pasien lain HIV/AIDS yang tanpa didampingi keluarga.

Apalagi, ketika itu akses masuk ke poli khusus HIV/AIDS masih sulit.

Belum lagi sikap diskriminatif para dokter maupun perawat terhadap pasien HIV/AIDS.

"Dari situ saya tergerak ingin membantu mereka. Saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Saya ikhlas melakukan pekerjaan ini. Ternyata rezeki tetap ada," ujarnya. (haorrahman/samsul hadi)

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2015/12/01/suparno-kerap-terima-sms-ancaman

Thank you for visited us, Have a question ? Contact on : info@orbit.or.id
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...

0 comments:

Post a Comment