Our Right To Be Independent | Members area : Register | Sign in

Orbit Update News

Polisi Harus Paham Tangani Tahanan HIV/AIDS

Share this history on :
Jurnal Nasional, 1 November 2010

KEPOLISIAN harus memahami cara menangani tahanan narkoba yang terinfeksi HIV/AIDS. Sebab, polisi banyak yang kurang tahu tentang hal ini.

Koordinator Unit Perawatan Intermediet dan Penyakit Infeksi RSU dr Soetomo, Erwin Astha Trijono dalam pertemuan dengan jajaran kepolisian Surabaya di Surabaya mengungkapka, penanganan tahanan HIV/AIDS di kepolisian sangat jarang terjadi. Sebab, polisi belum memahami bagaimana cara penanganan tahanan tersebut ketika menjadi tersangka.

“Tahanan kadang dibiarkan sampai kemudian drop, barulah dibawa ke rumah sakit. Ini terjadi karena polisi tidak paham apa obat HIV/AIDS, sehingga membawa obat HIV/AIDS (ARV) di dalam tahanan dianggapnya sebagai narkoba,” katanya.

Menurut Erwin, penanganan tahanan yang terinfeksi HIV/AIDS ini harus disamakan dengan tahanan lainnya. Hak-haknya juga harus dipenuhi, seperti hak minum obat terapi ARV. “Yang menyedihkan, kadang tahanan yang terinfeksi HIV/AIDS dibiarkan ketika drop, sehingga bisa menyebabkan kematian,” katanya.

Menurut Erwin, masyarakat umum juga sering mempeerlakukan diskriminasi terhadap mereka yang terinfeksi HIV/AIDS. “Sebenarnya polisi dilarang mengungkap status tahanan yang terinfeksi HIV/AIDS. Tapi sampai saat ini masih banyak polisi menyebut tahanannya berstatus HIV,” kata Erwin saat memberikan pelatihan polisi tentang keberlangsungan layanan kesehatan bagi tahanan polisi di Hotel Fortuna Surabaya, Jumat (29/10).

Ditambahkan, seorang tahanan yang terinfeksi HIV/AIDS juga tidak perlu diberi ruangan khusus atau diisolasi. Tahanan yang positif terjangkit, kata Erwin juga berhak mendapat perlakuan sama selama proses penyidikan berlangsung dan tidak perlu serta tidak harus disendirikan. Sebab, penularan virus HIV/AIDS ini hanya terjadi lewat hubungan seks tanpa kondom dan sharing jarum suntik. “Ngobrol saja tidak bisa tertular. Bahkan makan bersama atau mandi bersama juga tidak bisa menular,” katanya.

Sementara itu, data dinas kesehatan Kotas Surabaya menunjukkan, angka kasus HIV/AIDS di Surabaya selama luma tahun terakhir terus meningkat. Tahun 2006, total angka kasus HIV/AIDS di Surabaya mencapai 1175. Tiap tahun terus bertambah. Bahkan, Oktober 2010 ini mencapai 2520.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit (PP) Dinkes Surabaya, Ponconugroho Bangun Fajar mengatakan, dengan meningkatnya jumlah penemuan kasus HIV/AIDS di Surabaya ini sebenarnya sangat bagus. Penanggulangannya bisa mudah. “Yang lebih berbahaya itu ketika tidak terdeteksi,” katanya.n Witanto
Thank you for visited us, Have a question ? Contact on : info@orbit.or.id
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...

0 comments:

Post a Comment